Breaking News
Selasa, 7 April 2026

Batik Balikpapan

Batik Balikpapan Bermotif Mangrove, Jahe, hingga Beruang Madu

Pengrajin batik saat ini kewalahan menerima order, karena orderan banyak tetapi pecantingnya kurang. Saat ini baru ada 20-30 pecanting di Balikpapan.

Penulis: Rita Noor Shobah | Editor: Rita Noor Shobah

IDE membuat batik Balikpapan bermula lantaran belum ada ciri Balikpapan dalam batik yang biasa dikenakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kota Balikpapan maupun masyarakat umum. Padahal ada flora dan fauna yang khas Balikpapan yang bisa dijadikan corak dalam batik, seperti mangrove (bakau), jahe Balikpapan, hingga beruang madu.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Balikpapan Hj Arita Rizal Effendi mengutarakan batik Balikpapan kini mulai tumbuh berkembang. "Sejak tiga kali pelatihan batik khas Balikpapan yang kami gelar mulai tumbuh pengrajin batik di sini, seperti Batik Vi, Arnesta Batik, dan lain-lain," tutur Arita. Bahkan, pesanan dari pembeli pun sudah banyak berdatangan.

"Bahkan sekarang para pengrajin kewalahan menerima order, karena orderan banyak tetapi pecantingnya kurang. Saat ini baru ada 20 sampai 30 orang pecanting batik Balikpapan," imbuh Arita. Rumah Kreatif Balikpapan saat ini juga tengah membina pecanting di Kilometer 6 dan Kilometer 5. Kelak, daerah tersebut akan dijadikan perkampungan pengrajin batik.
Pengusaha batik ini muncul setelah ada pelatihan-pelatihan batik yang mereka ikuti dan diselenggarakan oleh Dekranasda. Dengan mendatangkan pelatih batik dari Balai Besar Batik di  Yogyakarta.

"Dekranasda dari dulu sudah mengedepankan adanya ekonomi kreatif. Kami melihat belum ada yang khas dari Balikpapan. Maka dari itu anggaran untuk pameran kami alihkan untuk pelatihan membatik dengan motif khas Balikpapan," tutur Arita.
Ia menjelaskan dalam batik Balikpapan harus berkaitan dengan flora fauna Balikpapan, namun tidak boleh menghilangkan identitas Kaltim, seperti motif Dayak.  "Karena Balikpapan kan bagian dari Kaltim," kata Arita.

Kendati semua pengrajin batik di Balikpapan disarankan untuk mengembangkan motif khas Balikpapan, tetap masing-masing pengrajin memiliki ciri khas masing-masing. "Kami bisa tahu ini karya siapa dan itu karya siapa,  karena mereka memiliki ide yang berbeda-beda, ciri yang berbeda satu sama lain. Sebab namanya ide semua tidak sama dan namanya ide tidak bisa dijiplak, punya ciri khas masing-masing," papar Arita.

Dengan dukungan dari Pemkot Balikpapan, pemasaran pun mulai mengalir. "Pemasaran saat ini kami manfaatkan setiap ada kesempatan dan kegiatan. Kita juga sudah mendapatkan ruang pameran di bandara oleh Angkasa Pura. Kami juga sudah meminta ke Balcony dan Novotel untuk membantu pemasaran batik Balikpapan," papar Arita yang juga giat memasarkan batik karya pengrajin lokal ini di segala kesempatan dan kegiatan.

"Kalau kami tidak promosi, para pengrajin akan santai-santai saja. Kami memang sengaja, walaupun belum ada kegiatan, tapi kami sudah promosikan begitu, jadi mereka akan bekerja dan berusaha lebih keras sendiri," imbuhnya.
Saat ini batik dalam bentuk kain itu dibanderol Rp 490.000 hingga Rp 5 juta tergantung bahan, motif, dan tingkat kesulitan dalam proses pembuatannya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Tags
fashion
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved