Sinopsis Film

Film Sejarah dengan Tafsir Baru

FILM Guru Bangsa Tjokroaminoto adalah kelindan fakta dan tafsir sejarah. Ada drama kehidupan, pergerakan sosial, dan cerita tentang asal-usul

Film Sejarah dengan Tafsir Baru
THE JAKARTA POST.COM

TRIBUNKALTIM.CO - FILM Guru Bangsa Tjokroaminoto adalah kelindan fakta dan tafsir sejarah. Ada drama kehidupan, pergerakan sosial, dan cerita tentang sepenggal asal-usul sebuah bangsa.

Meski ceritanya mudah-mudah sulit untuk dicerna karena kalimat percakapan yang panjang, film ini fasih memberi gambaran sosok seorang Tjokroaminoto.

Seorang pelopor pergerakan dan guru yang melahirkan orang-orang yang kelak menjadi pemimpin bangsa. Film ini bagaikan lembar-lembar sejarah yang dituangkan menjadi serangkaian gambar hidup. Kisah kehidupan pribadi Tjokroaminoto yang selama ini hampir tidak pernah terpublikasi membuat cerita menjadi lebih humanis dan berwarna.

Sosok Tjokro, panggilan Tjokroaminoto (Reza Rahadian), keturunan ningrat yang peduli kepada rakyat jelata, dibangun sejak awal cerita. (BACA: Senyum Terakhir Paul Walker di Fast and Furious 7)

Tjokro kecil digambarkan nakal dan pemberani. Ia membantu mengobati luka seorang anak yang disiksa majikan Belanda, membalas hinaan seorang anak Belanda yang memanggil "monyet" kepada anak-anak pribumi, serta tidak segan membantah perkataan seorang guru Belanda.

Kegelisahannya terhadap nasib rakyat yang tertindas dan diperas dipicu pesan ayahnya yang mengutip perkataan Nabi Muhammad SAW untuk hijrah, berpindah dari tempat yang buruk ke tempat yang lebih baik.

Pesan ini mendorongnya pindah dari satu kota ke kota lain dan membawanya berkenalan pada pergerakan. Hingga tiba pada satu titik pemikiran, bangsa ini harus memiliki bentuk negara yang dipimpin sendiri.

Meski setuju berpolitik untuk mencapai tujuan, Tjokro menghindari jalan kekerasan. Pikirannya modern dengan kaki yang menjejak bumi. Sikapnya moderat sehingga tak jarang dianggap lambat. Namun, Tjokro berhasil menghidupkan kembali ruh pergerakan melalui Sarekat Islam yang memiliki dua juta anggota dari total penduduk Jawa yang saat itu mencapai 30 juta orang. Organisasi modern yang dilengkapi koperasi dan surat kabar sendiri di tiap cabangnya. Idenya, politik dan ekonomi berdikari untuk mencapai tujuan bersama.

Di balik Tjokro, ada sosok Soeharsikin (Putri Ayudya), sang istri yang mendukung pemikirannya, terutama soal perjuangan tanpa kekerasan. Ia sepikiran dengan suaminya yang mengatakan, "Tidak ada yang salah dengan pikiran-pikiran yang datang ke tanah ini. Yang bahaya adalah kekerasan-kekerasan yang menggerakkannya," kata Tjokro. (BACA: Jago Parkour Dipakai untuk Merampok)

Alur bergerak dalam perpaduan maju dan mundur dengan cerita dipilihkan dari periode-periode paling penting dalam kehidupan Tjokro.

Halaman
12
Penulis: Ade Miranti
Editor: Rita
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved