PLTN Tepat Untuk Gantikan Energi Fosil yang Terus Menipis
"Jangan ragukan teknologi saat ini, karena untuk keamanan nuklir, teknolgi saat sudah sangat berkembang dan didesain sesuai dengan kebutuhan penggunaa
Penulis: Christoper Desmawangga |
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Rencana Pemprov Kaltim yang akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Berau mendapat respon yang positif dari sejumlah kalangan.
Pasalnya energy nuklir dinilai dapat menggantikan energy fosil yang lama-kelamaan semakin menipis. Selain itu sebagai upaya mengembangkan Energy Baru Terbarukan (EBT).
Pengamat energy nasional Marwan Batubara mengungkapkan jika pasokan energy yang berasal dari fosil dalam jangka waktu 15 tahun kedepan akan habis, hal dikarenakan energy tersebut terus menerus digunakan tanpa ada cadangan energy yang dapat menghemat energy fosil.
"Saat ini kita masih ketergantungan terhadap energy fosil, 90 persen energy tersebut digunakan, sedangkan sisanya menggunakan energy baru terbarukan," ucap Marwan, Senin (4/5/2015).
Dari data yang ada, energy fosil yang terdiri dari minyak, gas dan batu bara umurnya tidak lebih dari 50 tahun mendatang. Minyak sendiri diperkirakan akan habis dalam jangka waktu 12-15 tahun, lalu energy gas akan habis dalam jangka waktu 40-50 tahun, sedangkan batubara akan habis dalam kurun waktu 60-70 tahun.
Marwan menilai tepat keputusan untuk membangun PLTN sebagai solusi untuk menanggulangi semakin menipisnya ketersediaan energy fosil yang setiap tahun terus mengalami pengurangan.
"Kebutuhan energy masyarakat terus meningkat, mau tidak mau kita juga harus menjadi pemasok energy nuklir untuk kebutuhan masyarakat," ungkapnya ketika ditemui usai mengisi acara Pertamina Goes to Campus di Gor 27 September, Universitas Mulawarman.
Terkait dengan keamanan menggunakan energi nuklir, dia menjelaskan jika saat ini teknologi terus mengalami peningkatan yang begitu cepat, bahkan negera tetangga seperti Singapura, Vietnam dan negera Asia lainnya telah menggunakan nuklir sebagai energy pengganti fosil.
"Jangan ragukan teknologi saat ini, karena untuk keamanan nuklir, teknolgi saat sudah sangat berkembang dan didesain sesuai dengan kebutuhan penggunaan," imbuhnya.
Indonesia sendiri termasuk negara yang kaya akan sumber daya alam tetapi menggunakan energi listrik yang cukup rendah diibandingkan dengan Singapura dan Malaysia yang notabene bukan negera penghasil energi besar.
Konsumsi listrik Indonesia pada tahun 2014 hanya sebesar 800 KWH per Kapita per tahun, sedangkan Singapura mengkonsumsi listrik sebesar 7800 KWH per Kapita per tahun dan Malaysia menggunakan 3200 KWH per kapita per tahun. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/samarinda_pertamina-goes-to-campus_20150504_232552.jpg)