Breaking News:

Walhi Minta Pemkab Bulungan Kaji Ulang Bangun PLTA

Rencana pembangunan PLTA di Peso, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara dikhawatirkan akan menenggelamkan dua desa

Penulis: Rafan Dwinanto |
Walhi Minta Pemkab Bulungan Kaji Ulang Bangun PLTA

TRIBUNKALTIM.CO.ID - Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Peso, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara dikhawatirkan akan menenggelamkan dua desa yakni Long Peleban dan Long Leju. Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kaltim Isal Wardhana, Senin (23/12) mendesak Pemkab Bulungan mengkaji ulang rencana pembangunan bendungan untuk PLTA tersebut.

"PLTA berkapasitas 6.600 Megawatt yang akan dibangun di Kecamatan Peso itu memiliki potensi besar menenggelamkan dua desa, yakni Desa Long Peleban dan Desa Long Leju yang dihuni sekitar 700 jiwa," ujar Isal.
Akibatnya, sekitar 700 warga yang bermukim di dua desa tersebut terpaksa direlokasi. Proses relokasi sendiri diyakini Isal akan menghilangkan karakteristik dan budaya masyarakat setempat.

"Pemindahan itu bukan tidak mungkin akan dilakukan secara paksa, sehingga dampaknya adalah mengorbankan masyarakat dan kawasan itu akan kehilangan identitas budaya. Warga akan mendapat tempat tinggal tak layak huni, mendiami lahan yang tak produktif, warga terpaksa eksodus karena pemerintah mengadopsi model liberalisasi ekonomi dan energi," paparnya.

Pembangunan PLTA bernilai investasi sekitar Rp 170 triliun tesebut juga memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. "Dampak negatif tersebut berbanding lurus dengan luas bendungan yang dibuat. Artinya, semakin besar bendungan, semakin besar juga dampak negatifnya terhadap lingkungan," ungkap Isal.

Pembangunan bendungan raksasa untuk PLTA, kata Isal, secara otomatis memerlukan lahan yang luas. Dipastikan, hutan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Kayan akan dibabat untuk kepentingan pembuatan bendungan.
"Rusaknya DAS di Hulu Kayan tentu berdampak hingga ke hilir. Boidiversity (keanekaragaman hayati) DAS Kayan termasuk potensi perikanan di hulu dan hilir akan hilang," jelas Isal.

Dampak negatif lain yang ditimbulkan akibat bendungan tersebut yakni meningkatnya emisi Gas Rumah Kaca (GRK). "Emisi dari penampungan air sebanding atau lebih besar dari hasil pembangkit listrik berbahan bakar batu bara atau gas. Emisi berasal dari akibat pembusukan dari vegetasi dan tanah yang terbanjiri dan dari materi organik yang mengalir ke dalam penampungan dari area tangkap air," urainya.

Isal berharap pembangunan PLTA tersebut kembali dikaji oleh Pemkab Bulungan. Pemkab harus mencermati dampak negatif terhadap lingkungan, sosial dan ekonomi, akibat dari pembangunan PLTA tersebut.

"Harus dikaji lebih dalam. Betulkah listrik tersebut untuk masyarakat. Bagaimana nasib mereka yang direlokasi. Kemudian apa kapasitas listrik yang dihasilkan sesuai rencana. Karena kapasitas listrik yang dihasilkan sangat bergantung dari debit air di Sungai Kayan. Kalau debitnya kecil, listrik yang dihasilkan ikut berkurang," tandasnya. (rad)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved