Bukan Tempat Amoral Pengusaha di Nunukan Minta Kebijaksanaan

Manejer Friend's Nine Ball Aan meminta Pemkab Nunukan memberikan kebijaksanaan agar rumah biliar tetap dibiarkan buka selama Ramadhan.

Bukan Tempat Amoral Pengusaha di Nunukan Minta Kebijaksanaan
Tribunkaltim.co/arif fadillah
ILUSTRASI - Nindiya Fitria Marselia, atlet olahraga biliar Balikpapan 

TRIBUNKALTIM.CO, NUNUKAN-  Manejer Friend's Nine Ball Aan meminta Pemkab Nunukan memberikan kebijaksanaan agar rumah biliar, tempat usahanya tetap dibiarkan buka selama Ramadhan.

Ia memastikan, tempat usahanya itu bukan tempat amoral.

Untuk meyakinkan jika tempat usaha dimaksud bukan tempat amoral, Aan mengajak tribunkaltim.co untuk melihat langsung kondisi rumah biliar yang sekaligus tempat pijat refleksi di simpang tiga Ahmad Yani-Bhayangkara-Pasir Putih itu.

Ia menjelaskan, rumah bilair tersebut memiliki dua ruangan VIP.
 
Namun di ruangan ini murni digunakan untuk olahraga. Pihaknya juga memiliki ruangan pijat refleksi terbuka yang pekerjanya laki-laki.

"Di sini bukan tempat maksiat. Perjudian juga tidak ada. Ini hanya sarana olahraga. Minuman keras tidak ada, yang kita jual cuma minuman ringan. Terkadang ada minuman dari luar, pengunjung yang bawa. Kita tidak bisa apa-apa. Tapi intinya di sini hanya sarana olahraga dan refleksi," ujarnya.

Aan  juga memastikan, Friend's Nine Ball merupakan satu-satunya rumah biliar yang punya izin usaha dan izin keramaian di Kabupaten Nunukan. Pihaknya juga proaktif membayar pajak.

Permintaan agar tetap buka selama Ramadhan dianggap sebagai permintaan yang wajar. Sebab di sejumlah daerah di utara Kaltim, biliar tetap dibiarkan buka selama Ramadhan.
 
Hanya saja diakui jadwal buka yang diatur.

"Kami siap kalau dikurangi jam beroperasi. Kalau malam sesudah jam terwih. Terus siang buka jam 12 tutup jam empat. Kami meminta Kalau ada kesempatan kita diberikan, mengingat pekerja kita posisi merkea menjadi tanggungan keluarga. Masing-masing punya tanggungan keluarga. Ada yang lakinya bermasalah, di penjara," ujarnya.

Hingga hari ini pihaknya belum mendapatkan pemberitahuan pasti, waktu harus menutup biliar.
 
Dalam Instruksi Bupati Nunukan, rumah biliar dan tempat hiburan lainnya harus tutup sehari sebelum Ramadhan hingga sehari sesudah Idul Fitri.

"Kita belum tahu hari pertama puasa, kapan?. Kalau memang instruksinya begitu mau tidak mau kita ikuti. Tetapi kami masih berharap diberikan kebijaksanaan," ujarnya.

Ia mengakui, apapun yang menjadi keputusan pemerintah tidak bisa ditentang. Namun disatu sisi ia juga menyayangkan, karena pengambilan keputusan yang menjadi dasar keluarnya instruksi bupati dimaksud tidak melibatkan para pengusaha.

"Rapat, kami tidak pernah diundang sudah dua tahun ini. Kalau kita ikut rapat, jauh hari sudah disampaikan kita siap. Kita menghargai orang Muslim menjalankan ibadah agama. Tapi karena ini sarana olahraga, apalagi di Tarakan dan daerah lain tetap buka, kita juga meminta kebijaksanaan," ujarnya.
Editor: Fransina Luhukay
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved