Sosialisasi Penanganan Mamalia Terdampar

Prioritaskan yang Paling Mungkin Selamat

KEBERADAAN tim khusus penanganan mamalia terdampar sudah dibutuhkan di Kalimantan Timur (Kaltim)

KEBERADAAN tim khusus penanganan mamalia terdampar sudah dibutuhkan di Kalimantan Timur (Kaltim), mengingat di sepanjang pesisir Kaltim insiden tersebut sudah terjadi secara rutin. Tim ini diperlukan terutama untuk kejadian terdampar hidup, sehingga mamalia dapat dikembalikan ke laut dengan selamat. Kesalahan saat penyelamatan dapat mengakibatkan kematian. Karena itu diperlukan sebuah tim penyelamat dengan seorang leader agar prosesnya terkoordinasi dengan baik.

Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) mengungkapkan, sekitar 67 persen kejadian mamalia terdampar di Kaltim akibat terjerat rengge (jaring nelayan). Meski kejadiannya terjerat rengge, namun itu juga termasuk kejadian mamalia terdampar. Menurut Yanti, dari www.whalestrandingindonesia.com yang juga menjadi salah satu pemateri dan instruktur dalam kegiatan ini, kejadian terdampar yang dimaksud bukan hanya mamalia laut yang terdampar di darat. "Tapi juga ketika terjebak di perairan dangkal, atau dapat dikatakan dalam kondisi tidak berdaya sehingga tidak memiliki kemampuan untuk kembali ke habitat alaminya dengan usahanya sendiri," katanya.

Kejadian di Kaltim menurut Dr Putu Liza Mustika, dari Conservation Internasional (CI) Indonesia adalah yang paling tinggi. "Kaltim datanya yang paling sering. Tetapi, data itu juga berhubungan dengan usaha yang dilakukan. Lebih sering mengamati, lebih sering mencatat maka datanya lebih banyak. Jadi, belum tentu yang tidak ada datanya tidak ada kejadian," kata wanita yang akrab disapa Icha ini.

Meski diakuinya, saat ini masyarakat sudah memiliki kesadaran untuk melaporkan kejadian yang ditemuinya. Yang diharapkan,tentunya juga kesadaran masyarakat ketika ada kejadian akan ada orang-orang yang siap melakukan penanganan dengan baik dan benar sehingga mamalia yang terdampar hidup dapat dikembalikan ke laut.

Rabu (4/9), hari kedua Sosialisasi dan Pembentukan Gugus Tugas Penanganan Mamalia Terdampar yang digelar Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Dirjen Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil dilengkapi dengan materi praktek penyelamatan dengan beberapa skenario sesuai dengan kemungkinan temuan terdampar. Alat yang digunakan adalah tandu, selimut, dan matras. Selimut yang digunakan sudah dimodifikasi untuk penyelamatan.

Ada dua lubang di bagian atas yang nantinya dipergunakan untuk menempatkan sirip dada. Di bagian pinggir selimut sudah dibuat lubang untuk memasukkan tongkat sehingga langsung dapat dijadikan tandu. Selimut ini dipakai untuk menjaga kelembaban tubuh lumba-lumba. Sedangkan matras digunakan untuk melapisi di bawah selimut agar tubuh mamalia tidak tergores.

Prinsip penyelamatan mamalia ini berbeda dengan prinsip penyelamatan pada manusia. "Kalau untuk manusia, yang paling punya kemungkinan selamat, berarti ditolong paling akhir. Sementara kalau untuk mamalia, yang paling mungkin selamat, itulah yang ditolong lebih dulu," jelas Yanti.

Ketika praktek inilah, para peserta mengingat kembali berbagai prinsip dan materi yang telah diberikan sejak sehari sebelumnya. Praktek dilaksanakan di lokasi sosialisasi, Hotel Le Grandeur, Balikpapan, yakni di kolam renang dan di pantai di bagian depan hotel.

Awalnya, para peserta mulai belajar memasang selimut, mengangkat tandu, dan membawa dalam jarak pendek. Setelah pengenalan alat dan cara kerja dilanjutkan dengan berbagai skenario penyelamatan di kolam renang yang juga sebagai simulasi kejadian terdampar di sawah, rawa, atau air surut. Para peserta mencoba membawa dari air surut untuk dipindahkan ke perairan dalam.

Setelah penguasaan di kolam, praktek selanjutnya dilakukan di pantai. Para peserta terlihat antusias meski harus bergumul dengan pasir atau bahkan menerjang ombak saat penyelamatan dengan perahu. Para instruktur membuat beberapa skenario sesuai materi sosialisasi termasuk penyelamatan jika terjadi mass-stranding dan relokasi dengan menggunakan truk.

Walaupun saat praktek masih ada kesalahan, namun masing-masing peserta belajar dari kesalahannya. Jadi pada skenario lanjutan, kesalahan yang sebelumnya tidak terjadi lagi. "Saya senang karena pesertanya sangat antusias. Mereka datang dan ikut bukan hanya karena disuruh atasan saja, tapi mereka benar-benar ingin belajar. Dari sinilah, mereka belajar tantangannya seperti apa. Meski ini hanya sekelumit, tapi mereka juga merasakan bagaimana sulitnya ketika ada ombak. Termasuk perlu komandonya saat penyelamatan," pungkas Icha. (*)

Editor: Sumarsono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved