Banjir

Ketinting Hilir Mudik di Depan Kantor Gubernur Kaltara

Jalan-jalan raya di Tanjung Selor, Bulungan, berubah menjadi 'sungai' akibat meluapnya Sungai Kayan sejak Senin (9/2/2015) lalu.

Ketinting Hilir Mudik di Depan Kantor Gubernur Kaltara
TRIBUN KALTIM/MUHAMMAD ARFAN
Pj Gubernur Kaltara Irianto Lambrie dan tim menggunakan transportasi ketinting memantau perkembangan banjir dan kondisi masyarakat Kota Tanjung Selor, ibukota Provinsi Kaltara, Rabu (11/2/2015). 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Jalan-jalan raya di Tanjung Selor, Bulungan, berubah menjadi 'sungai' akibat meluapnya Sungai Kayan sejak Senin (9/2/2015) lalu.

Akibatnya, moda transportasi berganti dari mobil dan kendaraan bernotor menjadi perahu dan ketinting (perahu bermesin).

Sejak Rabu (11/2/2015) pagi, puluhan ketinting hilir mudik di jalan-jalan, terutama di depan Kantor Gubernur Kaltara dan perkantoran di Jalan Kolonel Soetadji.

Johan (45), motoris ketinting, menganggap banjir kali ini sebagai kesempatan menambah pendapatan harian. Meski baru beroperasi beberapa jam kemarin, ia mengaku sudah mendapatkan puluhan ribu dari upayanya mengangkut beberapa warga ke tempat lain dengan perahu ketintingnya.

"Kemarin saya tidak turunkan ketinting, karena masih ada kendaraan (roda dua dan roda empat) yang keliling. Takut ambil risiko," sebut Johan sambil mengatur posisi ketintingnya di perempatan Jalan Kolonel Soetadji.

Johan tidak mematok tarif tertentu. Ia menerima bayaran sukarela. "Kasih ongkosnya terserah saja, tidak ada pun tidak masalah. Yang penting saya bisa membantu, itu saja," ujar Johan. (BACA: Banjir di Bulungan, 31 BTS Telkomsel Kena Dampak Pemadaman Listrik)

Sementara itu, Hasibul (35) mengaku datang jauh dari Desa Terasnawang ke Tanjung Selor hanya untuk 'narik' ketinting. Hasibul memasang tarif bervariasi. Jika jarak tujuan penumpang relatif dekat, ia hanya memasang tarif Rp 5.000 per penumpang. Untuk jarak jauh Hasibul memasang tarif Rp 35.000

"Hasilnya juga tidak terlalu besar, cukuplah buat makan anak istri. Hitung-hitung ini (banjir besar) langka terjadi," ujarnya.

Hasibul biasanya mendapatkan tumpangan orang-orang yang hendak mengungsi ke rumah kerabat atau tempat yang disediakan pemerintah. Hasibul juga kadang mengangkut motor warga. "Kalau motor Rp 35.000 juga. Itu sudah dihitung sama orangnya," katanya. Ia baru akan berhenti narik ketinting jika banjir benar-benar sudah surut. (BACA: Banjir Bulungan Berstatus Tanggap Darurat)

Motoris lain yang bernama Sultan (29) malah membanderol tarif yang cukup fantastis. Sekali narik, Sultan membanderol harga Rp 100.000 hingga Rp 150.000. Harga tersebut cukup wajar karena ia hanya melayani penumpang yang ingin merasakan fantasi keliling ibukota Kaltara saat kondisi banjir.

"Kalau keliling kota Rp 150.000. Kalau dekat, saya kadang tolak karena ketinting saya kecil, cuma bisa dinaiki dua orang penumpang saja," ujarnya.

Rencananya, Kamis (12/2/2015), Pemprov Kaltara bakal membayar sejumlah ketinting untuk mengangkut warga yang masih terjebak banjir. Selain itu, hal ini ditujukan agar aktifitas masyarakat di ibukota provinsi ini tetap hidup. (*)

Penulis: Muhammad Arfan
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved