Berita Pemkab Kutai Timur

Waspada, DBD Bisa jadi Wabah di Musim Penghujan

Pergantian musim kemarau ke musim penghujan harus diwaspadai oleh seluruh masyarakat.

Waspada, DBD Bisa jadi Wabah di Musim Penghujan
HO/HUMAS SETKAB KUTIM
Masyarakat Kutim diminta melaksanakan 4M plus untuk mencegah DBD. Dinkes juga melakukan fogging di kawasan permukiman. 

TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA - Pergantian musim kemarau ke musim penghujan harus diwaspadai oleh seluruh masyarakat. Pasalnya, pada masa transisi itu, nyamuk Aedes Aegipty, penyebab demam berdarah, dapat berkembang biak dengan pesat.

Nyamuk jenis ini dikenal sebagai pembawa virus dengue sumber Demam Berdarah Dengue (DBD). Biasanya dapat dengan cepat berkembang biak di penampungan air yang tak bersentuhan dengan tanah.

“Seperti air yang tertampung di bak mandi, pot bunga, ban, kaleng dan botol bekas,” sebut Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) dr Hj Aisyah.

Didampingi Kepala Bidang (Kabid) Pemberantasan dan Pencegahan Penyehatan Lingkungan M Yusuf, Aisyah mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk melakukan 4M Plus. Yakni menutup, menguras, mengubur, dan memantau tempat-tempat penampungan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk Aedes Aegipty. (BACA: Penyusunan LAKIP Harus Lebih Komprehensif)

Tindakan 4M dilakukan sebagai salah satu upaya pencegahan penyebarluasan penyakit DBD. "Upaya lain yang bisa dilakukan adalah penyemprotan (fogging). Hanya saja kegiatan fogging cuma memberi rasa "aman yang semu" Karena tidak mampu membunuh jentik nyamuk," katanya.

Jadi masyarakat jangan langsung merasa aman dan terlena, merasa setelah melakukan fogging nyamuk lantas hilang, sebab fogging hanya mampu membunuh nyamuk dewasa. Tindakan yang paling efektif adalah memutus rantai perkembangbiakan jentik nyamuk agar tidak sampai menjadi nyamuk dewasa.

"Caranya, dengan melakukan 4M Plus dan mempraktikan perilaku hidup sehat dan bersih (PHSB) sebagai budaya. Agar pertumbuhan jentik nyamuk ini bisa berhenti," kata Aisyah. Ia berharap, dengan tindakan 4M Plus dan PHSB ini, wabah DBD bisa berkurang dibanding tahun lalu, yang mencapai 30 kasus. Adapun selama Januari 2015, sudah terjadi 23 kasus DBD. (BACA: Lebih 90 Persen Sekolah di Kutai Timur Terakreditasi)

Terkait hal itu, Diskes melakukan beberapa program pencegahan. Diantaranya fogging di kawasan padat penduduk, penyuluhan oleh kader juru pemantau jentik (Jumantik) di setiap RT, dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan pola 4M Plus. Juga memberikan bubuk abate secara gratis ke masyarakat, serta gerakan kewaspadaan dini dengan melakukan penyelidikan epidemiologi terhadap laporan penderita DBD. (*)

Penulis: Kholish Chered
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved