Kisah Bidan Agnes di Pedalaman Boven Digul, Papua

Ia bahkan menikmati dan tertantang menolong kebiasaan persalinan berisiko yang masih dilakoni masyarakat pedalaman Papua.


Memotong tali pusar bayi menggunakan parang, pisau dapur, sampai pecahan kaca itu biasa dilakukan masyarakat di pedalaman,” kata Agnes.

Peralatan seadanya memunculkan faktor risiko infeksi yang dapat mengakibatkan kematian bayi ataupun si ibu. Perdarahan dan infeksi menjadi penyebab langsung utama kematian ibu melahirkan.

Masyarakat di pedalaman juga masih memegang tradisi melahirkan harus di luar rumah utama. Darah dari persalinan dianggap sebagai darah kotor yang tidak boleh mencemari rumah. Jika sampai setetes darah itu mengenai rumah utama, dipercaya kesialan atau musibah akan terjadi.

Keluarga itu, misalnya, akan susah mendapat buruan rusa di hutan atau ikan di rawa. Karena itu, adat setempat menekankan, perempuan hamil harus bersalin di luar rumah. Biasanya si ibu dibuatkan pondok dari ranting kayu seadanya di halaman belakang rumah atau di hutan.


Ibu dan bayinya baru boleh kembali ke rumah setelah benar-benar bersih. Persalinan itu biasanya dibantu dukun beranak atau orangtua. ”Biasanya setelah seminggu melahirkan, baru ibu dan bayinya dibolehkan masuk rumah,” ungkap Agnes.


Ketika hendak mencegah praktik itu dan menolong persalinan dengan keahlian kebidanannya demi keselamatan bayi dan si ibu, ia justru dilarang dengan alasan adat dan tradisi. Namun, Agnes berkeras tetap mendampingi persalinan dan bersiap-siap jika terjadi kemungkinan terburuk.


”Mereka jarang memanggil bidan. Kalaupun ada warga yang memanggil bidan, tetap tidak mau dibantu,” ujarnya.

Ia pernah diminta membantu persalinan, tetapi baru dipanggil setelah kepala si bayi mulai keluar. Ia bersyukur persalinan berjalan baik sehingga ibu dan bayinya selamat.

Pendekatan dan penyuluhan kesehatan pun ia lakukan. Seiring dengan berjalannya waktu, upaya itu berhasil. Masyarakat di tempatnya bertugas mulai percaya kepadanya untuk menolong setiap persalinan.

Panggilan jiwa

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved