Sosialisasi Penanganan Mamalia Terdampar

Kaltim Perlu Tim Penyelamat

KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan menggelar Sosialisasi dan Pembentukan Gugus Tugas Penanganan Mamalia Terdampar

KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan (KKP), Dirjen Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil menggelar Sosialisasi dan Pembentukan Gugus Tugas Penanganan Mamalia Terdampar di Hotel Le Grandeur, Balikpapan, Selasa (3/9/2013). Acara ini digelar selama dua hari hingga hari ini, untuk praktek penanganan mamalia terdampar. Kalimantan Timur (Kaltim) termasuk salah satu lokasi dengan jumlah kejadian mamalia terdampar cukup sering, setidaknya satu tahu sekali. Sayangnya, hingga saat ini, belum ada tim yang secara khusus menangani masalah ini.

Perairan Kaltim merupakan habitat mamalia dari keluarga Cetacean, yakni paus dan lumba-lumba. Belakangan makin banyak mamalia itu yang terdampar ke pesisir. Berdasarkan data Yayasan Konservasi, Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) kejadian mamalia terdampar di Kaltim mulai ditemukan tahun 1997. Di Kutai Timur tepatnya di perbatasan Sekrat dan Jepu, seekor sperm whale atau dalam bahasa Indonesia disebut paus sperma (Physeter macrocephalus) yang ditemukan dalam keadaan mati. Pasca-kejadian tahun 1997 tersebut belum ada lagi catatan mamalia terdampar hingga tahun 2004.

Kejadian mamalia terdampar kembali ditemukan tahun 2004. Lagi-lagi seekor sperm whale ditemukan mati di kawasan timur laut Pulau Maratua, Kabupaten Berau. Selanjutnya, setelah itu hampir setiap tahun ditemukan mamalia terdampar. Dr Daniella Kreb, peneliti RASI mengatakan, "Antara tahun 2004-2013 12 ekor Cetacea dipastikan terdampar di pesisir dalam keadaan mati. Atau jika dirata-rata hampir setiap tahun ada satu ekor mamalia yang terdampar di pesisir dalam keadaan mati. Hanya dua ekor saja yang hidup."

Tahun 2007, ada seekor sperm-whale terdampar dalam keadaan hidup di Karang Malalungan, Berau. Selanjutnya juga 1 Mei 2012 lalu, seekor lumba-lumba hidung botol terdampar dalam keadaan hidup di Teluk Balikpapan. Bahkan akhirnya, mamalia yang bernama latin Tursiops aduncus ini berhasil dikembalikan ke laut oleh Dinas Pertanian, Peternakan Perikanan dan Kelautan bersama masyarakat setempat.

Dengan berbagai kejadian mamalia terdampar inilah, penting kiranya dibentuk gugus tugas untuk penanganannya. Sebelumnya, KKP telah melaksanakan sosialisasi sekaligus pembentukan gugus tugas seperti ini di Bali dan Nusa Tenggara Timur. "Hingga saat ini, Kaltim belum memiliki tim penanganan apabila terjadi mamalia terdampar. Saya berharap nantinya sosialisasi ini akan berlanjut dengan pembentukan tim di masing-masing kabupaten/kota yang mempunyai pesisir," kata Ir Chaidar Chairulsyah, Kepada Dinas Pertanian Kelautan dan Perikanan (DPKP) Kota Balikpapan.

Diakuinya, salah satu kelemahannya adalah kekurangan sumber daya manusia (SDM) untuk penanganannya. Oleh karenanya perlu ada dibentuk adanya gugus tugas penanganan pengendalian dan penyelamatan mamalia. Agar nantinya ketika ada kejadian atau ada indikasi akan terjadi, sudah diketahui tugas-tugas masing-masing, artinya siapa berbuat apa. Gugus tugas ini nantinya juga akan melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, institusi di daerah perairan dalam hal ini Angkatan Laut dan Polisi Air dan Udara (Polairud). Dengan demikian diharapkan ketika terjadi akan lebih cepat penanganannya.

Dalam acara yang digelar selama dua hari ini selain sosialisasi di hari pertama kemarin, juga akan disertai dengan praktek yang dilaksanakan hari ini. Ada dua materi praktek hari ini, yakni memindahkan mamalia terdampar dengan menggunakan tandu dan matras dan memindahkan mamalia ke perairan dengan perahu. (*)

Editor: Sumarsono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved