Selasa, 5 Mei 2026

Fenomena Batu Akik

Harganya Mahal, Fosil Batu Ulin Seberat 300 Kg Diburu Pencinta Batu Akik

Jumri perlu waktu sekitar 4 jam untuk mengeluarkan fosil batu yang terpendam sedalam 30 cm dari dalam tanah.

Tayang:
Penulis: Rahmad Taufik |
TRIBUN KALTIM / RAHMAD TAUFIK
Bongkahan Fosil Kayu Ulin Seberat 300 kg 

TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Warga Dusun Bengkinang, Kelurahan Loa Tebu, Kecamatan Tenggarong, Kukar dihebohkan penemuan fosil batu ulin seberat 300 kg.

Fosil batu ini ditemukan pertama kali oleh Jumri, Ketua RT 12 Dusun Bengkinang.

Saat mencari rotan dengan menyeberangi sungai, dia melihat sebuah batu di hutan.

Batu itu terpendam separuh dari permukaan tanah. Jumri mendekati batu itu.(Baca juga: Batu Akik Paling Diburu: Red Borneo, Ruby dan Blue Sapphire)

Batu fosil kayu mulai diburu kolektor batu di Nunukan terutama fosil kayu ulin yang memiliki alur dan kekerasan diatas fosil batu kayu lainnya. (KOMPAS.com/SUKOCO)
 

Ia mengetahui itu fosil batu ulin setelah melihat urat batu secara detil.

Dibantu 6 orang saudaranya, ia mencungkil batu itu dengan kayu. Ia perlu waktu sekitar 4 jam untuk mengeluarkan fosil batu yang terpendam sedalam 30 cm dari dalam tanah.

Lalu fosil batu ini digelindingkan menuju kapal kayu yang ditambatkan di tepi sungai. (Baca juga: Cara Mudah Uji Batu Akik Asli: Tempel ke Kulit atau Senter Seratnya ...)

Mereka mengangkat fosil batu itu ke dalam kapal kayu. Namun dasar kapal langsung jebol ketika batu itu diangkut dalam kapal.

Jumri mengeluarkan fosil batu dari dalam kapal. Lalu ia mengambil sebuah drum plastik. Drum plastik ini diikatkan kepada fosil batu ulin sebagai pelampung.

Pelan-pelan, pelampung itu didorong oleh kapal hingga sampai ke tepi sungai, dekat rumah Jumri.

Ia juga mengambil patahan fosil batu ulin yang tercecer saat dicungkil di dalam hutan.

Penemuan fosil batu ulin ini membuat heboh warga sekitar. Pasalnya, fosil batu ulin ini jadi buruan para penggemar batu akik.

Bahkan, batu dari fosil batu ulin ini terbilang mahal untuk dijadikan batu cincin. (Baca juga: Geger, Warga Temukan Bukit Penuh Batu Akik)

Harganya bisa mencapai Rp 150 ribu. Saat ini bongkahan fosil batu ulin ditaruh di depan halaman rumah Jumri.

Ia belum tahu akan digunakan sebagai apa bongkahan fosil batu ulin itu. Namun, pihak Kelurahan Loa Tebu menginginkan fosil batu ulin itu ditaruh di museum Mulawarman.

"Kami menginginkan fosil batu ulin seberat 300 kg itu disimpan di museum agar bisa dilihat oleh semua orang. Tapi kami masih memberitahukan kepada Bupati dulu," ujar AR Ambo, Lurah Loa Tebu.

Satu Fosil Dihargai Rp 20 Juta

Selain batu akik, batu fosil kayu ulin mulai diburu oleh kolektor batu di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Hal ini terlihat dari pameran batu akik yang diselenggarakan oleh Kepolisian Resort Nunukan yang mulai digelar hari ini, Rabu (8/4/2015).

Salah satu pemburu batu fosil kayu di Kabupaten Nunukan Henry mengatakan, satu buah batu fosil kayu bisa bernilai Rp 1,5-8 juta karena fosil batu kayu tersebut masih dalam keadaan mentah.

”Yang lokal dari Rp 1,5 juta sampai 8 juta. Yang membedakan fosil batu ini selain motif dan ukuran juga dibedakan dari keras tidaknya fosil,” ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (8/4/2015).

Selama tiga bulan menggeluti penjualan batu fosil kayu, Henry mengaku sudah mampu mengumpulkan uang lebih dari Rp 20 juta. Untuk mencari batu fosil kayu, Henry baru melakukan pencarian di sungai sungai sekitar hutan lindung Pulau Nunukan.

Menurut dia, jenis batu fosil kayu yang diminati kolektor adalah fosil dari kayu ulin yang dulunya banyak terdapat di hutan Kalimantan. Selain beralur bagus, fosil kayu ulin memiliki kekerasan di atas rata-rata batu fosil dari jenis kayu lain.

“Fosil tulang kayu ulin yang paling diminati karena uratnya bagus dan keras. Kalau dipukul bunyinya macam besi,” imbuhnya.

Dari sepuluh koleksi miliknya yang dipamerkan, Henry mengaku semuanya sudah dipesan oleh salah satu pengusaha sawit di Nunukan. Menurut dia, jika batu fosil kayu diolah dengan melakukan pembersihan dan menggosok hingga mengilap, satu batu fosil kayu mampu dijual hingga lebih dari Rp 20 juta.

“Kalau bisa mengolah menjadi barang jadi, fosil dari Nunukan harganya bisa lebih dari Rp 20 juta tergantung ukurannya. Tapi kita masih kesulitan peralatannya,” ujar Henry.

 Tempel ke Kulit atau Senter Seratnya

Fenomena batu akik marak dan membuat para pembeli waswas ketika memilih, produk asli atau masakan. Bagi pemula, mungkin akan sulit dan membingungkan membedakan batu akik asli dengan batu akik masakan atau tiruan. Berbekal sedikit pengetahuan dan kesabaran, Anda pasti bisa membedakannya.

Untuk melihat keaslian dan kualitas batu akik, biasanya para pembeli akan membawa senter. Ini adalah hal yang paling dasar untuk melihat keaslian dan kualitas batu akik. Batu akik asli ketika disenter akan terlihat adaya serat-serat. Serat-serat ini jugalah yang menentukan harga dan kualitas batu akik. Batu akik masakan tidak akan memiliki serat, dan akan terlihat jernih sekali ketika disenter. (BACA: Batu Akik hingga Yellow Sapphire Rp 150 Juta )

Hal ini tentunya hanya bisa dilakukan pada batu-batu yang jernih dan tembus pandang seperti bacan dan pandan. Batu alami pasti memiliki serat-serat natural dan unik, berbeda dengan buatan manusia.

"Pokoknya untuk pemula lihat saja di bawah cahaya, apa ada serat atau tidak. Jika teralu bersih, biasanya sudah pasti batu masakan, atau coba tempel ke kulit atau pipi. Jika dingin, maka batu akik asli. Saya sarankan bawa teman yang mengerti batu akik jadi bisa menjelaskan," kata Hendri, seorang pembeli batu akik.

Anda juga bisa mencoba meneteskan air ke atas batu, apabila tetesan tersebut menetap, maka batu akik tersebut sudah pasti asli. Hal pembeda lainnya adalah berat. Batu akik asli dan kaca bisa terasa berbeda beratnya. Jika Anda baru mulai tertarik dengan batu akik, maka hal ini akan sulit dirasakan. Pembeli batu akik senior biasanya sudah langsung tahu hanya dengan melihat dan memegangnya.

"Memilih batu akik harus bersabar. Jika tidak, Anda akan cepat tertipu. Pertama-tama, harus mengerti tentang batu yang diinginkan, contohnya bacan. Sebelum beli, cari tahu dulu saja tentang batu bacan, tentang warna, harga, dan kualitas. Jangan langsung datang, lihat batu bacan, lalu nanti ditipu. Paling gampang, buka internet dan cari tahu tentang batu akik," ujar Endang, salah seorang penjual batu akik di Jakarta Gems Center (JGC), Rawa Bening, Jakarta Timur. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved