Kamis, 11 Juni 2026

Kisah Manusia Perahu

Ratusan Manusia Perahu Dipulangkan Berbekal 2 Ton Beras

Sehari sebelumnya, petugas sempat menggelar simulasi pemulangan manusia perahu. Petugas menempatkan logistik di masing-masing kapal.

Tayang:

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB - Setelah ditampung selama satu bulan di Lapangan Bulalung, Tanjung Batu, Kecamatan Derawan, Pemkab Berau akhirnya memutuskan memulangkan ratusan manusia perahu ke negara asal. Rencana pemulangan manusia perahu sudah diperhitungkan dengan matang.

Sehari sebelumnya, petugas sempat menggelar simulasi pemulangan manusia perahu. Petugas menempatkan logistik di masing-masing kapal. Setiap kapal ditempati 69 orang.

"Simulasi ini bertujuan memastikan kemampuan kapal jika digunakan untuk mengangkut logistik dan manusia perahu, tahan atau tidak," kata Camat Tanjung Batu, Husdiono saat ditemui Tribun di kantornya, Selasa (15/12/2014).

Mereka dibekali logistik 2 ton beras dan 110 dus mi instan untuk bisa bertahan selama beberapa hari bagi 589 orang. Pemkab Berau juga memastikan mesin kapal berfungsi dengan baik. Sejauh ini ada 13 kapal besar dan 35 kapal sedang yang siap diberangkatkan.

Dari 162 kapal, hanya 14 kapal yang diperbolehkan berlayar,  sisanya disita. "Penyitaan kapal untuk memberi efek jera, menghemat BBM sekaligus mempermudah pengawasan," kata Husdiono. Rencananya ratusan manusia perahu dievakuasi dari tempat penampungan ke atas kapal pukul 12.00 Wita tengah malam, Rabu (17/12/2014). (Baca: Manusia Perahu di Berau Dipindah ke Kapal).

Jika tidak ada perubahan mereka diberangkatkan pukul 03.00 Wita atau Rabu (17/12/2014) dinihari menghindari cuaca buruk. Belasan kapal berisi ratusan manusia perahu akan dikawal Kapal Hiu Macan milik Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kapal Hiu Tujuh milik Dinas Kelautan dan Perikanan menuju perairan bebas. Setelah itu para manusia perahu bebas menuju ke manapun kecuali perairan Indonesia.

Kapok ke Berau
Manusia perahu mengaku sangat senang dikembalikan ke laut. Meski hidup bak raja di tempat penampungan namun mereka tidak betah berlama-lama tinggal di darat. Seperti yang dikemukakan tiga orang manusia perahu, Simukuh, Siliam, dan Robel.

Mereka berbincang dengan Tribun Kaltim dibantu penerjemah bernama Ahmad Jais, warga setempat. "Kami ingin kembali ke laut saja. Saya senang kalau boleh pulang. Walaupun kami sebenarnya ingin tinggal tapi tidak diperbolehkan, jadi lebih baik kami pulang," kata Simukuh. Rencananya, mereka akan menuju Samporna, Malaysia.

"Kami juga tidak punya rumah di Samporna, kami tetap tinggal di kapal tapi lebih baik daripada di sini (tempat penampungan) karena tidak ada yang dikerjakan," kata Siliam menimpali. Pengalaman mereka menjelajahi laut, dari Berau menuju Samporna membutuhkan waktu 3 atau 4 hari.

"Tergantung cuaca di laut, kalau cerah bisa tiga hari. Tapi kalau gelombang tinggi bisa bertambah 1 atau dua hari," jelasnya. Manusia perahu lainnya, bernama Robel mengatakan lebih memilih pulang meski dari 14 kapal, tidak semua mesin nyala. Biasanya, jika ada kapal yang tidak memiliki mesin atau mengalami kerusakan mesin mereka menambatkan kapalnya ke kapal lain yang kondisi mesinnya masih bagus. (Baca: Filipina Akui Manusia Perahu).

Ketiganya mengaku jera datang ke wilayah Berau. "Kami sudah kapok, kami tidak akan datang lagi ke sini. Lebih baik kami hidup di laut daripada hidup di darat tapi seperti tahanan," tandasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved