Mayjen TNI Benny Indra Tidur Nyenyak di Penginapan tanpa AC
Bayangan saya semula, kondisinya buruklah. Karena itu, saya tidak membawa pakaian sipil, tetapi pakai tentara. Tetapi kenyataan, ini jauh lebih baik
TRIBUNKALTIM.co.id - Tidur nyenyak di ruangan adem yang menggunakan penyejuk udara atau AC tentu sudah biasa dirasakan orang-orang pembesar. Tetapi terbayangkah anda, seorang perwira tinggi pemegang jabatan bergengsi di tubuh Tentara Nasional Indonesia menginap di wisma sederhana, tanpa AC? Ya, itu nyata pengalaman bagi Panglima Kodam VI/Mulawarman Mayor Jenderal TNI Benny Indra Indra Pujihastono.
"Bayangan saya semula, kondisinya buruklah. Karena itu, saya tidak membawa pakaian sipil, tetapi pakai tentara. Tetapi kenyataan, ini jauh lebih baik. Di sana ada penginapan, dan kami menginap, walaupun tidak ada AC. Di samping kamar saya, Pak Wagub," ungkap Benny saat berbincang dengan jajaran redaksi Tribun di kantornya di Markas di Jalan Jenderal Soedirman, Balikpapan, Senin (3/11).
Pangdam didampingi Kapendam Kolonel Totok Surahmat menerima General Manager Newsroom Tribun Network Febby Mahendra Putra, dan awak redaksi Tribun Kaltim. Jenderal yang mantan Sekretaris Militer (Sekmil) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berbincang ringan dan santai. (BACA:Mau Makan Ayam di Long Apari Bayar Rp 500 Ribu)
Pangdam menceritakan kunjungannya ke Desa Tiong Ohang, Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimatan Timur, pekan lalu.
Pangdam bersama Wakil Gubernur Kaltim H Mukmin Faisyal, Ketua DPRD Kaltim HM Syahrun, Komandan Korem 091/Aji Surya Natakesuma Brigjen TNI Nono Suharsono, pejabat Bupati Mahakam Ulu MS Ruslan dan pejabat lainnya.
Di kawasan ini terdapat 10 desa. Jarak hunian warga dengan perbatasan antara Indonesia dan Malaysia berjarak kurang-lebih 40-60 kilometer. Warga sepuluh desa itulah, akhir Oktober lalu, diiming-imingi pemerintah Malaysia kehidupan yang lebih layak ingin pindah kewarganegaraan. Bahkan, Malaysia siap membuka akses jalan darat dan memasang kabel komunikasi di daerah tersebut.
Adanya peluang ancaman disintegrasi tersebut, membuat TNI sebagai pengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bergerak cepat. Pangdam mengecek dan turun langsung. Ia menemui situasi di lapangan tidak seburuk yang diperkirakan. Saat menemui Pangdam dan rombongan, warga ternyata tidak tergambar ingin memisahkan diri. Terbukti, mereka justru membentang bendera merah putih untuk menyambut Pangdam dan rombongan. (BACA: Warga Long Apari Minta Jatah Lima Orang jadi TNI)
Mayjen TNI Benny menuturkan perjalanannya dan kegiatan bakti sosial tersebut. Rombongan menyalurkan kebutuhan pokok warga. Sebelum bertolak ke wilayah tersebut, jenderal bintang dua ini mempersiapkan berbagai perlengkapan layaknya ketika bertugas di kawasan perbatasan negara.
"Bayangan saya, yang namanya daerah perbatasan pasti kondisinya memprihatinkan dan serba sulit. Seperti di perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan Timor Leste, atau Papua dengan PNG. Pasti nanti tidurnya di tenda atau gubuk. Makanya saya tidak bawa baju preman atau sipil. Ternyata setelah tiba di sana, beda. Masyarakat di sana lebih maju bahkan ada penginapan," kata Benny.
Rupanya situasi tidak seburuk diperkirakan. Sekitar 36 jam berada kecamatan yang berbatasan dengan Serawak-Malaysia itu, Mayjen Benny mengenakan seragam militer. "Saat pertemuan malam hari dengan tokoh masyarakat setempat harus pakai baju batik, saya pakai baju militer," tuturnya sembari tertawa.
Menurut Mayjen Benny, situasi masyarakat setempat memang tengah berada dalam kesulitan. Sebab selama kemarau, enam bulan terakhir, air sungai Mahakam surut dan hanya tersisa sedalam 1,5 meter. Kondisi ini menyebabkan transportasi sungai yang sangat vital bagi masyarakat di perbatasan tidak bisa bergerak dan distribusi sembako pun terhenti.
"Jadi permintaan mereka itu logis. Mungkin mereka punya uang namun tidak ada yang bisa dibeli," tambahnya. Yang memprihatinkan, tuturnya, harga beras di sana yang 25 kilogram seharga Rp 600.000. Bensin satu liter seharga Rp 35.000. Bahkan air bersih pun tidak tersedia karena surutnya sungai.
Selain membawa dan membagikan sembako, Kodam juga membawa obat-obatan dan tim medis serta melakukan pengobatan massal. Sekitar 700 hingga 1.000 warga mendapatkan pengobatan gratis.