Devie Susah Tidur Pikirkan Hotel, 20 Karyawan Diputus Kontrak

Claudia Devie mengungkapkan, dalam triwulan pertama 2015, tingkat hunian di hotel bintang lima tersebut drop hingga mencapai 30 persen saja.

Devie Susah Tidur Pikirkan Hotel, 20 Karyawan Diputus Kontrak
TRIBUN KALTIM/FACHMI RACHMAN
Seorang pengunjung mengambil hidangan makan siang yang disediakan Garden Restaurant Blue Sky Hotel Balikpapan beberapa waktu lalu. 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN -Triwulan pertama tahun 2015 yang seharusnya menjadi masa meraup keuntungan terbesar setiap tahunnya, berubah jadi masa suram bagi dunia perhotelan di Kaltim, khususnya di Balikpapan dan Samarinda.

Lesunya bisnis perhotelan mulai dirasakan sejumlah hotel pasca keluarnya Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi yang melarang instansi pemerintah menggelar acara di hotel.

General Manager Hotel Gran Senyiur Balikpapan, Claudia Devie mengungkapkan, dalam triwulan pertama 2015, tingkat hunian di hotel bintang lima tersebut drop hingga mencapai 30 persen saja.

"Tiap malam saya susah tidur memikirkan ini," kata Devie. (BACA: Tak Gubris Larangan Presiden, PNS Nekat Gelar Acara di Hotel)

Penyebab terbesarnya lanjut Devie, kebijakan Presiden Joko Widodo yang melarang pegawai negeri sipil (PNS) menggelar kegiatan di hotel. Pendapatan semakin memburuk karena ternyata kebijakan Presiden belakangan mulai diikuti Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang merasa sebagai bagian dari pemerintah.

Acara pemerintahan ini kata Devie, menyumbang 40 persen pendapatan hotel setiap tahunnya. "Kalau dibiarkan, berakibat pada berkurangnya kesejahteraan karyawan," tambah Devie.

Selain itu, turunnya harga minyak dunia dan tutupnya beberapa perusahaan tambang batu bara juga memberikan kontribusi pengurangan pendapatan. Mulai naiknya harga dolar belakangan ini juga menurutnya mulai mengancam dunia perhotelan.

"Otomatis banyak perusahaan asing yang mengurangi jumlah karyawannya untuk travelling," katanya. (BACA: Ribuan Karyawan Hotel Resah Terancam PHK akibat Revolusi Mental)

Agar dapat mengimbangi pemasukan dan pengeluaran, hotel juga sudah mengambil kebijakan yang berdampak langsung kepada karyawan. Karyawan kontrak tidak akan diperpanjang dan tenaga harian (daily worker) sama sekali dihapuskan.

"Hampir sekitar 20 orang dalam triwulan ini yang tidak saya perpanjang kontraknya. Selain kontrak ada daily worker, itu tidak kita pakai lagi," katanya.

Bagaimana pihak hotel menyiasati kerugian yang ditimbulkan dari peraturan tersebut? Baca ulasan selengkapnya di harian Tribun Kaltim edisi Selasa, 24 Maret 2015. (*)

Stop Press: Update Berita Eksklusif, Unik dan Menarik secara real time. Gratis kok… Cukup likes Facebook TribunKaltim.co atau follow twitter @tribunkaltim.co


Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved