Salju di Puncak Jaya Papua Ungkap Perubahan Iklim Global

Indonesia memiliki salju abadi, di Puncak Jaya, Papua. Namun, pemanasan global membuatnya terus menyusut, dan diperkirakan akan punah.

Salju di Puncak Jaya Papua Ungkap Perubahan Iklim Global
Contentraja
Puncak Jaya di Pegunungan Jaya Wijaya, Papua, diselimuti salju 

TRIBUNKALTIM.CO - Ingin menyaksikan salju? Tidak harus ke luar negeri. Di negeri sendiri juga ada. Yakni di pegunungan Sudirman atau Sudirman Range di Provinsi Papua, dimana puncaknya -- disebut Puncak Jaya Wijaya atau Puncak Jaya -- diselimuti oleh lapisan es abadi karena ketingggiannya yang mencapai 4.884 mdpl.

Namun, salju tersebut diperkirakan akan menyusut akibat dari pemanasan global. Nama lain dari Puncak Jaya adalah Carstensz Pyramide atau Puncak Carstensz. Diambil dari nama seorang petualang asal Belanda, yakni Jan Carstensz, yang pertama kali melihat adanya puncak gunung bersalju di daerah tropis.

Pengamatan tersebut dilakukan olehnya melalui kapal laut. Hal itu baru terbukti kebenarannya setelah 3 abad kemudian, dan menjadi salah satu obyek wisata alam kebanggan Indonesia.(Baca: Gunung Fuji Jepang Pertama Kali Tertutup Salju)

Namun sebaagian pengamat menuturkan bahwa suatu saat salju abadi ini akan meleleh alias punah akibat perubahan iklim yang ekstrem.

Bagi ilmuwan, fenomena salju abadi di Puncak Jaya adalah hal yang menarik. Terutama untuk meneliti bagaimana perubahan iklim terjadi. Seperti diketahui, bagaimana dan mulai kapan terjadi perubahan iklim agaknya masih menjadi misteri berbagai kalangan di dunia. Selama ini hanya dicermati dampak perubahan iklim yang dirasakan masyarakat seluruh penjuru dunia.

Adalah Professor Lonnie Thompson, peneliti Byrd Polar Research Center (BPRC) - The Ohio State University (OSU) Ice Core Paleoclimatology Research Group (ICRPG) yang juga pakar gletser, mencoba mengungkapkan rekaman perubahan iklim melalui penelitian lapisan es abadi di beberapa pegunungan tinggi dunia.

Lonnie Thompson, yang pernah memimpin ekspedisi serupa di Antartika, Cina dan puncak-puncak salju di Peru dan Amerika Latin, kini memimpin ekspedisi penelitian lapisan es abadi di Puncak Jaya, Papua. Bekerjasama dengan peneliti Lamont Doherty Earth Observatory of Columbia University (LDEO), New York, serta peneliti Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

“Rekaman kondisi lingkungan masa lalu, seperti suhu, dan zat kimia udara tersimpan dalam lapisan dari inti es. Inti es yang diperoleh dari gletser atau tutupan es di seluruh dunia memungkinkan para ilmuwan merekonstruksi variasi iklim masa lalu dan memahami perubahan iklim,” paparnya dalam Launching of Reearch Program on Climate History in Puncak Jaya, Papua di kantor BMKG Jakarta seperti dikutip dari laman Teknologi ndonesia..

Partikel-partikel yang terperangkap di dalam material es, kata Thompson, juga mengandung sejumlah informasi mengenai keadaan flora dan fauna di masa lalu, termasuk kejadian alam seperti letusan gunung, kebakaran hutan, atau bahkan peristiwa bom atom.

Rentang waktu perubahan iklim yang terekam dalam inti es cukup panjang. Menurut Thompson, dalam penelitian di Pegunungan Andes di Peru, panjang inti es sekitar 50 meter mampu merekam peristiwa 11.000 tahun lalu. “Di Puncak Jaya, kami perkirakan mampu mengambil inti es sepanjang 30 meter, sehingga dapat diketahui perubahan iklim 5 hingga 6 ribu tahun lalu,” ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Achmad Bintoro
Editor: Achmad Bintoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved