Rabu, 10 Juni 2026

Samarinda

BEM FKIP Unmul Gagas Bimbel Gratis Khusus Pelajar Pinggiran Samarinda

Difokuskan di wilayah terpencil Samarinda seperti Berambai, Loa Kumbar, Sungai Kapih, Bukuan dan Lempake yang jauh dari pusat kota.

Tayang:
Penulis: Doan E Pardede | Editor: Fransina Luhukay
SAMARINDA, tribunlkaltim.co.id - Kaltim merupakan salah satu provinsi terkaya di Indonesia yang masuk dalam 5 besar penerima APBN terbesar. Maka sudah seharusnyalah pembangunan di Kaltim mengalami pertumbuhan yang cepat di berbagai sektor terutama pendidikan.

Menurut Wahyudi, Wakil Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unmul Samarinda, realita di lapangan, ternyata masih banyak terdapat sekolah-sekolah "laskar pelangi" di Kaltim. Mulai dari sarana dan prasarana pembelajarannya yang tidak memadai bahkan bisa dikatakan tidak layak. Termasuk masalah kurangnya minat guru yang mau mengajar di daerah terpencil.

Ini tersebar mulai dari wilayah perbatasan di Sebatik sana hingga wilayah ibu kotanya sendiri, Samarinda. Ini juga menurutnya sesuai Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat dan tentunya program ini tidak mengganggu aktivitas perkuliahan relawan pengajar. Apalagi, momentum UAN sudah semakin dekat.
"
Terlalu banyak bila harus kita tunjuk satu persatu sekolah mana sajakah itu. Karena saya pikir, masyarakat sudah lebih tahu persis kondisinya. Tinggal bagaimana kita tanggap untuk melaporkannya ke pemerintah," kata Wahyudi, Selasa (22/1/2013).

Berangkat dari kondisi tersebut, BEM FKIP mencoba menggagas, mengkonsep dan merancang sebuah gerakan mengajar yang berbasis pada mahasiswa FKIP yang ada di Unmul.

"Kita terinspirasi dengan model Gerakan Indonesia Mengajar yang digagas oleh Anis Baswedan yang sukses berekspansi hingga ke 18 provinsi. Ribuan relawan berbasis sarjana lulusan S1mengajar di berbagai pelosok-pelosok negeri ini," katanya.

Namun, program yang sedang digagas ini cukup di Samarinda saja. Difokuskan di wilayah terpencil Samarinda seperti Berambai, Loa Kumbar, Sungai Kapih, Bukuan dan Lempake yang jauh dari pusat kota. Didaerah ini, tidak ada sama sekali bimbingan belajar, yang berbayar sekalipun. Kedepannya, bila memang mendapatkan dukungan, bukan tidak mungkin wilayah terpencil di Kaltim akan tersentuh.

Berdasarkan amatannya, jumlah mahasiswa FKIP di Unmul menempati urutan pertama sebagai mahasiswa terbanyak. Tiap tahunnya mahasiswa baru mencapai 1.300 orang. Danlebih 3.000-an mahasiswa aktif yang kuliah di Fakultas ini, belum lagi yang hampir lulus.

"Cukup 5 persen saja dari 3.000 mahasiswa atau 150 orang saja, diberdayakan untuk mengabdikan diri di daerah-daerah pelosok di luar aktivitas perkuliahannya dengan model gerakan mengajar untuk siswa-siswi SD-SMA di luar jam pembelajaran di sekolah. Bisa berupa bimbingan belajar secara rutin dan gratis dengan dukungan dana dan fasilitas
Disdik Kaltim dan kota serta perusahaan," katanya.

Saat ini menurutnya, BEM FKIP sedang  dalam tahap pemantapan untuk perumusan dan perapian konsep teknis di lapangan dan grand design. Selain itu juga, pihaknya sudah berkomunikasi dengan pemerintah dalam hal ini Disdik Kaltim.

"Kita akan mencoba berkordinasi hingga pada tahapan open recruitment bagi relawan pengajar yang siap mengabdi," katanya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved