Citizen Journalism

Kemiskinan, Pembangunan Berkelanjutan, dan Konflik Maritim

KERJA sama para pakar ASEAN dan Asia Timur (Network of East Asian Think-tanks/NEAT) menggelar konferensi tahunan, di Hotel Royal Panghegar Bandung.

Kemiskinan, Pembangunan Berkelanjutan, dan Konflik Maritim
TribunKaltim/Anjas Pratama
Latihan Kesiapan Koarmaritim Menghadapi Aksi Terorisme dilaksanakan Lanal Balikpapan bersama aparat gabungan di Pelabuhan Semayang Balikpapan, Senin (11/5/2015) 

Diskusi bagaimana mengatasi masalah kemiskinan tidak semata menjadi objek yang menarik bagi para pakar dari negara ASEAN atau negara yang masih memiliki banyak penduduk miskin, namun juga sangat memperoleh atensi yang kuat dari negara-negara kaya seperti Jepang, Korea, dan Singapura. Bahkan para pakar dari ketiga negara ini menjadi pembicara kunci bagaimana dan seperti apa proposal mereduksi angka kemiskinan di Indonesia dan negara lain dapat dilakukan justru banyak berasal dari mereka dan berbagi pengalaman dari negara mereka. Ketiga negara ini adalah negara maju yang bangkit dari keterpurukan dan kehancuran setelah perang dunia kedua.

Pembangunan Berkelanjutan

Para pakar juga menyepakati bahwa pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan menuju pencapaian kemakmuran negara ASEAN dan Mitra masih belum sepenuhnya dapat dikendalikan dalam artian bahwa pertumbuhan ekonomi negara ASEAN masih sensitif terhadap pengaruh luar dan belum sepenuhnya bebas dari kondisi keuangan regional dan global sehingga masih diperlukan jalan menciptakan kesatuan ekonomi yang memiliki fondasi yang kuat dan tidak volatile. Perekonomian ASEAN belum kuat, masih sangat volatile alias rapuh.

BACA JUGA: Institusi Lingkungan Wajib Lakukan Kearifan Lokal

Identifikasi para pakar menemukan beberapa negara ASEAN rapuh karena pasar keuangan yang semakin dikuasai asing, sehingga sensitif terhadap pelarian modal apabila terjadi turbulensi politik dan ekonomi.
Masih tingginya tingkat ketergantungan perekonomiannya terhadap ekspor SDA dan pertanian di mana sangat rentan terhadap berbagai perubahan iklim dan pasar, atau dapat juga disebut masih lemah input teknologi, sehingga tidak memiliki daya saing yang tinggi. Indonesia berada pada posisi yang terlemah dalam hal nilai tambah sumber daya.

Indonesia sebagai suatu contoh negara yang sangat tergantung pada ekspor SDA primer dalam pembangunannya sementara peran industri berbasis teknologi masih rendah, sehingga ketika SDA tersebut habis maka negara akan kehilangan sumber pendapatnya juga. Ekspor hasil hutan, batu bara, atau migas suatu contoh yang baik bagaimana perekonomian Indonesia mudah demam dengan anjloknya ekspor bahan alam.

BACA JUGA: Mewujudkan Poros Maritim Dunia TNI Perlu Penambahan Alutsista

Para pakar sepakat mendorong agar ASEAN dan mitra meningkatkan transformasi teknologi dan keuangan bersama melalui peningkatan kerjasama pendidikan dan penelitian yang akan mengurangi gap atau jurang penguasaan teknologi sesama ASEAN dan Mitra. Peningkatan kerja sama antar universitas di ASEAN dan Mitra adalah salah satu solusi yang disarankan dalam mengurangi kesenjangan sumber daya manusia berkualitas di ASEAN dan Mitra.

Kerja sama Maritim

Persoalan maritim menjadi menarik dalam diskusi para pakar bukan karena Indonesia hendak membangun poros maritim sebagaimana cita-cita Presiden Joko Widodo, tetapi karena masalah maritim adalah merupakan masalah utama yang menjadi "duri dalam daging" masyarakat ASEAN dengan mitra, terutama di Laut China Selatan antara Taiwan, Jepang, China, Filipina. Para pakar melihat persoalan Laut China Selatan sebagai bom waktu yang jika tidak diselesaikan dengan baik dapat menjadi sumber perang, apalagi wilayah ini kaya akan sumber daya minyak dan gas yang menjadi sumber sengketa.

Halaman
123
Editor: Amalia Husnul Arofiati
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved