Samarinda
Kultur Masyarakat jadi Tantangan Pembangunan Infrastruktur di Kaltim
Diperlukan perencanaan yang matang dan terintegrasi dalam penyusunan program prioritas infrastruktur yang akan dibangun.
Penulis: Rafan Dwinanto | Editor: Fransina Luhukay
Kehadiran anggota DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) Kaltim ini dalam
rangka soft launching Kafe Pyramid Palace. Dalam perbincangan tersebut,
Hetifah pun mengakui pembangunan infrastruktur di Kaltim belum berjalan
seperti yang diharapkan. Padahal alokasi Anggaran Pendapatan Belanja
Negara (APBN) yang dikucurkan untuk infrastruktur di Kaltim telah
meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
"Sudah meningkat dua kali lipat. Tapi itupun ternyata belum mencukupi," tutur Hetifah.
Beragam
kendala pembangunan khususnya jalan pun dibeber. Diantaranya, harga
material tinggi lantaran tidak diproduksi di Kaltim, luas wilayah
Kaltim, hingga struktur tanah di Kaltim.
"Belum lagi berbicara kualitas jalan di Kaltim yang hanya kelas III. Itupun dilintasi kendaraan yang mengangkut sawit maupun batubara," jelas Hetifah.
Problem lain datang dari sulitnya pembangunan akibat kultur
masyarakat yang kerap menyulitkan proses pembebasan lahan. "Masalah
ganti rugi dan lainnya. Tapi kita tidak boleh menyalahkan masyarakat,
karena mungkin kulturnya begitu. Justru ini menjadi tantangan bagi
pemerintah yang harus diselesaikan," paparnya.
Hetifah juga menyoroti lemahnya penyerapan anggaran dalam pembangunan
infrastruktur. "Seperti pembangunan pembangkit di Tarakan yang belum
selesai hingga kini. Padahal anggarannya sudah disetujui pusat. Ini juga
yang menjadi masalah," katanya lagi.
Kuncinya, kata Hetifah, diperlukan perencanaan yang matang dan terintegrasi dalam penyusunan program prioritas infrastruktur yang akan dibangun. "Perencanaannya harus matang. Pemda, Pemprov, dan Pusat juga harus sinergi dalam menentukan skala prioritas," ungkapnya.