Kisah Manusia Perahu
Percaya Agama Nenek Moyang
Keterbatasan akses informasi membuat manusia perahu hanya mengerti apa yang diajarkan nenek moyang mereka turun temurun.
Penulis: Rafan Dwinanto |
TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG BATU - Keterbatasan akses informasi membuat manusia perahu hanya mengerti apa yang diajarkan nenek moyang mereka turun temurun. Seiring kerapnya berkomunikasi dengan dunia luar, manusia perahu ini perlahan mulai beradaptasi dengan berbagai hal baru yang ditemui saat singgah ke daratan.
Meski percaya keberadaan Sang Pencipta, namun manusia perahu tampaknya tak mengenal agama. "Agama nenek moyang," jawab Mussa Bulan ketika ditanya agama apa yang dia anut. Mussa Bulan sendiri dianggap Imam (pemimpin atau yang dituakan) kalangan manusia perahu.
Mussa kerap dimintai bantuan memimpin ritual adat seperti pernikahan ataupun upacara pemakaman.
"Ya kalau nikah saya kasih nasihat. Intinya, kalau sudah berkeluarga, semua jadi urusanmu sendiri. Soal rezeki juga jadi tanggung jawabmu," begitu ujar Mussa yang diterjemahkan petugas posko penampungan di Lapangan Bulalung, Tanjung Baru, Kecamatan Derawan Berau.
Begitu pula jika ada yang meninggal, Mussa kerap didaulat memimpin upacara pemakaman. Jika ada yang meninggal, pihak keluarga biasanya mencari daratan untuk mengebumikan jenazah.
"Kalau pulau itu berpenghuni, kita minta izin dulu sama yang punya pulau. Kalau diizinkan kita kebumikan tapi kalau tidak kita cari pulau lain," jelas Mussa.
Seperti halnya manusia, di antara manusia perahu juga kerap terlibat perselisihan. Di sinilah peran Mussa sebagai tetua untuk menengahi. "Kalau ada yang bermasalah saya nasihati. Kalau juga tidak mau nurut ya dikucilkan," sebut Mussa.
Dalam memimpin kelompok manusia perahu, Mussa tidak sendirian. Pria yang berusia sekitar 60 tahunan ini dibantu Almarati. Almarati selalu dipercaya sebagai tetua kala Mussa berhalangan. "Ada Almarati," kata Mussa sambil menghisap rokok dalam-dalam.
Almarati inilah yang diikuti ratusan manusia perahu lainnya hingga ke Indonesia. Meski demikian, Almarati sendiri mengaku tak pernah mengajak langsung koleganya di Sampurna Malaysia, untuk masuk ke Perairan Indonesia di Berau.
"Bukan saya yang ajak. Mereka ikut sendiri. Mungkin mereka dengar saya ada di Bulikukup. Kemudian mereka menyusul satu persatu," jelas Almarati yang cukup lancar berbahasa Indonesia.
Almarati sudah sekitar 4 tahun beroperasi di perairan Indonesia di Berau. Sekitar 2010 lalu, Almarati juga sempat diamankan aparat di Berau lantaran beroperasi di wilayah Berau. Namun kala itu Almarati dilepas dengan surat pernyataan tidak akan kembali ke perairan Indonesia.
Seperti manusia perahu asal Sampurna lainnya. Mussa pun mengaku mengikuti jejak Almarati hingga akhirnya tiba di perairan Berau.
"Katanya ada Almarati di sana (perairan Berau). Kalau mau nyusul saya cuma disuruh mengikuti arah matahari saja. Akhirnya sampai di Berau," tutur Mussa.
Mussa dan Almarati kompak enggan dipulangkan ke Malaysia. Keduanya tak lagi ingin jadi bancakan aparat Malaysia. "Hasil kami diambil 50 persen oleh aparat Malaysia," jelas Mussa.
Keduanya juga tak ingin dikembalikan ke tanah leluhurnya di Bunggau, Filipina. Menurut mereka, perairan Fhilipina ganas, lantaran dipenuhi perompak.
Almarati juga lebih memilih tinggal di perairan Indonesia karena dinilai aman dari gangguan perompak. "Polisi di sini tidak seperti di Malaysia. Lebih baik saya dipukuli di sini dari pada dipulangkan ke Malaysia. Soalnya di sana saya juga pasti dipukuli," pungkas Almarati. (*)