Kabut Asap

Tiga Hari Berturut-turut Maskapai Ini Tunda Penerbangan

Apa yang dilakukan memang sudah sesuai dengan prosedur kita tidak bisa melakukan penerbangan yang terlalu berisiko

Tiga Hari Berturut-turut Maskapai Ini Tunda Penerbangan
TRIBUN KALTIM/MARGARET SARITA
Tampak kabut asap menyelimuti runway bandara Tanjung Harapan (Bulungan) dan beberapa wilayah lain di Tanjung Selor. Foto diambil dari Jl Agathis, Minggu (29/8/2015). 

Laporan wartawan Tribun Kaltim, Rudy Firmanto

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Akibat kabut asap yang terus menebal menyelimuti sebagian bandara di wilayah Kalimantan membuat jadwal penerbangan menjadi kacau, tak terkecuali pada maskapai Garuda Indonesia yang secara tiga hari Berturut-turut harus menunda penerbangan Rute Balikpapan-Palangkaraya.

Seperti diketahui Maskapai Garuda Indonesi pada Senin (31/8/2015) menunda penerbangan yang seharusnya berangkat pukul 06.15 wita baru diberangkatkan pada pukul 10.30 wita.

Selasa (1/?/2015) sesuai jadwal berangkat pukul 06.15 ditunda selama 5 jam lebih dan baru diberangkatkan pukul 11.45 wita. (baca juga: Senangnya Para Murid SLB Ini Duduk di Kursi Dewan yang Empuk )

Dan Rabu (2/9/2015) lagi-lagi terpaksa menunda penerbangan selama 7 jam lebih atau baru diberangkatkan pukul 13.41 wita dari jadwal seharusnya 06.15 wita.

Manager Operasional Garuda Indonesia Wahyu Eko Priyatno mengatakan pihak dengan terpaksa melakukan penundaan penerbangan akibat kabut asap yang menyelimuti bandara tjillik Riwut Palangkaraya sudah sangat mengkuatirkan sehingga mengurangi jarak pandang hingga 300 meter.

"Apa yang dilakukan memang sudah sesuai dengan prosedur kita tidak bisa melakukan penerbangan yang terlalu berisiko, namanya memang kondisi alam seperti itu, lebih baik ditunda tapi tetap diberangkatkan pada hari yang sama," kata Wahyu.

Secara ideal menurut Wahyu jarak pandang untuk melakukan pendaratan di bandara Palangkaraya. Minimall 1500 meter sebab hal ini sesuai dengan teknologi pesawat yang digunakan yakni jenis ATR dan teknologi yang dimiliki oleh bandara.

"Kalau di Sepinggan 800 meter pun masih legal buat lakukan pendaratan sebab teknologi yang dipakai sudah lebih canggih dari yang lain," pungkasnya. (*)

***

UPDATE berita eksklusif, terbaru, unik dan menarik dari Kalimantan. Cukup likes fan page  fb TribunKaltim.co  atau follow twitter  @tribunkaltim

Penulis: Rudy Firmanto
Editor: Ahmad Bayasut
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved