Produksi Rumput Laut di Kaltara 3 Ton per Hari
Namun persoalan utama kegiatan ekspor di Kaltara bukanlah tentang pasar, namun lebih kepada persoalan pengiriman (akomodasi) yang belum maksimal.
TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Dampak penguatan nilai tukar dolar terhadap rupiah telah memberikan keuntungan yang lebih besar terhadap kegiatan ekspor komoditas unggulan Kaltara khususnya di sektor perikanan, perkebunan, dan pertambangan Migas dan Batu Bara. Hanya saja, dampak positif pada kegiatan ekspor belum sepenuhnya dibarengi peningkatan kualitas dari sektor hulu.
Risdianto, Kepala Biro Ekonomi Setprov Kaltara saat ditemui Tribun di Kantor Gubernur Kaltara, Rabu (24/12) menjelaskan, menghadapi kondisi ini jelas diperlukan kebijakan dan strategi bagi penguatan ketersediaan infrastruktur, serta peningkatan inovasi dan kreativitas industri-industri pengolahan khususnya sektor non-Migas.
"Selain penguatan dalam infrastruktur, kreativitas industri-industri pengolahan selama ini di sektor hulu, kita upayakan di sektor hilir, sehingga ada nilai tambah dari suatu produk. Bagaimana upaya kita sekarang ke depan melalui penelitian atau studi dan mencari nilai tambah produk agar bisa memunculkan daya saing," kata Risdianto saat ditemui di Kantor Gubernur Kaltara (24/12).
Ia menyebutkan, selain mencoba mengupayakan ekpor produk unggulan dari berbagai sektor, juga ke depan akan dilakukan pengupayaan peningkatan usaha pengolahan di masyarakat. Selainnya, pemerintah mencoba mengupayakan fungsi Bank Pengkreditan Rakyat (BPR) untuk memenuhi modal para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
"Pelatihan kepada UMKM untuk meningkatkan produksi usahanya juga harus dilakukan. Kita kan banyak UMKM di Kaltara, dan UMKM ini pada umumnya tahap terhadap goncangan-goncangan perekonomian dunia," ujarnya.
Pihaknya juga mengakui, persoalan utama kegiatan ekpor di Kaltara bukanlah tentang pasar, namun lebih kepada persoalan pengiriman (akomodasi) yang belum maksimal. Ke depan kata dia, persoalan ini akan ditangani dengan mencari pengusaha yang bergerak di bidang perkapalan demi mendorong proses ekspor komoditas.
"Contoh rumput laut sekarang sampai 3 ton perhari. Tetapi persoalan yang selama ini belum kita tuntaskan adalah tentang penjualan, terutama di sisi kapal untuk pengangkutan. Itu kita mencoba mana pengusaha yang bisa bergerak di bidang perkapalan untuk mendorong proses ekspor. Selama ini justru lebih mudah dan murah lewat Tawau dibanding ekspor harus lewat Surabaya dan Jakarta," ujarnya.
Langkah lain sambungnya mengangkut proses pengiriman yang menelan biaya cukup besar. Tentu ke depan jelasnya, harus disiapkan alat press untuk memaksimalkan daya tampung barang yang pada akhirnya mampu menekan biaya ekspor.
"Kemudian, industri pengolahan rumah tangga. Contohnya hasil proses rumput laut, udang, dan komoditas lainnya ini kan masih mentah, padahal banyak yang bisa bisa diolah. Di situlah peran kita bagaimana UMKM justru ditingkatkan, karena secara riil bersentuhan langung dengan kegiatan masyarakat," tandasnya. (*)