Kisah Manusia Perahu

Perahu adalah Rumah Saya

Keinginan para manusia perahu sangat sederhana: ingin kembali menghirup hawa laut lepas seperti yang dilakukan selama ini.

Penulis: Rafan Dwinanto |

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG BATU - Keinginan para manusia perahu sangat sederhana: ingin kembali menghirup hawa laut lepas seperti yang dilakukan selama ini. Meski sederhana, keinginan itu tak tergoyahkan, meskipun saat ditawari hidup layaknya nelayan di Indonesia.

Saat ini ratusan manusia perahu bersama keluarga mereka masih hidup di penampungan di Kecamatan Derawan, Berau, dan setia menanti Keputusan Pemerintah Indonesia terkait masa depan mereka.

"Perahu adalah rumah saya Pak," tegas Douglas saat ditawari hidup ala nelayan Indonesia, oleh penyidik kepolisian yang melakukan pendataan, Minggu (30/11/2014).

Hidup ala nelayan Indonesia yang dimaksud aparat tadi yakni memiliki hunian di darat namun tetap mencari penghidupan di laut. "Pilih tinggal di perahu saja, Pak," kata Douglas, lagi.

Douglas serta beberapa rekannya yang hari itu didata, kompak setuju jika mereka diperbolehkan tinggal di Perairan Indonesia. Selain memiliki kekayaan laut yang melimpah, warga berikut aparat di Indonesia dinilai mereka sangat baik.

"Kalau di Samporna (Malaysia) hasil kita diambil separuh sama polisi. Cari ikan di Filipina dan Samporna susah. Daerahnya sempit. Tidak cukup untuk makan kita," kata Apolo, rekan Douglas.

Potensi kekayaan perairan Berau berikut keramahan aparat keamanan di Indonesia menyebar di kalangan manusia perahu dari mulut ke mulut. Asalnya, dari rekan mereka yang sudah lebih dulu beroperasi di Perairan Berau.

Seperti Sumaleo yang merantau ke Perairan Berau atas ajakan Apolo, iparnya. Semaleo mengaku hanya menumpang kapal milik Apolo dan membantu iparnya ini mencari ikan.

Hasil tangkapan mereka dijual ke pengepul yang berada di Tanjung Batu, Pulau Derawan, maupun pulau lain di Perairan Berau yang berpenghuni.
Semaleo mengaku, dalam sekali transaksi, ia dan Apolo bisa mendapatkan uang sekitar Rp 300 ribu.

Rata-rata, tiap pria dewasa manusia perahu minimal bisa mendapatkan hasil laut berkisar 10 kg setiap harinya. Sementara, uang hasil penjualan tangkapan mereka digunakan untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari seperti ubi, beras, kopi, biskuit, gula hingga, rokok.

Untuk sampai ke perairan Indonesia di Berau mereka bermodalkan kapal kayu berukuran sekitar 10 x 2 meter, yang merupakan kapal induk bagi manusia perahu. Namun mereka yang hanya memiliki sampan juga tetap bisa pergi ke Indonesia dengan cara mengikatkan sampan ke perahu induk yang biasa bermesin dompeng.

Setelah sekian lama beroperasi di perairan Indonesia, manusia perahu yang belum memiliki kapal induk perlahan membeli kapal sejenis ketinting. Untuk perjalanan dengan jarak yang cukup jauh, lagi-lagi kapal ketinting ini harus menumpang ke kapal induk.

Secara umum, cukup sulit berkomunikasi dengan manusia perahu, terutama jika pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan waktu misalnya sudah berapa lama di perairan Indonesia? Berapa umurmu? Umur istri atau anak? Kebanyakan pertanyaan semacam ini hanya dijawab berdasarkan perkiraan saja oleh manusia perahu.

"Sudah tujuh bulan Pak di perairan Indonesia," kata Baburi, rekan Douglas. "Tahunya dari mana kalau sudah tujuh bulan?," tanya penyidik.
"Dari bulan mati Pak," jawab Baburi.

Soal perhitungan waktu, manusia perahu hanya berpatokan pada hitungan kemunculan bulan. Sehingga mereka tidak bisa menjawab persis jika ditanyakan hal yang berkaitan dengan waktu. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved