Jelang Pilpres 2014

Survei Psikolog: Prabowo Lebih Emosional Dibanding Jokowi

Jika diukur dengan angka 1-10, poin stabilitas emosi Prabowo berada di angka 5,16. Sedangkan Jokowi 7,60 dalam hal ketenangan menghadapi persoalan.

Editor: Fransina Luhukay
zoom-inlihat foto Survei Psikolog: Prabowo Lebih Emosional Dibanding Jokowi
TRIBUNNEWS/DANY PERMANA
Dari kiri ke kanan Ketua Himpunan Psikologi Indonesia Jaya Johanes Rumeser, Ikatan Psikologi Klinis Indonesia Suprapti Sumarmo Markam, Ketua Lab Psikologi Politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk, dan Pengajar Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Zainal Abidin menjadi pembicara dalam acara diskusi rilis survei aspek kepribadian Capres dan Cawapres di Jakarta, Kamis (3/7/2014). Penelitian psikologi ini memberikan referensi mengenai aspek kepribadian Capres dan Cawapres kepada pemilih melalui tiga pendekatan, yaitu Analisis Psikobiografi, Analisa Pidato, dan Wawancara Kandidat di berbagai media.

JAKARTA,  tribunkaltim.co.id —Calon presiden Prabowo Subianto dinilai lebih emosional dibanding rivalnya, Joko Widodo. Penilaian itu diberikan oleh sejumlah psikolog dan merujuk pada survei kepribadian pasangan calon presiden dan calon wakil presiden dengan responden para psikolog.

Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia, Hamdi Muluk, menjelaskan, jika diukur dengan angka 1-10, poin untuk stabilitas emosi Prabowo berada pada angka 5,16. Adapun Jokowi 7,60 dalam hal ketenangan dalam menghadapi persoalan yang berat. Sementara itu, cawapres Hatta Rajasa mendapat poin 6,48 dan Jusuf Kalla mendapat poin 7,51.

"Jadi, soal stabilitas emosi, Jokowi relatif lebih stabil dibanding Prabowo," kata Hamdi dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (3/6/2014).

Dalam hal kemampuan menyelesaikan persoalan pelik, poin untuk Jokowi juga lebih tinggi dibanding Prabowo. Jokowi mendapat poin 7,83 dan Prabowo 6,23 poin. Adapun Kalla mendapat poin 7,86 dan Hatta 5,99.

Dalam survei ini, dikaji juga mengenai besarnya motivasi berkuasa untuk masing-masing pasangan capres-cawapres. Di antara Prabowo dan Jokowi, Prabowo dinilai lebih berambisi untuk berkuasa dengan poin 8,64, sedangkan Jokowi diberi poin 6,10.

"Untuk cawapres, Jusuf Kalla lebih berambisi untuk berkuasa dengan 7,31 poin dibanding Hatta Rajasa dengan 7,17 poin," ujar Hamdi.

Dalam kesempatan yang sama, staf pengajar psikologi Universitas Padjadjaran, Zainal Abidin, menilai ada kemungkinan timpangnya hasil survei kepribadian tersebut disebabkan oleh kurangnya informasi dari responden yang seluruhnya adalah psikolog. Secara khusus, ia berkeyakinan bahwa para psikolog tak terlalu mengenal para tokoh yang disurvei, misalnya Hatta Rajasa.

"Saya bukannya membela, tapi bisa saja demikian, apalagi survei dilakukan sebelum debat antar-cawapres," ucap Zainal.

Dekan Fakultas Humaniora Universitas Bina Nusantara, JAA Rumeser, mengatakan, sifat calon pemimpin perlu diketahui oleh publik guna mendapatkan referensi memilih yang sempurna. Akan tetapi, ia berpendapat bahwa ada yang lebih penting ketimbang sifat, yakni perilaku.

"Perilaku memberi contoh, memberi inspirasi, men-challenge proses, membuat orang lain mampu, dan perilaku yang mampu menyentuh hati. Karena menggerakkan itu bukan ke dalam pikiran, tapi ke perasaan," ujarnya.

Di akhir diskusi, Hamdi menyampaikan bahwa dirinya sepakat bahwa kepribadian tak dapat diukur. Ia menjelaskan, semangat dari penelitian ini adalah untuk mengobati kerinduan masyarakat yang ingin mendapat gambaran kepribadian dari masing-masing calon pemimpinnya.

Responden survei ini adalah 204 psikolog dari berbagai latar belakang dan didominasi oleh akademisi. Jumlah 204 psikolog dari seluruh Indonesia dianggap telah mewakili karena 80 persen psikolog berada di Pulau Jawa. Data diambil pada 18-27 Juni 2014.

Karena tak memiliki akses bertatap muka, penilaian dilakukan secara jarak jauh dengan merujuk pada rekaman pidato, rekaman wawancara, biografi, dan peristiwa penting dalam hidup yang dialami masing-masing figur. Mengenai aspek penilaian, tim survei menitikberatkan pada beberapa hal, di antaranya motivasi sosial, sifat, stabilitas emosi, jiwa kepemimpinan, dan cara pengambilan keputusan.

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved