Tribunners / Citizen Journalism
Tribunners
Katakan Tidak Padahal Korupsi
Kampanye Demokrat anti korupsi "Katakan Tidak Pada Korupsi", eh kenyataannya "Katakan Tidak Padahal Korupsi".
Dosen Universitas Mulawarman
Euforia penyambutan tahun baru 2013 mulai nampak. Jejeran penjual jagung, mercon (kembang api), trompet mulai menghiasi sepanjang trotoar-trotoar jalan.
Masih sangat pagi, hari terakhir tahun 2012 lalu, saat saya mampir di Warung Kopi terletak pada ujung gang kecil di Jalan Bung Tomo Samarinda Seberang. Sambil memesan lontong sayur dan secangkir teh manis, saya mengambil tempat duduk yang paling pojok, karena beberapa tempat duduk telah diisi oleh beberapa tamu yang berpakaian seragam merah dan pada logo pakaian mereka tertulis salah satu perusahaan.
Sambil menikmati teh hangat dan lontong sayur, sembari mengikuti dan mencermati apa yang didiskusikan oleh mereka yang berseragam merah, ternyata topik yang dibincangkan terlahir dari seorang tokoh politik (salah seorang wakil ketua DPRD tingkat I Kalimantan Timur) yang terpampang pada sebuah kalender.
Di bawah foto tersebut terdapat tulisan "Calon Pemimpin Kalimantan Timur". Bak seorang pemimpin sidang, bung Agus mengawali dengan meminta tanggapan terhadap kapabiltas sang tokoh yang ada pada kalender. Ternyata gaung bersambut, kelima temannya cukup antusias menyambutnya.
Arman memulai dengan mengomentari track record partai yang memproduksi kalender tersebut. "Partai ini bagus kok, anggotanya alim-alim, selalu shalat berjamaah, jika ada kebakaran, paling duluan datang di lokasi untuk membantu, rajin berdakwah ke mana-mana, tentu calon yang diusung pasti amanah, dan kalau Kaltim dipimpin oleh pemimpin yang amanah, tentu akan memprioritaskan kesejahteraan rakyatnya, termasuk kesejahteraan kita, UMR akan dinaikkan lagi, betul kan?..kan?..kan?".
Andra langsung menimpali, "Ha..ha...ha..., jangan mimpi di siang bolong, untuk mendapatkan pemimpin yang amanah era sekarang, ibarat mengharapkan gajah dapat masuk ke lubang jarum". Emang kenapa? Tanya Ani yang satu-satu karyawati yang ikut ngopi di pagi itu. Angge nyambung obrolan sambil menjawab pertanyaan Ani. "Emang Ani, benar apa yang dikatan Andra. Kenyataan yang tidak terbantahkan, kebanyakan politisi kita, kalau masih dalam tahap membutuhkan suara rakyat, janjinya muluk-muluk, manis-manis, mampu meninabobokan rakyat, tapi giliran pada saat mereka sudah mendapatkan suara rakyat, sudah dinyatakan menang, sudah lolos jadi anggota dewan, janji mereka terlupakan, sikap cuek bebek mendominasi kehidupan keseharian mereka. Kalaupun dikritik, merekapun cukup berkomentar pendek, saya kan beli suara kalian, tidak gratis."
Gumam saya dalam hati saat obrolan terhenti, tiba-tiba saja Angga kembali bersuara."Saya lebih setuju dengan pendapat Arman, pemimpin yang amanah pasti akan menepati janji-janjinya. Persoalannya, bagaimana cara untuk mengantarkan para tokoh yang amanah ini untuk menjadi pejabat penentu kebijakan. Lewat pemilihan, belum memungkinkan. Pemilihan kita sekarang, sangat dominan melahirkan pejabat yang punya modal besar, yang mampu nego dengan partai-partai pengusungnya. Kepentingan para elit masih sangat dominan dalam menentukan figur pejabat. Coba kita tengok pilpres 2009 yang lalu, partai-partai yang berbasis Islam kalau bersatu untuk mengusung figur pemimpin yang sidiq, tabligh, amanah, dan fatonah, memungkinkan karena total suara cukup menurut UU Pemilu. Tapi hal ini tidak dilakukan. Para elitnya menggiring partai ke Demokrat untuk mengusung SBY-Budiono dalam bingkai koalisi.
Mungkin para elit partai-partai Islam saat itu, terpesona dengan kampanye Demokrat anti korupsi "Katakan Tidak Pada Korupsi", eh kenyataannya "Katakan Tidak Padahal Korupsi".
Karena begitu asyiknya saya mendengar obrolan yang berseragam merah ini, tanpa terasa lontong sayur dan teh manis sudah habis dilahap. Selanjutnya saya beranjak dari tempat duduk sambil memberikan uang sepuluh ribu kepada Pak Jufri, pemilik warung, sambil mengucap kepada tamu-tamu tadi, "Selamat pagi, semoga pada Pilgub Kaltim tahun depan bisa menelorkan pemimpin yang amanah. Amin," ujarku. (*)