Rabu, 10 Juni 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Tribunners

Batubara Bagai Musik Dangdut versi Reggae

Irama dangdut lebih mulia buat orang kampung ketimbang mutiara hitam alias batubara yang katanya untuk menambah PAD.

Tayang:
Editor: Fransina Luhukay
Oleh A Iskandar
Warga Balikpapan

POLA
bisnis adalah strategi jitu melihat peluang pasar agar setiap usaha dapat meraup untung yang sebesar besarnya yang terkadang apa yang dilakukan bertentangan dengan nurani, karena banyak hal dilakukan menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisi tersebut.

Lagu dangdut sebagian orang dianggap lagu kampungan, namun mereka tahu banyak orang yang jadi jutawan karena lagu dangdut. Mereka tahu itu namun enggan mengakuinya karena masalah gengsi bahkan takut pada lawan lawan tertentu karena telah dianggap berseberangan jalan.

Karena tergiur menjadi jutawan maka timbulah ide mengubah irama dangdut menjadi irama reggae supaya lebih energik dan lebih menarik bahkan bertaraf dunia. Wah hebatkan! Suatu ide yang brilian, banyak produser, sutradara bahkan sang pencari muka (kameraman dan fotografer) sangat serius mendukung bahkan harus secepatnya diproses, itu katanya.

Pencipta versi reggae dengan bangga menepuk dada. Hahaha, inilah aku sang penyihir mampu menyulap mata mereka dengan iming iming warna merah (uang) harga sebuah bungkusan yang didalamnya tersimpan segala bencana yang menakutkan.

Mereka hanya melihat bagian depan wajahku yang bagaikan gadis belia yang ranum menimbulkan nafsu untuk dipeluk. Itu hanya tipuan, karena sebenarnya aku adalah setan sundal bolong yang siap menerkam mangsanya dan menebarkan aroma busuk dan kehancuran dibelakangku. Naudjubillahimin jalik… sadarlah wahai manusia yang punya hati nurani.

Ternyata irama dangdut lebih mulia buat orang kampung ketimbang mutiara hitam alias batubara yang katanya untuk menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) menyejahterakan masyarakat sekitar bahkan terangkat di tingkat dunia sebagai wilayah pengasil Sumber Daya Alam  (SDA) yang beraneka ragam. Hebat, apakah kenyataannya demikian? Wallahualam bissawab, sebagai penulis yang tidak mempunyai disiplin ilmu yang cukup untuk menilaipun masih meragukan. Mari kita lihat saham batubara untuk masyarakat dan pemerintah Kaltim.

1. Meningkatnya sedimentasi dasar Sungai Mahakam minimal 2 cm pertahun, nantinya akan membutuhkan biaya besar pengerukannya.
2. Rontoknya jembatan akibat seringnya ditabrak ponton bahkan menelan jiwa dan harta benda masyarakat, dan dibiayai pemerintah cukup besar dana yang dikeluarkan.
3. Ribuan daratan yang dilubangi menjadi danau ,dana reklamasi sekian persen raib entah di rekening mana? Bahkan lubang danau telah menelan jiwa masyarakat.
4. Hancurnya infrastruktur jalan dan jembatan serta banjir setiap saat mengancam Kota Samarinda dan sekitarnya.
5. Merahnya muka para pembuat kebijakan yang dicaci maki masyarakat dengan segala sumpah serapahnya.

Mari kita gunakan akal sehat untuk kepentingan yang lebih besar,bukalah hati dan nurani terhadap teguran Allah SWT. Pada sabda alam lewat jeritan penderitaan orang orang tanpa dosa, yang akan semakin mengerikan jika tidak dihentikan dari sekarang. Mohon maaf bukan membangkitkan antipati terhadap kebijakan yang tidak manusiawi, walau telah beradaptasi kehidupan dengan dunia modern di Balikpapan namun darah keturunan Kenyah pedalaman Muara Benangak ulu Mahakam sana masih mengalir dalam tubuh ini.

