Kisruh Demokrat
Anas Harus Bicara dengan Ruhut
"Saya berharap Anas bertemu dan berbicara dengan Ruhut. Kalau ada yang bicara pecat Ruhut ya jangan dulu dong," kata Yahya Sacawirya
"Saya berharap Anas bertemu dan berbicara dengan Ruhut. Kalau ada yang bicara pecat Ruhut ya jangan dulu dong.
Itu urusan internal yang harus kita selesaikan secara jernih dan
kekeluargaan," ujar anggota Dewan Penasihat Partai Demokrat, Yahya
Sacawirya, Rabu (19/12/2012), di Jakarta.
Ruhut, lanjutnya,
sudah lama berjuang untuk Demokrat. Sebagai senior, Yahya mengaku kerap
mengajak Ruhut berdialog manakala ada tindakan Ruhut yang kurang baik.
"Saya tetap punya keyakinan Ruhut itu darahnya masih biru," ucap anggota
Komisi I DPR itu.
Sebelumnya, Anas enggan mengomentari rotasi
kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) partainya yang menyebabkan
Ruhut digeser dari posisinya sebagai Ketua Departemen Komunikasi dan
Informasi. Saat ditanya wartawan, Anas mengaku hanya mau membahas
hal-hal yang penting.
"Yang kita bahas yang penting-penting
dulu, yang kurang penting kita bahas minggu depan," ujar Anas, Sabtu
(15/12/2012) lalu dalam jumpa pers di sela-sela acara Silaturahmi
Nasional (Silatnas) Partai Demokrat di Sentul International Convention
Center (SICC), Bogor, Jawa Barat.
Tidak hanya Anas yang tak
mau berkomentar soal Ruhut. Susilo Bambang Yudhoyono selaku Ketua Dewan
Pembina pun sama sekali tidak menyebut kasus Ruhut dalam pidato
pengarahannya di acara Silatnas hari kedua itu.
SBY hanya menyoroti soal
upaya konsolidasi partai dan penggunaan dana logistik Pemilu yang
halal. Padahal, Ruhut sempat menyatakan bahwa yang berhak untuk
mencopotnya dari kepengurusan Partai Demokrat hanyalah SBY.
Ruhut
juga menuding bahwa pencopotannya dari kepengurusan partai dilakukan
oleh "badut-badut" Anas. Ia merasa dicopot lantaran meminta Anas yang
kerap disebut terkait kasus korupsi untuk segera mengundurkan diri agar
tidak menjadi beban Demokrat.