Senin, 13 April 2026

Tambang Samarinda

Para Ibu 9 Bocah Tewas di Lubang Tambang akan Datangi Menteri LH

Anak-anak mereka tewas tenggelam di lubang bekas galian tambang batubara di Samarinda. Mereka terus berjuang menuntut keadilan.

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim terus mendesak pemerintah menutup dan menghukum perusahaan pemilik lubang-lubang tambang yang menewaskan sembilan bocah di Samarinda. (Baca juga: 150 Lubang Tambang Mengancam Anak-anak di Samarinda)

Menurut Abdul Naim, peneliti pada Jatam Kaltim dalam diskusi lingkungan yang digelar Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah Kaltim di kampus STIKES Muhammadiyah Samarinda, Sabtu (7/2), salah satunya dengan menggalang dukungan tanda tangan petisi.

Hasil pengumpulan tanda tangan itu nanti akan disampaikan langsung kepada Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya Bakar di Jakarta.

"Jatam nanti akan membawa ibu atau orang tua dari sembilan bocah yang tewas tenggelam di lubang-lubang tambang batubara di Jakarta untuk mendesak langsung Ibu Menteri agar menghukum dan menutup perusahaan-perusahaan pemilik lubang tambang itu," kata Naim.

Lubang-lubang tambang itu dibiarkan tanpa reklamasi dan penjagaan oleh perusahaan. Akibatnya, satu per satu bocah tewas tenggelam saat bermain-main di sekitar kolam bekas galian tambang batu bara itu. (Baca: Angga Kini ke Sekolah Sendirian Setelah Rehan Tewas Tenggelam di Kolam Tambang)

Sejak kasus pertama sekitar dua tahun lalu, hingga yang terakhir, dialami Muhammad Raihan Saputra (10) pada Desember 2014 lalu, tidak satu pun dari perusahaan itu yang dikenakan hukuman, apalagi ditutup.

Walikota Samarinda Syaharie Jaang, menurut Naim, acapkali bungkam atau tidak ada di tempat setiap kasus tersebut terjadi. Dan selalu yang menghadapi masyarakat adalah wakilnya, Nusyirwan Ismail. Padahal seorang wakil walikota tidak memiliki kewenangan untuk menutup atau mencabut perusahaan-perusahaan tambang yang lalai itu.

Warga bersama aktivis lingkungan sudah berulangkali mengecam walikota atas persoalan tambang tersebut, yang juga disinyalir menjadi salah satu penyebab meluasnya banjir di Samarinda. Bahkan, dengan orasi dan spanduk dengan kata-kata yang sarkasme pun tetap tak mempan. Jaang masih tidak mau bersuara menanggapi tuntutan warga.

"Karena itu kami harus menyampaikan tuntutan ke Jakarta. Kami akan mengumpulkan sekitar 8.000 tanda tangan. Perkiraan kami pertengahan Pebruari nanti kami akan berangkat menyerahkan petisi itu ke Menteri," tambah Naim. (Baca lainnya: 7.500 Dukung Penutupan Lubang Tambang yang Tewaskan 9 Anak)

Warga yang ingin memberikan dukungan tanda tangan petisi ini, silakan klik di www.change.org

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved