PDAM Kutim Rugi Miliaran Rupiah karena Genset
Jika merujuk pengalaman tahun lalu, kebutuhan operasional PDAM dalam setahun berkisar Rp 42 miliar. Sedangkan pendapatan yang diterima hanya Rp 29 M
Penulis: Syaiful Syafar |
TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA - Sebagian besar produksi air PDAM Kabupaten Kutai Timur masih mengandalkan mesin genset. Akibatnya, perusahaan merugi hingga miliaran rupiah. Dalam setahun, biaya pemakaian solar untuk genset mencapai 68 persen dari operasional PDAM atau berkisar Rp 20 miliar.
“Hampir semua instalasi kami nggak pakai listrik. Ini yang membuat PDAM semakin kolaps. Kecuali Kecamatan Bengalon, siang hari kita sudah menggunakan listrik, tapi malam hari kembali pakai solar. Kemudian di Muara Wahau juga baru dipasang instalasi listrik, mungkin dalam waktu dekat bisa digunakan,” ungkap Direktur PDAM Tirta Tuah Benua, Aji Mirni Mawarni, Minggu (1/2/2015).
Selain terkuras untuk biaya pemeliharaan, pemasukan PDAM juga diposkan untuk biaya pegawai dan biaya bahan kimia. Sementara harga jual air ke pelanggan masih relatif murah.(Baca juga: Daftar Tunggu Sambungan PDAM di Sangatta Capai 1.300).
Jika merujuk pengalaman tahun lalu, kebutuhan operasional PDAM dalam setahun berkisar Rp 42 miliar. Sedangkan pendapatan yang diterima hanya Rp 29 miliar.
“Ketika dirata-ratakan dalam bentuk kubikasi, harga pokok air bersih kita Rp 7.000/kubik. Tapi harga jualnya cuma Rp 5.000/kubik. Jadi ada selisih Rp 2.000. Hitungannya jelas rugi,” kata Mawar.
Atas dasar itu, PDAM meminta subsidi di selisih tarif yang hanya digunakan untuk keperluan pembiayaan solar. Pada tahun ini, PDAM meminta subsidi Rp 13 miliar untuk jangka enam bulan pertama. Namun belum diketahui berapa yang disetujui Pemkab Kutim.
“Subsidi itu domainnya pemerintah. Setahu saya, pemerintah membagi subsidi itu bulat, ada yang dibagi ke PDAM, ke Rumah Sakit, dll. Nah, kita belum tahu dapat berapa, jadi menunggu saja,” jelasnya.
Seharusnya, kata Mawar, penggunaan biaya energi PDAM hanya 30 persen dari biaya operasional. Namun karena tidak memakai listrik, biaya itu akhirnya membengkak. Pihaknya sendiri sudah berulang kali meminta sambungan ke PLN, namun hingga kini belum ada realisasinya.
“Bahkan kita sudah berjuang ke pusat di Kementerian ESDM, minta bantuan agar masalah listrik bisa diatasi langsung,” tandasnya. (*)