Penggiat Antikorupsi Terpukau Aksi Kartini Cilik
Taufik mengaku rela meluangkan waktu hanya untuk menyaksikan istri dan anaknya beraksi di catwalk
Penulis: Cornel Dimas Satrio Kusbiananto |
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Di antara keramaian Pengunjung e-Walk Balikpapan Super Block (BSB) pada Minggu (19/4/2015), terlihat seorang pria berkaos hitam sedang mendampingi istri dan anaknya.
Pria tersebut bersenda gurau dengan anaknya yang juga peserta lomba Kartini Funtastic Generation: Mom and Kid Traditional Fashion Show. Wajah pria tersebut tak asing bagi TRIBUNKALTIM.CO. Dia adalah Taufik Qulrahman, Dewan Eksekutif National Corruption watch (NCW) Pusat.
Taufik yang sehari-hari berkantor di Jakarta, mengaku rela meluangkan waktu hanya untuk menyaksikan istri dan anaknya beraksi di catwalk.
“Tadi jam 6 pagi saya baru berangkat dari Jakarta, terus langsung ke sini (BSB), mau lihat istri dan anak lomba fashion show pakai baju daerah,” ujar tokoh kelahiran Balikpapan. (Baca juga: Warga Minta Sarana Penyeberangan dari Kariagau ke Kampung Baru)
Di tengah kesibukannya sebagai penggiat antikorupsi, Taufik mengaku, kedatangannya sebagai bentuk dedikasi bagi istri dan anaknya dalam rangka Hari Kartini.
“Istri saya bilang kalau dia dan Anaya (putirnya) ikut lomba Kartini fashion show tradisional. Saya langsung pastikan untuk terbang ke Balikpapan menyaksikan mereka,” ungkapnya.
Taufik memaknai Hari Kartini sebagai penghormatan terhadap istri dan putrinya. Ia mengatakan,“istri saya adalah Kartini bagi saya sendiri. Dia yang melahirkan anak-anak, merawatnya saat saya tidak berada di rumah, dan mendidiknya.”
Meskipun hanya sembilan jam menyempatkan diri berkumpul dengan keluarga, Taufik tetap bangga bisa menyaksikan istri dan putrinya berduet di panggung catwalk. “Jam 18.00 Wita nanti saya harus check in, yang penting saya sudah lihat mereka di panggung,” katanya.
Acara ini, menurut Taufik, sangat positif, sebab zaman sekarang sangat jarang kegiatan dengan tema tradisional yang melibatkan anak kecil.
“Acara semacam ini adalah cerminan Bhineka Tunggal Ika dan sila ke 3 Pancasila, Persatuan Indonesia. Secara tidak langsung, memperkenalkan kebudayaan nusantara kepada anak-anak,” jelasnya. (*)