PBFC Juara Divisi Utama

Pemuda 20 Tahun Rogoh Rp 3 Miliar untuk Sulap Klub Bola Langsung Juara

Iia menguras tabungan Rp 3 miliar demi membeli dan mengakui sisi klub Divisi Utama, Perseba Super Bangkalan. Dan dalam 7 bulan, langsung juara

Pemuda 20 Tahun Rogoh Rp 3 Miliar untuk Sulap Klub Bola Langsung Juara
GRAFIS / ZAMAN CROCOS
Grafis Pusamania Borneo FC 

Laporan wartawan tribunkaltim.co, hermawan endra wijonarko

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA- Mereka dulunya merupakan suporter dari kesebelasan Persisam Putra Samarinda, sebuah klub yang bermain di kasta Indonesia Super League (ISL). Namun, karena tak sejalan dengan manajemen Persisam, maka sebagian besar pengurus Pusamania memutuskan menjauh dan mendirikan tim sendiri yang kini bernama PBFC.

Tim tersebut didirikan seorang pemuda berusia 20 tahun, Nabil Husein Said Amin, putra dari Ketua Pemuda Pancasila Kaltim, Said Amin. Ia dulunya merupakan Ketua Pusamania pendukung Persisam di Malaysia.

Awalnya, saat hendak mendirikan PBFC, Nabil Husein Said Amin tidak mendapatkan restu dari orang tuanya, terutama sang ayah. Bahkan dia berkorban mengeluarkan tabungannya demi membeli dan mengakui sisi klub Divisi Utama, Perseba Super Bangkalan. Klub tersebut dibelinya dengan harga Rp 3 miliar. (Baca: Ini Daftar Guyuran Bonus Pusamania Borneo FC)

Namun kini, melihat capaian prestasi yang ditorehkan PBFC akhirnya semua keluarganya mendukung langkah besarnya itu, menggeluti dunia sepakbola.

Ketidaksejalanan para Pusamania dengan Persisam bersumber dari masalah dengan pemilik Persisam. Pengurus Pusamania merasa sakit hati karena keberadaannya di klub kebanggan warga Samarinda itu tidak dianggap. Dalam 7 bulan, Pusamania ini menjelma menjadi klub raksasa, yang menjadi juara Divisi Utama Liga Indonesia 2014, dan lolos ke Indonesia Super League 2015. (Baca: Puluhan Pusamania Cukur Gundul Rambutnya)

Bahkan skuad Persisam mengubah jersey mereka menjadi hitam putih saat bermain Stadion Segiri, markas mereka dulu. Warna itu jelas bertolak belakang dengan ciri khas kebesaran yakni jingga.

Rasa sakit hati itulah yang membuat Pusamania memutuskan keluar hingga akhirnya membeli sebuah klub dan mengatur klub itu dengan cara mereka sendiri. Saat ini pengurus PBFC kebanyakan berasal dari pengurus suporter Persisam yang berpindah haluan.

Humas Pusamania, Heldy Abe, menjelaskan menciptakan suporter tentu harus didasari dengan keinginan setiap personal yang bergabung dalam kelompok suporter. Artinya tidak ada paksaan dalam diri masing-masing pribadi.

"Alhamdulillahnya Pusamania Borneo Football Club (PBFC) memiliki basis suporter yang memang fanatik," tambahnya. (*)

Berita Selengkapnya Baca Harian Tribun Kaltim Edisi Jumat, 5 Desember 2014. Lihat grafis ekstrem yang elok dipandang.

BERIKAN KOMENTAR, dan KOMENTAR PENDAPAT AKAN DIMUAT DI KORAN TRIBUN KALTIM

Penulis: Hermawan Endra
Editor: Domu D.Ambarita
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved