Rektor Unmul Samarinda Kalah Lagi Hadapi Gugatan Guru Besarnya di PTUN

Rektor Universitas Mulawarman Samarinda kembali kalah menghadapi gugatan guru besarnya, Prof Dr Abubakar M Lahjie M Agr di PTUN.

Rektor Unmul Samarinda Kalah Lagi Hadapi Gugatan Guru Besarnya di PTUN
BERITAKALTARA
Prof Dr Ir Abubakar M Lahjie M Agr

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Rektor Universitas Mulawarman Samarinda kembali kalah menghadapi gugatan seorang guru besar, Prof Dr Abubakar M Lahjie M Agr di Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN). Dalam putusan banding yang diajukan Rektor Unmul, majelis hakim PTUN Jakarta memenangkan Abubakar yang sebelumnya telah menang di PTUN Samarinda.

Abubakar menggugat rektor setelah dicipot dari jabatannya, Dekan Fahutan Unmul, oleh Rektor Unmul Prof Dr Zamruddin Hasyid SE (saat itu).

Abubakar yang dikonfirmasi, Kamis (30/4/2015) mengaku bersyukur atas keluarnya putusan tersebut. Putusan banding itu keluar pada 24 April 2015.

”Alhamdulillah, kebenaran akhirnya terkuak. Saya berharap kali ini rektor benar-benar dapat menjalankan putusan ini, sebab ini terkait pula dengan nama baik saya,” kata Abubakar, pakar agroferestry lulusan Nihon University Jepang itu. Saat dihubungi ia masih mengikuti seminar di Malaysia.

Rektor Unmul Prof Dr Masjaya MS belum bisa dikonfirmasi oleh Tribun, Kamis. Begitu pula dengan salah satu kuasa hukumnya, Prof Sarosa Hamongpranoto SH M Hum. Abubakar mengaku telah menerima salinan putusan banding PTUN Jakarta. [Baca: Mahasiswa Unmul Bakar Keranda Mayat Simbol Koruptor]

Direktur Eksekutif Lembaga Pengaduan Rakyat (LPR) Didik Setiawan, Kamis (30/4/2015) berharap Rektor Unmul segera mengeksekusi putusan banding itu. “Jangan lagi mencari-cari alasan untuk pembenaran. Bagaimana pun putusan ini harus menjadi pembelajaran,” kata Didik.

"Sebagai lembaga pendidikan, Rektor harus memberikan contoh yang baik kepada masyarakat luas dan mahasiswa dengan menghormati keputusan hukum," tambahnya. Selama ini LPR mengawal kasus ini dari awal hingga akhir, termasuk mengawal pelaporan dugaan penyimpangan dana oleh pejabat dekan sebelumnya kepada Kejati Kaltim. Dimana prosesnya saat ini ditangani oleh penyidik Kejari Samarinda.

Gugatan di PTUN ini muncul dari kisruh panjang dalam tubuh Fakultas Kehutanan Unmul. Berawal dari laporan dugaan penyimpangan dana di Fahutan Unmul oleh Abubakar Lahjie kepada Kejaksaan Tinggi Kaltim yang melibatkan dekan sebelumnya, Dr Chandradewana Boer. Diduga ada penggunaan rekening pribadi untuk menerima pembayaran atas suatu kegiatan seperti penelitian dan kerjasama dengan pihak perusahaan. Padahal harusnya masuk rekening badan layanan umum.

Laporan itu rupanya menimbulkan gejolak di tubuh civitas akademika Fahutan Unmul. Belakangan Rektor Unmul (Zamruddin Hasyid saat itu) malah mengeluarkan surat pemberhentian kepada Abubakar. Rektor lantas melantik pengganti Abubakar pada 12 Juni 2014, yakni Hari Siswanto. Saat yang sama Abubakar ditunjuk menjadi Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Agroforstri. Ini sesuai SK Rektor Unmul Nomor 849/KP/2014.

Abubakar menolak keputusan rektor itu dan mengajukan gugatan ke PTUN Samarinda. Sebelumnya, dalam rangka mencari keadilan, Abubakar telah melaporkan masalah ini ke Ombusdman Jakarta. Sedang terkait dengan dugaan penyimpangan dana dan prosedural, ia melaporkan kepada Polresta Samarinda, Kejari Samarinda, dan Kejaksaan Tinggi Kaltim.

Halaman
123
Penulis: Christoper Desmawangga
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved