Kisah Manusia Perahu

Manusia Perahu Pilih WC Alam

Terbiasa hidup di alam membuat ratusan manusia perahu tak lantas menggunakan fasilitas yang disediakan pemerintah di lokasi penampungan.

Penulis: Rafan Dwinanto |

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB - Terbiasa hidup di alam membuat ratusan manusia perahu tak lantas menggunakan fasilitas yang disediakan pemerintah di lokasi penampungan.

Ratusan manusia perahu tampak tak menggunakan 9 unit WC yang disediakan di Lapangan Bulalung, Tanjung Batu, Derawan, Kabupaten Berau.
"Mungkin karena terbiasa hidup di perahu, jadi mereka lebih memilih bebas buang air," ujar seorang petugas dari Dinas Sosial Berau di lokasi penampungan, Kamis (27/11/2014).

Pantauan TRIBUNKALTIM.CO, manusia perahu baik dewasa dan anak-anak lebih memilih hutan bakau di belakang tenda penampungan sebagai tempat buang air besar. Tak heran, jika aroma tak sedap kerap tercium di sekitar tenda penampungan.Beberapa anak-anak juga terlihat membasuh diri menggunakan air yang ada di sela-sela pohon bakau di sekitar tenda.

Dalam sehari, 500 lebih manusia perahu diberi makan 3 kali dalam sehari. Petugas pun membagi jadwal pembagian makanan ini menjadi tiga gelombang. "Kalau tidak diatur mereka bisa berebut," ucap petugas tadi.

Meski tergolong sederhana hanya nasi dan ikan kaleng, namun para manusia perahu tampak menikmati santapan yang dibagikan.
Di tengah lapangan penampungan terlihat satu tandon air berukuran sedang. Beberapa petugas menumpahkan puluhan galon air ke dalam tandon tersebut. Dalam sekejap, beberapa anak-anak dan orang dewasa berkerumun dan mengantre mendapatkan air minum. "Lupa persisnya berapa galon. Yang jelas satu mobil pikap itu isinya galon dan semuanya ditumpahkan ke tandon," ungkapnya.

Tak banyak aktivitas yang dilakukan manusia perahu dewasa. Para pria hanya terlihat duduk santai ditenda sambil menghisap rokok. Sementara lainnya terlihat tidur-tiduran.

Namun tidak bagi anak-anak. Sinar mentari yang menyengat terik sama sekali tak menyurutkan niat mereka untuk bermain dengan sesamanya. Langkah-langkah kecil tanpa alas kaki, terus dipacu. Sebagian besar diantara anak-anak ini hanya mengenakan celana pendek bahkan ada pula beberapa yang telanjang.

Kerap tertimpa sinar matahari langsung membuat sebagian besar rambut manusia perahu pirang. Entah hingga kapan manusia perahu ini di tampung di Lapangan Bulalung. Hingga kini, Pemerintah Indonesia belum memutuskan nasib 500-an manusia perahu yang berasal dari daerah Sampurna, Malaysia ini. (*)

Ikuti perkembangan berita lainnya dengan Like Facebook TRIBUN KALTIM dan follow @tribunkaltim

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved