Di Provinsi Ini Profesionalisme Guru Tersertifikasi Diklaim Sangat Baik
Guru-guru yang sudah mendapat tunjangan profesi uumumnya berkinerja lebih baik, bahkan sangat baik dengan skor persepsi 83,96 persen.
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Jauh dari anggapan masyarakat umum yang masih mengeluhkan kinerja guru, hasil penelitian terakhir ternyata menunjukkan besarnya pengaruh pemberian tunjangan profesi terhadap tingkat profesionalisme guru di Kaltim.
Guru-guru yang sudah mendapat tunjangan profesi menurut hasil penelitian tim Balitbangda Kaltim, umumnya berkinerja lebih baik, bahkan sangat baik dengan skor persepsi 83,96 persen.
Hal itu terungkap dalam seminar hasil penelitian yang disampaikan oleh tim peneliti di aula kantor Balitbangda Kaltim, Senin (14/9). Tim peneliti dipimpin Dr Irwan Gani (Fekon Unmul), dengan anggota Yuli Fitrianto (Balitbangda Kaltim) dan Prof Lambang Subagyo (FKIP Unmul). Pembahas adalah Musyahrim, Kepala Dinas Pendidikan Kaltim, dan narasumber lainnya Prof Dr Susilo (FKIP Unmul).
Sejumlah guru yang menyimak paparan tersebut mengaku gembira dengan hasil penelitian tersebut. Zahra Tanur, Kepala MAN1 Samarinda, misalnya, merasa surprise dengan hasil penelitian ini karena selama ini banyak orang beranggapan sebaliknya.
"Mereka bilang tidak ada pengaruhnya, bahkan kinerjanya turun. Tunjangan profesi hanya membuat para guru ramai-ramai beli mobil. Tapi, penelitian ini terbukti mengungkap yang sebenarnya bahwa profesionalisme guru menjadi sangat baik. Ini luar biasa," kata Zahra.
Hal senada dikemukakan Riniwati, Kepala SDN 028 Selili, Samarinda Ilir. "Pasti bengaruh baik. Itu akan memotivasi kami untuk berkinerja lebih baik."
Sebelum mendapat tunjangan profesi, gaji Rini hanya Rp 4 juta lebih. Kini dengan golongan IIIC, gajinya mendekati Rp 10 juta per bulan. Tapi ia tidak menampik masih adanya guru-guru yang berkinerja tidak sebaik yang diharapkan, meski sudah mendapatkan tunjangan profesi. "Itulah kalau jadi tidak dari sini," sebutnya sambil menunjuk dadanya.
Menurut Irwan Gani, suka tidak suka, hasi penelitian memang menunjukkan seperti itu. "Ini kan soal persepsi, dari para responden yang mengisi kuesioner, memang menghasilkan skor kinerja guru yang sangat baik." Bahkan, indeks kepuasan siswa terhadap guru yang tersertifikasi berada pada kategori sangat puas (83 peren).
Responden adalah para guru dengan jumlah sampel 300 guru TK-SLTA di lima kabupaten/kota, para siswa, dan kepsek. Selain dengan pengisian kuesioner, penggalian data dilakukan daril hasil FGD dan wawancara. Di Samarinda misalnya, wawancara dilakukan di SMPN 1, 2, 4 dan SMAN 1, 2 dan 10.
Meski secara umum kinerja mereka sangat baik, kata Irwan, standar kinerja yang mereka penuhi masih bersifat sekedar memenuhi kewajiban saja. "Belum menjadi budaya kerja yang profesional. Karena itu saya mengatakan 'profesionalisme guru yang sangat baik ini dengan catatan', dan banyak sekali catatannya," tutur Irwan didampingi Yuli Fitrianto kepada Tribunkaltim.co seusai seminar.
Indikasi belum terwujudnya budaya kerja profesional itu, di antaranya, guru mengeluhkan tingginya beban administratif. Hal itu disebutnya mengurangi konsentrasi mereka dalam memenuhi kewajiban utama sebagai guru.
"Saya bisa memahami kalau di masyarakat masih ada keluhan terhadap kinerja guru, karena guru kini lebih disibukkan oleh pemenuhan administrasi. Kepedulian mereka (terhadap siswa sebagai bagian dari kompetensi sosial dan pedagogik) jadi berkurang. Tidak punya cukup banyak waktu lagi untuk menyelami kesulitan setiap anak didiknya," jelasnya.
Ini terutama terjadi pada guru-guru di Samarinda. Kompetensi kepribadian dan profesional umumnya berskor tinggi, antara lain karena berbagai pelatihan metode pengajaran yang banyak diterima oleh para guru di kota. Tetapi, pada sisi lain kompetensi sosial dan pedagogik mereka rendah. "Istilahnya, mereka tidak mengajar dengan hati. Sekedar kewajiban saja," tambah Yuli.
Indikasi lain, guru umumnya menolak mengaitkan secara langsung tunjangan sertifikasi ini dengan peningkatan profesionalisme guru. Guru mempersepsikan tunjangan profesi sebagai upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Artinya, tunjangan profesi hanya berdampak tidak langsung. Juga ada dikotomi guru tersertiofikasi berusia muda dan guru tua. Guru golongan IV merasa "aman" setelah tersertifikasi, sehingga cenderung mengurangi motivasinya menjalankan tugas profesinya.(bin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/sertifikasi-guru_seminar_20150914_225604.jpg)