Nunukan
GOR Sungai Sembilang Belum Dialiri Listrik PLN
Gelanggan Olahraga (GOR) Sungai Sembilang, Kecamatan Nunukan Selatan hingga kini belum dialiri listrik PLN.
Hal
ini sedikit menyulitkan aktivitas
beberapa cabang olahraga yang berkeinginan menggunakan fasilitas tersebut
terutama di malam hari. Tidak hanya saat latihan, terlebih lagi jika kebetulan
ada even resmi yang digelar. Sehingga pada malam hari hampir tidak ada aktivitas
sama sekali di kawasan GOR Sungai Sembilang tersebut.
Tidak tersedianya fasilitas listrik PLN tersebut juga berdampak terhadap kemungkinan terjadinya tindakan kriminal di area GOR seperti risiko pencurian aset GOR, hingga praktek-praktek asusila yang dilakukan oknum-oknum tertentu akibat gelapnya situasi di kawasan GOR Nunukan.
Beberapa cabang olahraga yang mangaku sangat kesulitan dengan tidak adanya fasilitas listrik PLN diantaranya Pengcab PBVSI, PBSI, PERBASI, dan Pengcab FPTI yang baru saja sukses menggelar Kejuaraan Daerah se-Kalimantan Timur 19-25 Mei 2013 silam.
Panitia pelaksana Kejurda terpaksa mengeluarkan dana ekstra untuk mensukseskan acara Kejurda tersebut bisa berlangsung dengan sukses, demi menjaga nama baik Kabupaten Nunukan.
Pihaknya terpaksa menggunakan fasilitas genset GOR yang tersedia dengan konsekuensi bahan bakar solar harus cukup tersedia. Sedangkan ketersediaan solar sangat terbatas di Kabupaten Nunukan. Kondisi genset sendiri terkadang tidak stabil sehingga juga berpengaruh kepada kinerja sound sistem yang terkadang ngadat.
Humas KONI Nunukan Farid Amiruddin melalui siaran pers kepada tribunkaltim.co.id mengatakan, dari sisi lain penggunaan genset yang dimilki GOR Nunukan tentu tidak efektif dan efesien dari sisi coast maupun maintenance. Karena sebenarnya peruntukan genset sifatnya hanya untuk kondisi emergensi, misalnya tiba-tiba ada pemadaman listrik PLN.
Pemakaian mesin genset secara terus menerus tentu akan berisiko mempercepat usia kerja mesin itu sendiri.
Dalam waktu dekat, tepatnya mulai 28 Juni 2013 mendatang, Kabupaten Nunukan kembali mendapatkan kepercayaan dari Pengprov Taekwondo Kalimantan Timur sebagai tuan rumah Kejuaraan Daerah (Kejurda) Taekwondo se-Kalimantan Timur.
“Seperti yang kita ketahui sistem penjurian pada olahraga taekwondo menggunakan layar TV sebagai sarana informasi nilai yang diraih atlet. Sehingga dibutuhkan aliran listrik yang cukup dan stabil seperti juga yang dibutuhkan perangkat sound sistem selama pertandingan,” ujarnya.
Sebenarnya selain persoalan listrik di GOR Nunukan, beberapa fasilitas lain juga butuh pembenahan. Diantaranya kondisi railing pembatas penonton di beberapa bagian sudah tidak kokoh lagi sehingga berisiko menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan jika ada penonton yang bersandar. Belum lagi kondisi toilet yang bermasalah pada suplai air bersih. Hal lain yang juga membutuhkan pembenahan adalah kondisi atap GOR yang bocor di beberapa titik sehingga saat hujan tetesan air akan membasahi lantai lapangan.
"Lebih baik rusak karena memang sering digunakan, daripada rusak karena tidak dimanfaatkan,” kata Bupati Nunukan sering berpesan.
Sejumlah pihak berharap ada keseriusan dari Pemerintah Kabupaten Nunukan melalui instansi berwenang untuk melakukan langkah kongkrit agar fasilitas GOR tersebut bisa termanfaatkan secara maksimal.
Ini jelas berkaitan erat dengan nama baik Kabupaten Nunukan dimata tamu-tamu yang akan datang dari luar Nunukan. Tentu menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat Nunukan jika beberapa fasilitas pribadi milik masyarakat yang usia bangunannya jauh lebih muda dari fasilitas GOR misalnya, namun sudah bisa dialiri listrik PLN. Padahal GOR merupakan fasilitas umum yang diperuntukkan bagi peningkatan prestasi olahraga Kabupaten Nunukan.