Ramadhanku
Pernah Dibom Jepang Tapi Masjid Bessae tak Hancur
Berada di Komplek Kesultanan Gunung Tabur, Masjid Imanuddin ini masih berdiri kokoh, meski beberapa bagian telah lapuk termakan usia.
TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB - Berada di Komplek Kesultanan Gunung Tabur, Masjid Imanuddin ini masih berdiri kokoh, meski beberapa bagian telah lapuk termakan usia.
Maklum saja, masjid ini menurut sejumlah sumber ditemui Tribunkaltim.co, sudah ada sejak abad ke-18. Ya, masjid ini sudah berusia lebih dari 200 tahun!
Salah satu keturunan Sultan Gunung Tabur Putri Nural pernah menuturkan, masjid ini dibangun pada masa kejayaan Sultan Aji Pangeran Raja Muda Si Barakkat. Putri Nural sendiri merupakan ahli waris Sultan Muhammad Khalifatullah Jalaluddin.
Selain menjadi bagian sejarah masuknya agam Islam di Kabupaten Berau, masjid yang dikenal dengan sebutan Masjid Bessae ini juga menjadi bagian dari sejarah perjuangan masyarakat Berau saat melawan penjajah.
Berbagai literatur, termasuk yang resmi diterbitkan pemerintah menyebutkan, masjid ini menjadi saksi penjajahan Belanda dan Jepang.
Baca: Masjid Agung Istiqomah Dihiasi Kaligrafi Al Fatihah
Saat itu, masjid yang didirikan dalam satu komplek dengan kesultanan ini kerap dicurigai sebagai tempat berkumpulnya para ulama dan pejuang yang ingin memberontak pada penjajah.
Saat terjadi perang dunia kedua, angkatan udara Jepang sempat melancarkan serangan udara dan menghancurkan sebagaian besar komplek Kesultanan Gunung Tabur, hanya Masjid Bessae yang tak 'tersentuh' bom, padahal saat peristiwa itu terjadi, bom mengenai kubah masjid.
Masjid ini dijadikan sasaran utama karena diduga para ulama bersama masyarakat berkumpul di masjid itu untuk mengobarkan semangat melawan penjajah.
Baca: Masjid Al Ula,Tempat Shalat Para Pejuang
Masjid ini cukup megah pada masanya, masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Imanuddin mampu menampung 600 jamaah. Sayang, setelah Indonesia merdeka, masjid bersejarah ini mulai ditinggalkan jamaahnya.
Banyaknya tempat ibadah umat muslim di kawasan Gunung Tabur membuat warga mencari alternatif terdekat.
Seorang tokoh ada masyarakat Gunung Tabur, Haji Aji Rahmatsyah di hadapan Bupati Berau Makmur HAPK sempat meminta agar Pemkab Berau merehabilitasi kembali masjid ini.
"Masjid itu masjid tua, sudah banyak bagian yang rusak dan jabuk. Orang takut mau sembahyang di situ, karena takut ambruk," kata Rahmatsyah.
Tokoh sepuh itu juga meminta agar Pemkab Berau menjadikan masjid itu sebagai cagar budaya mengingat sejarahnya yang panjang.
"Karena itu, saya minta dalam kegiatan-kegiatan budaya, khususnya kebudayaan Gunung Tabur diarahkan ke sana, dengan begitu masjid ini tetap hidup," katanya lagi.
Hal senada juga dikemukakan oleh Syahmardan yang juga berasal dari Gunung Tabur. Syahmardan yang kini menjabat sebagai Sekretaris DPRD Berau berharap, pemerintah bisa membantu Kesultanan Gunung Tabur untuk memulihkan kembali masjid ini.
"Termasuk dengan kegiatan-kegiatan hari jadi Kabupaten Berau nanti, kita arahkan para pengunjung untuk mendatangi masjid," ujarnya.
Permintaan itu pun langsung direspon oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Berau.
Rencananya, pada peringatan hari jadi Tanjung Redeb ke 2015 nanti, pihaknya akan menggelar prosesi Manguati Banua.
Prosesi ini juga sudah lama dilakukan oleh para ulama Gunung Tabur sejak lama sebagai bentuk rasa syukur dan memanjatkan doa untuk mendapatkan berkah dari Allah SWT. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/masjid-bessae_20150711_111448.jpg)