BANJIR SAMARINDA
Catatan Harian Untuk Gubernur Kaltim dari Siswa Kelas 3SD
Ban mobil ibunya kempes karena banjir sehingga tidak menjemput Timur Angin, membuat si anak marah dan menuliskan curhatnya yang menggelitik hati
Penulis: Fachmi Rachman | Editor: Fachmi Rachman
Buku Diary Harian
Diary Setiap Hari =
1. Aku benci Gubernur tidak ngurus Samarinda malah main bangunan dan duit
2.Aku marah juga pada tambang sudah nebang pohon. Masih aja bikin Samarinda rusak, banjir, panas, berdebu
3.Pendapat = Semoga TDK ada monarki pemilihan jika gubernur sama terus
4.Saat hujan dan banjir, jengkel sama Pakde Soli buang limbah aja kerjanya saat banjir
1 Des 2014 09-00
TRIBUN KALTIM.CO, SAMARINDA - ITULAH catatan harian seorang bocah kecil yang muncul di sosial media instagram. Akun "the albahri" mulai muncul ke permukaan, Selasa (2/12) sore. Catatan yang ditulis empat butir. Isinya langsung menohok, tegas, tidak bertele-tele. Isinya mengenai ungkapan rasa si penulis.
Penulis catatan harian itu adalah Timur Angin, anak berusia belum genap 9 tahun. Bocah kelahiran tahun 2005 saat ini tercatat sebagai siswa kelas 3, salah satu sekolah dasar di kota Samarinda.
Menurut Kahar Al Bahri, ayahnya, catatan harian itu murni tulisan sang anak. Dan isi tulisan itu pun benar-benar buah pikiran si anak, tidak karena dipengaruhi orang tua maupun orang lain. Tidak pula diimla, melainkan ditulis sendiri. Dia menuliskan pengalaman pribadi. Kenyataan sehari-hari yang dirasakan anaknya Timur saat harus bersusah-susah melewati banjir untuk pergi ke sekolah.
"Saat mengantar dia ke sekolah, kami selalu melalui kawasan Lembuswana. Dan saat musim, hujan, kami pun berkali-kali terjebak banjir," ujar Ocha, sapaan akrab Kahar Al Bahri, ayah Timur Angin saat berbincang dengan melalui sambungan seluler dengan Tribun Kaltim, Rabu (3/12).
Sejumlah kawasan di Samarinda memang dilanda banjir dampak hujan yang turun lebat Selasa malam. Kondisi ini dihadapi Timur saat pergi dan pulang sekolah, ia salah satu terkena imbasnya. Karena itu, ia spontan bertanya kenapa banjir tidak selesai-selesai. Ocha pun menjawab, "Karena hujan itu tidak ada yang bisa menahan airnya lagi, sebab pohon-pohonnya di hutan habis ditebang."
Setelah melewati kawasan Lembuswana, bapak dan anak ini harus melalui Jalan Ruhui Rahayu untuk menuju sekolah si Timur. Di Jalan Ruhui Rahayu, mereka melintas dari depan rumah Wali Kota Samarinda. "Karena sering lewat dekat rumah wali kota yang selalu sepi dan tidak terlihat aktivitas, Timur pun beranggapan bahwa wali kota tidak bisa melakukan apa-apa terhadap kondisi Samarinda yang selalu kebanjiran," kata Ocha, mantan lembaga swadaya masyarakat Koordinator Jaringan Tambang (JATAM) Samarinda.
Menghadapi situasi tersebut, akhirnya Timur teringat akan janji-janji kampanye Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak. Menurut Ocha, Timur teringat tulisan yang terpampang di baliho atau spanduk di dekat Hotel Victora dan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Lembuswana tentang salah satu visi calon Gubernur Kaltim dalam mengatasi banjir.
Tetapi apa yang didapati Timur, beberapa bulan kemudian, sosok yang dilihatnya di baliho itu tidak kunjung mewujudkan janjinya. Bukan tanpa alasan Timur akhirnya kecewa juga dan berani mendeklarasikan bahwa dirinya membenci Gubernur Kaltim. Timur yang pada hari libur selalu dibawa kedua orang tuanya berolahraga di kawasan Stadion Sempaja dan sering melihat gedung- gedung baru seperti Convention Hall. Melihat kenyataan yang dilihatnya, Timur beranggapan gubernur selalu mendahulukan pembangunan bangunan-bangunan besar dari pada mengatasi banjir.
Kemudian, catatan lainnya, ia kisahkan mengenai pengalaman 1 Desember lalu. Seperti yang tertulis di buku diarynya, Timur menulis empat poin itu adalah saat itu Timur yang baru selesai mengikuti hari pertama ujian semester. Ia harusnya dijemput Nyoman Indrayani, ibunya yang bekerja di kawasan Jalan Antasari.
Namun saat itu Ang panggilan akbrap untuk mama Timur tidak bisa menjemput Timur karena disebabkan ban mobilnya kempes akibat banjir yang terjadi di Jalan Antasari. "Hal inilah yang menyebabkan si Timur marah dan akhirnya menulis di diary tersebut," kata Ocha menjelaskan salah satu alasan pemicu anaknya menulis sedemikian kritis.
Pada poin keempat, Timur juga curhat tentan aktivitas ketua RT tempat tinggal Timur di kawasan Jalan KS Tubun Dalam RT 13 Samarinda yang dipanggil Timur sebagai Pakde Soli. "Pakde Soli ini setiap hujan turun selalu membuang limbah pabrik tahunya di parit yang selalu mengalami luapan saat hujan turun. Dan akibatnya bau limbah tahu yang lewat di parit warga ini menyengat hingga lintas RT," ujar Ocha menjelaskan poin empat tulisan anaknya tersebut
Sedangkan pada poin ketiga yang merupakan pendapat pribadi Timur Angin, Ocha menjelaskan bahwa kata monarki dan apa yang ditulis si Timur tersebut berasal dari Buku komik Treasure Hunting edisi lengkap yang dimiliki anaknya itu. Tapi dari 10 seri buku komik pengetahuan itu, Timur terpukau dengan buku pertama komik tersebut yang mengangkat masalah revolusi Prancis yang muncul akibat kekuasaan monarki. (ami)