Dalam menghentikan musibah nenek moyang kami  masih menggunakan etika yaitu bermusyawarah, apabila buntu gunakan angin kalau itupun tidak mempan harus mengayau atau memenggal kepala sebagai tumbal persembahan. Sekali lagi mohon maaf ini hanya sekadar ilustrasi, semutpun bila terjepit dia akan menggigit.

Sebagai warga Balikpapan yang sangat mencintai kedamaian,lingkungan yang indah dan asri dengan pepohonan yang memberikan kesejukan, hidup berdampingan yang saling pengertian walaupun Balikpapan dihuni masyarakat heterogen dari berbagai daerah dan suku,dengan slogan kubangun kujaga dan kubela harus tertanam dalam jiwa bukan terucap di bibir saja.

Kita harus hormati dan hargai perjuangan para bapak walikota kita yang terdahulu diantaranya Bapak Tjutjup yang pencinta keindahan dengan tamannya, dan Bapak H Imdaad Hamid, SE yang berkomitmen tidak akan memberikan ruang untuk pertambangan batubara. Kita juga masih punya kebanggaan lagi dengan sikap Ketua DPRD Burhanuddin Solong yang menolak dengan tegas kehadiran tambang batubara walaupun diiming imingi miliaran dan saham dalam perusahaan tersebut.

Walau masih abu abu sikap Anggota Komisi III DPRD Balikpapan Sabaruddin Panracalle yang cukup merespon tentang kehawatiran masyarakat tentang CBM dengan mengundang Executive (Pemkot) untuk membahas masalah ini apakah betul aman bagi lingkungan dan tidak berdampak ke masyarakat. Sedangkan pihak eksekutif dan legislatif telah sepakat menolak tambang batubara dengan cara apapun.

Di sinilah letak inti permasalahan karena bentuk penambangan tidak ada jalan, maka bentuk pemanfaatan gas methane yang diusulkan dengan dalih tanpa menimbulkan dampak baik lingkungan.

Hanya versinya saja yang berbeda namun  hakekatnya sama saja nanti pada ujungnya akan menggaruk tambangnya.  Kekhawatiran Direktur Sentra Program Pemberdaayaan dan Kemitraan Lingkungan (Stabil) Jufriansyah  sangat beralasan. Menurutnya ini sebagai pintu masuk saja yang akan memperkaya segelintir orang dengan alibi menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kebanggaan Balikpapan juga punya Sumber Daya Alam (SDA).

Saat ini beberapa instansi terkait sibuk merumuskan siapa nanti yang mengelola proyek CBM ini jika VICO hengkang. Setelah habis kontrak 30 tahun yang akan datang, yakinlah hanya tulang belulang saja yang tersisa sebagai kenangan, dagingnya telah habis dibawa pulang ke negerinya. Semua itu telah tersusun dengan sempurna.

Secara spesifik gas methane yang dihasilkan oleh batubara belum terdengar gaungnya kecuali gas dihasilkan dari pengeboran minyak dengan kedalaman tertentu. Dan menjadi pertanyaan besar jika yang selama ini yang kita tahu batubara terkenal dengan singkapan. Artinya berada di permukaan dan yang terdalampun hanya ratusan meter.

Mungkinkah nanti dalam explorasi dibiarkan dan dilewati begitu saja? Hanya tikus yang pikun membiarkan kacang yang enak  terbongkar dari dalam tanah. Jika Coal Bad Methane (CBM) dapat dimanfaatkan pada kedalaman 3.000. meter dari permukaan tanah kenapa hal tersebut tidak dilakukan di Samarinda dan sekitarnya yang telah terbuka dan dibebaskan.

Sebagai masyarakat hanya bisa berkeluh kesah,terpulang jualah pada penentu kebijakan ,semoga tulisan ini ada manfaatnya karena apa yang kita lakukan hari ini akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT. Saya yakin Bapak Rizal Efendi selaku Walikota Balikpapan tidak menciderai hati warganya. Karena sebelum jadi walikota begitu giat membina warga menghijaukan lingkungan dan menanam pohon. Menolak CBM tidak membuat Balikpapan menjadi miskin. Bila menerimapun akan menambah persoalan baru yang semakin rumit. Kubangun Kujaga dan Kubela. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved