Citizen Journalism

Kemiskinan, Pembangunan Berkelanjutan, dan Konflik Maritim

KERJA sama para pakar ASEAN dan Asia Timur (Network of East Asian Think-tanks/NEAT) menggelar konferensi tahunan, di Hotel Royal Panghegar Bandung.

Kemiskinan, Pembangunan Berkelanjutan, dan Konflik Maritim
TribunKaltim/Anjas Pratama
Latihan Kesiapan Koarmaritim Menghadapi Aksi Terorisme dilaksanakan Lanal Balikpapan bersama aparat gabungan di Pelabuhan Semayang Balikpapan, Senin (11/5/2015) 

Para pakar sepakat menyarankan agar pertemuan-pertemuan diintensifkan guna mencari kesepahaman dan mencegah perluasan konflik untuk semakin terbuka. Bahwa semakin sering berdialog dalam semangat ASEAN dan Mitra Dialog dan menyusun proposal bersama bagi kawasan maritim yang dipersengketakan merupakan suatu solusi terbaik bagi penciptaan kawasan yang damai. Walaupun klaim suatu negara atas wilayah tertentu masih kuat dan cenderung dikontra klaim oleh yang lain, namun semua bersepakat merekomendasikan bahwa penggunaan jalur diplomasi adalah jalan yang harus ditempuh dan yang terbaik dibanding propaganda kekuatan militer.

BACA JUGA: Kisah Pakar Maritim Dicurigai sebagai Intel CIA lalu Ditahan 38 Hari

Persoalan maritim lainnya adalah pengamanan jalur pelayaran, mengamankan jalur perdagangan dari upaya-upaya perampokan dan pembajakan dari lautan Hindia, Selat Malaka, Karimata, sampai Laut China Selatan dan Jepang. Jalur ini merpakan jalur perdagangan terpadat saat ini sehingga pemerintah ASEAN dan Mitra meningkatkan patroli dan pengamanan mereka di wilayah masing-masing. Masalah lain terkait maritim adalah membangun upaya-upaya mencegah kerusakan sumber daya pantai, perairan, coral, dan konservasi wilayah-wilayah yang rawan gangguan.

Negara-negara ASEAN menyadari bahwa wilayah pantai merupakan objek sangat penting dalam menarik minat wisatawan asing sehingga para pakar menyepakati untuk menjadikan maritim sebagai unggulan wisatawan ASEAN untuk dilindungi dan dipelihara bagi kelangsungan pembangunan. Thailand, Indonesia, Malaysia dan Vietnam merupakan negara yang sangat banyak menerima wisatawan karena keindahan laut dan pantai yang mereka miliki sehingga diperlukan kerja sama penelitian dalam mencari cara untuk melindungi kawasan pantai dan segala kekayaan yang terdapat didalamnya, diperlukan upaya bersama untuk mencegah terjadinya perusakan, dan diperlukan upaya bersama untuk mencegah terjadinya penggunaan bahan berbahaya dalam penangkapan ikan, mencegah terjadinya overfishing dan illegal fishing.

Dengan menyadari bahwa kekuatan ekonomi ASEAN dan mitra tidak semata-mata ada di daratan melainkan sangat tergantung kepada maritim maka para pakar sepakat merekomendasikan untuk semakin meningkatkan penggunaan kekayaan laut yang semakin bertanggung jawab dan lestari dan menciptakan alur pelayaran yang aman dan bebas dari gangguan, dan merekomendasikan agar masing-masing negara semakin terbuka dalam informasi pemanfaatan kelautan dan perikanan yang mereka miliki.

BACA JUGA: Pemprov Kaltim Sediakan Lahan di Pendingin untuk Pangkalan Maritim

Ilmuwan Hanya Memberi Rekomendasi

Sebagai suatu forum internasional yang merupakan wadah bagi para pakar untuk menghasilkan buah-buah pemikiran yang berbasis pengalaman, tentu disana-sini akan ditemukan hal-hal yang bagi para politisi atau birokrat apalagi diplomat sulit dipahami. Para pakar yang berbicara dengan mengedepankan fakta-fakta ilmiah yang melampaui sekat politik dan birokrasi dan batas geografi negara tidak selamanya sejalan dengan diplomasi dan politik. Itulah indahnya pertemuan para ilmuan yang mana bicaranya hanya dibatasi keterbatasan fakta ilmiah yang dimilikinya, dan metodologi yang digunakan. Para ilmuwan bekerja dan telah berdiskusi menyamakan fakta dan membuat rekomendasi menuju Asia Timur yang lebih baik namun bagaimana hasilnya kemudian hari ada di tangan para pemimpin negara-negara di kawasan ini.

Tapi berdiskusi secara mendalam berdasarkan kepakaran dan fakta lapangan dalam forum yang beragam bangsa dan bahasa adalah suatu kemajuan nyata bagi masyarakat ASEAN dan Mitra dialognya bahwa para pakar menyadari persaudaraan di antara mereka dalam membangun masa depan bersama yang lebih baik. (*)

Editor: Amalia Husnul Arofiati
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved