Feature
Festival Cap Go Meh di Tanjung Selor untuk Pererat Persaudaraan
Ia menegaskan, sukesnya festival Cap Go Meh juga menjadi tanda bahwa masyarakat Tanjung Selor hidup dalam suasana kekeluargaan.
Penulis: Budi Susilo |
Langit malam yang memayungi Klenteng Ta Pek Kong, di pinggiran Sungai Kayan, Kecamatan Tanjung Selor begitu cerah. Bintang-bintang di langit bertaburan tak terhitung jumlahnya, Rabu (4/3/2015) lalu.
SUASANA itu menjadi penanda berakhirnya festival Cap Go Meh di Tanjung Selor, Kalimantan Utara, yang telah dilangsungkan selama tiga hari dengan menyuguhkan bazar, atraksi seni, panggung hiburan, dan undian berhadiah barang-barang elektronik.
Dalam pidato penutupan, Doni Irawan Ketua Panitia Imlek Tanjung Selor mengatakan, Festival imlek bagian terpenting bagi daerah Tanjung Selor. Alasannya, ajang ini sebagai aset potensi wisata kaum urban. “Tahun depan kita akan buat lagi, lebih meriah,” ujarnya.
Ia menegaskan, sukesnya festival Cap Go Meh juga menjadi tanda bahwa masyarakat Tanjung Selor hidup dalam suasana kekeluargaan, penuh rasa hormat-menghormati, meski berbeda namun tetap bersama.
“Festival ini mengikat tali persaudaraan kita. Semoga lebih baik ke depannya. Semoga hidup kita semua semakin sukses, sejahtera, dan bahagia,” kata pria kelahiran 13 Desember 1975 ini. (BACA: Atraksi Barongsai Ramaikan Cap Go Meh di Balikpapan)
Selama Festival Cap Go Meh berlangsung, ragam budaya ditampilkan. Tidak melulu budaya tiongkok tetapi juga memadukan dengan pesona tarian budaya Dayak, Tidung, Bulungan, Dangdut, dan musik Barat.
Satya Bahari, Ketua Budaya Tionghoa Tanjung Selor menuturkan, pelaksanaan Cap Go Meh memberikan andil tersendiri bagi kebudayaan Tionghoa. Sebab lewat penyelenggaraan ajang, maka ada upaya untuk melestarikan budaya Tionghoa.
“Generasi muda kita harus tahu seperti apa kebudayaan Tionghoa yang telah menyatu lama di nusantara ini. Mari kita sama-sama mewujudkan Kaltara maju, supaya bisa semakin terdepan,” tutur Abay, panggilan akrab Satya Bahari ini.
Malam terakhir Festival Cap Go Meh itu turut dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Bulungan, Wakil Bupati Bulungan, Dandim Tanjung Selor, dan Penjabat Gubernur Kaltara. (BACA: Tarakan Pertama Kali Rayakan Cap Go Meh)
Saat Penjabat Gubernur Kaltara, Irianto Lambire berkesempatan maju berpidato di atas panggung hiburan, pria asal Banjarmasin ini berpesan, sebentar lagi akan ada pemilihan kepala daerah di kawasan Kaltara yang diperkirakan akan menelan biaya hingga Rp 200 miliar lebih.
Karena itu, tegas Irianto, manfaatkan proses demokrasi ini sebagai pilkada yang baru pertama kali dirasakan masyarakat Kaltara. Inilah momen titik menuju perbaikan Kaltara ke arah yang lebih baik.
Memilih pemimpin yang benar-benar amanah untuk memperjuangkan rakyat dan memajukan daerah. “Tetap bersatu meski berbeda pandangan dalam politik. Jaga perdamaian daerah kita,” ujarnya.
Satu di antara pelaku seni tari khas Bulungan, Ayu Prameswari (27), dari grup Setara Tari ikut berpartisipasi dalam ajang Cap Go Meh karena ingin turut memeriahkan malam terakhir kegiatan itu. Sebab sudah lama, warga Tionghoa dengan Bulungan hidup berdampingan damai, mengikat tali persaudaraan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/cap-go-meh-tj-selor2.jpg)