Apron Bandara yang Terbengkalai Tergenang Menyerupai Kolam

Pembangunan bandar udara di Desa Padang Pangrapat, Muar Paser, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur terbengkalai. Material pembangun pun menumpuk

TRIBUNKALTIM.CO/SARASSANI
Pembangunan bandar udara di Desa Padang Pangrapat, Muar Paser, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur terbengkalai. Lahan yang sedianya untuk pelataran pesawat atau apron, yaitu areal yang akan digunakan sebagai tempat parkir pesawat terbang, kini menggenang seperti danau buatan. Foto tampak Kamis (13/5/2105). (TribunKaltim.co/Sarassani) 

"Anggaran sudah turun, tetapi proyek hanya berjalan sekitar 3 persen. Indikasi dugaan korupsi sementara mencapai Rp 42 miliar" ungkap Fajar.

Penyidik Polda Kaltim telah memeriksa saksi-saksi. "Belum ada tersangka. Kami juga sudah menyurati BPK untuk melakukan audit," kata Fajar didampingi Kasubdit Tipikor Ditreskrimsus Polda Kaltim AKBP Ahmad Sulaiman .

Kombes Rosyanto menambahkan, saat ini, sudah 20 orang saksi yang diperiksa dari PT Lampiri-Relis KS0. "Untuk penetapan tersangka nanti setelah dua alat bukti terpenuhi," ujar Rosyanto.

Penyidik masih mengumpulkan alat bukti dan keterangan saksi-saksi.

Putus Kontrak Secara Sepihak

Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Paser Inayatullah, saat dikonfirmasi membenarkan proyek sisi udara Bandara Tana Paser dihentikan secara sepihak oleh Pemkab Paser. Alasanya, realisasi pekerjaan fisik di lapangan tidak sesuai progress fisik yang direncanakan.

"Realisasi fisik di lapangan jauh tertinggal dari progress fisik yang direncanakan. Posisi terakhir (putus kontrak), realisasi fisiknya baru 35 persen dari rencana 80 persen, sehingga kurang lebih 40 persen keterlambatannya," kata Inayatullah.

Sesuai perjanjian kontrak kerja, apabila terjadi keterlambatan, Dishub bersama instansi teknis mengingatkan kontraktor pelaksana sisi udara. Meski semua prosedur sudah dilakukan, tetapi realisasi fisik masih juga tidak bisa terkejar, sehingga akhirnya dilakukan pemutusan kontrak.

"Tiga kali kita rapat, 3 kali juga kita ingatkan, tapi tidak juga bisa mengejar ketertinggalan, akhirnya kita putuskan kontraknya. Meski waktunya masih panjang sampai 31 Agustus 2015, tapi pekerjaan yang dimulai tahun 2011 itu kita perhitungkan tak bisa terkejar sampai akhir waktu kontrak," ucapnya.

Untuk sisi darat, lanjut Inayatullah, 5 Agustus lalu sudah berakhir masa kontraknya dan juga belum menyelesaikan semua pekerjaannya. Meski pihak kontraktor pelaksana sisi darat mengusulkan perpanjangan kontrak, Pemkab Paser memutuskan tidak mengabulkan usulan tersebut.

Terkait kewajiban pembayaran terhadap realisasi fisik sisi darat dan udara, Pemkab Paser meminta BPKP menghitungkan berapa yang harus dibayar. Untuk sisi udara kontrak proyek senilai Rp 380 miliar, yang dibayarkan Rp 120 miliar. Sedangkan sisi darat kontrak proyeknya Rp 44 miliar, yang sudah dibayarkan Rp 15 miliar.

Karena anggaran daerah sudah banyak yang masuk proyek bandara, tentunya mubazir apabila tidak ditelantarkan. Terkait hal itu, Pemkab Paser telah mengusulkan agar pembangunan Bandara Tana Paser dilanjutkan Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI.

"Tahun depan APBN rencananya mengucurkan anggaran melanjurkan pembangunan bandara kita, beberapa bulan lalu mereka sudah meninjau ke lokasi bandara, dan rencananya bulan September ini akan datang lagi untuk mematangkan pekerjaan yang akan dilaksanakan," pungkasnya. (*)

***

UPDATE berita eksklusif, terbaru, unik dan menarik dari Kalimantan. Cukup likes fan page  fb TribunKaltim.co  atau follow twitter  @tribunkaltim

Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved