Fashion

Batik Vi, Angkat Corak Jahe Balikpapan

Setelah membaca, dan riset Ida menemukan Etlingera Balikpapanensis, jenis jahe-jahean yang hanya terdapat di Hutan Lindung Sungai Wain.

Batik Vi, Angkat Corak Jahe Balikpapan
TRIBUN KALTIM/AMANDA LIONY
Batik Vi Balikpapan 

BATIK Vi adalah salah satu merk batik lokal di Balikpapan. Ida Roy Nirwan adalah orang di balik Batik Vi. Mulai berdiri sejak 15 Mei 2013, bermula dari kecintaannya akan keberagaman hasil budaya Kalimantan. Ida mencoba untuk menggali dan mencari sesuatu yang unik dan khas yang berhubungan dengan Balikpapan. Dan ia pun menemukan motif Etlingera Balikpapanensis, jenis jahe yang hanya terdapat di Hutan Lindung Sungai Wain.

"Waktu itu saya merasa, Balikpapan belum memiliki ciri khas. Apalagi untuk batik, kebanyakan hanya fokus pada motif-motif Kalimantan saja," ungkap Ida yang juga ketua Ikatan Pengrajin Batik Balikpapan (IPBB) tersebut.

Setelah membaca, dan sedikit riset akan ciri khas Balikpapan, Ida menemukan Etlingera Balikpapanensis, jenis jahe-jahean yang hanya terdapat di Hutan Lindung Sungai Wain, yang ditemukan oleh seorang ahli botani asal Denmark, Axel Dalberg Poulsen.

"Saya memilih jahe itu, karena nama latinnya yang menggunakan kata Balikpapan. Apalagi bentuk jahe juga unik dengan bentuk bunga di atasnya, dan cocok untuk motif-motif batik," jawab Ida.

Motif pada Batik Vi pun tak melulu hanya jahe saja, Ida juga mengkreasikan motif jahe dengan motif khas Balikpapan atau Kalimantan lainnya seperti beruang madu, kantung semar, jamur, buah pepaya, buah salak, dan motif Kalimantan Timur pada umumnya.

"Apapun motif yang digunakan entah itu jahe-beruang madu, jahe-buah pepaya, pasti ada jahenya dan juga unsur batik Kalimantan Timur. Karena Balikpapan adalah bagian dari Kaltim, dan motif Kaltim tidak boleh dihilangkan, itu sudah pesan dari ibu Arita (ibu walikota yang juga Ketua Dekranasda Balikpapan)," papar Ida lagi.

Untuk desain seluruh motif Batik Vi semuanya adalah buah pikir dari Ida, selaku pemilik batik Vi, namun dirinya tak menampik kalau dia juga turut dibantu oleh teman-temannya yang juga membantu berjalannya Batik Vi.

"Di Batik Vi, saya dibantu banyak pihak. Mereka teman, sahabat, dan keluarga. Mereka pun membantu saya dalam menjalankan Batik Vi, dengan tugas masing-masing. Untuk urusan desain memang saya, namun mereka juga turut ikut memberikan saya banyak saran," ceritanya.

Ada lima warna yang menjadi ciri Batik Vi, di antaranya merah, hitam, biru, coklat, kuning, namun warna paling dominan adalah merah, mengikuti warna si Etlingera Balikpapanensis. Untuk harga Ida membanderolnya Rp 600 ribu per 2,5 meter untuk semua motif yang di keluarkannya. Namun, untuk pakaian jadi dikenai antara Rp 700 ribu hingga Rp 800 ribu.

Pemasaran pun dilakukan Ida dengan berbagai cara, mengikuti pameran kerajinan tangan, ikut ambil bagian dalam pagelaran peragaan busana, maupun menawarkan produk ke relasi dan teman terdekat.
Ida juga mengakui, setahun lebih Batik Vi berjalan banyak permintaan pemesanan batik terlebih dengan motif jahe. "Jujur kini saya kewalahan. Tapi saya benar-benar puas, kerja keras memperkenalkan batik Balikpapan terbayar," ungkapnya.
Ida sangat mengharapkan, motif jahe yang dicetuskannya tersebut bisa dipakai oleh seluruh pengrajin batik Balikpapan terlepas bahwa motif tersebut adalah dia yang mempeloporinya.
"Saya berharap ini menjadi motif khasnya Balikpapan. Nantinya, siapapun pengrajinnya, motif jahe selalu digunakan. Karena memang itu yang menjadi ciri batik Balikpapan," pungkasnya.

Tags
fashion
Penulis: Amanda Liony
Editor: Rita
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved