Anas: sampai Saya Mundur, Demokrat Tidak Punya Banyak Uang
Anas Urbaningrum, membeberkan apa yang diketahuinya tentang aliran dana Bank Century.
JAKARTA - Mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, membeberkan apa yang diketahuinya tentang aliran dana Bank Century.Anas merasa yakin Wakil Presiden Boediono selaku mantan Gubernur Bank Indonesia (BI), tidak menerima aliran dana Bank Century kendati ada kejanggalan perubahan peraturan BI sebelum bank sakit itu ditolong dengan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) pada 2008.
"Memang kalau dilihat prosesnya, ada yang mengundang pertanyaan, ada yang janggal, ada peraturan yang disesuaikan agar cocok. Apakah itu bisa dijelaskan karena keterpaksaan untuk menyelematkan ekonomi, atau memang peraturan itu dicocokkan untuk justifikasi agar kebijakan itu keluar," ujar Anas di kantor Tribun.
Anas tidak bisa memberikan penjelasan saat ditanya tentang kabar adanya kesepakatan timbal balik kursi RI 2 di balik kebijakan Boediono kepada Bank Century. "Yang bisa menjelaskan itu Pak Boediono," kata Anas.
"Informasi apa yang Anda ketahui tentang dugaan aliran dana Bank Century Partai Demokrat pada saat itu?" tanya awak Tribun.
Dan Anas mengaku tidak tahu banyak tentang keuangan untuk pemenangan partainya pada Pemilu 2009. Sebab, saat itu dirinya di Partai Demokrat menjabat sebagai Ketua DPP Bidang Politik dan Otonomi Daerah.
"Saya enggak tahu, karena saya waktu itu tidak urusi uang. Yang tahu keuangan partai, keuangan pileg seperti apa, itu saya enggak banyak tahu. Kalau saya, soal status uang-uang itu hanya mendengar-dengar saja," kata dia.
Sepengetahuan Anas, tidak ada aliran dana dari Bank Century yang masuk ke Partai Demokrat pada saat Pemilu Legislatif (Pileg) 2009, sebagaimana hasil audit investigasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait skandal Bank Century.
Namun, untuk Pemilu Presiden (Pilpres) 2009, Anas sama sekali tidak mengetahui. "Kalau Pilpres, saya engga tahu, saya belum pelajari. Saya waktu itu Ketua DPP Bidang Politik," kata dia.
Kata Anas, hal itu bisa terjadi karena pemasukan dan pengeluaran Partai Demokrat pada saat itu hanya diketahui oleh beberapa 'orang terpercaya'.
"Saya terpercaya, tapi untuk urusan politik. Saya kan bertarung di wilayah opini. Jadi, soal itu saya tidak punya informasi. Karena kalau pendanaan itu pasti orang-orang yang dipercaya saja," ujarnya.
Yang Anas tahu, bahwa Demokrat menjelang Pileg dan Pilpres 2009 adalah partai yang tidak mempunyai banyak uang. Namun, Partai Demokrat masih bisa melakukan sejumlah kegiatan partai tanpa masalah pendanaan.
"Saya pernah tanya ke Bendumnya (Zainal Abidin), ke almarhum Pak Zainal. Saya tanya, Bendum bagaimana dana, jawabnya, nggak ada. Memang di kas partai sepi, tapi kegiatan yah jalan, pemenangan jalan. Karena itu, saya enggak tahu soal itu apa," ungkapnya.
Anas tidak bisa menjelaskan, apakah uang operasional Partai Demokrat tidak selalu masuk ke kas partai melainkan langsung ke pejabat utama partai.
Yang jelas, kata Anas, Partai Demokrat memang bukan partai yang punya banyak uang sampai ia mengundurkan diri dari partai besutan SBY itu pada 23 Februari 2013 lalu.
"Sampai saya berhenti dari ketua umum, Demokrat ini bukan partai yang kaya. Orang kantor aja enggak punya kan."
Abdul Qodir