Salam Tribun

Kreatif saat Terdesak

BERAGAM produk batik khas Kalimantan Timur berkualitas dipajang di sisi kanan lobby Guest House Pemprov Kaltim di Jl Syarifuddin Yoes Balikpapan.

Penulis: Fransina Luhukay | Editor: Amalia Husnul A

 BERAGAM produk batik khas Kalimantan Timur berkualitas dipajang di sisi kanan lobby Guest House Pemprov Kaltim di Jl Syarifuddin Yoes Balikpapan. Ada busana, tas, selendang, sepatu, dan lainnya. Pagi itu -Februari 2015--seorang perempuan sibuk menatanya. Tak banyak yang mengetahui, perempuan berjilbab yang enerjik itu ternyata seorang planolog.

Dia adalah Fanti WN. Ia bukan perempuan yang fashionable. Penampilannya juga biasa saja dan sederhana.
Begitu lulus dari Universitas Diponegoro Semarang ia sempat bekerja sesuai disiplin ilmunya. Ia bersama beberapa rekan mendirikan bisnis konsultan perencanaan, namun tidak bertahan karena tidak mudah berkongsi.

Setelah menikah, ia pun harus perpindah-pindah kota mengikuti sang suami yang dimutasi. Secara ekonomi, keluarga ini boleh disebut sangat berkecukupan. Jadi sebenarnya tidak masalah jika Fanti tidak bekerja atau berkarir.
Namun potensi alami yang dianugerahkan Sang Pencipta dalam dirinya sulit dibendung.

BACA JUGA: Hati-hati! Terlalu Kreatif Bisa Berisiko Gila

Diam-diam dengan modal terbilang minim, ia mengembangkan potensi diri dan mengasah kreativitasnya merintis usaha batik khas Kaltim. Itu dimulai dengan mengambil barang dari Jawa lalu menjual kepada rekan-rekannya. Seiring perjalanan waktu, ia bukan hanya menjalankan fungsi marketing namun juga mendesain. Bahkan hingga kini sudah lebih 100 motif batik khas Kaltim didesainnya.

Secara otodidak, Fanti terus mengembangkan usaha sesuai passion-nya. Alhasil, ia sudah mendirikan workshop sendiri, serta memiliki galeri dan butik di beberapa kota di Indonesia. Intinya semangat berkreasi dan berinovasi membawa produknya tidak hanya ke pasar nasional namun juga internasional. Fanti menyebutnya "demi eksistensi diri".
Krisis perekonomian global kini berimbas pada Indonesia. Secara nasional perekonomian negeri ini turut melambat.

Bukan krisis. Meski begitu, dampaknya sangat dirasakan sebagian kalangan masyarakat. Perusahaan pertambangan yang 'meredup' menyebabkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang diperkirakan masih terus berlanjut. Percayalah, PHK bukan akhir segalanya. Justru di tengah kondisi terdesak --oleh tuntutan ekonomi keluarga-- justru muncul kreativitas dari diri sendiri yang selama ini mungkin dinomorsekiankan. Ada potensi keterampilan alamiah dalam diri manusia yang jika fokus dikembangkan secara maksimal dapat menjadi jaminan masa depan perekonomian keluarga.

BACA JUGA: Batik Khas Balikpapan Ditampilkan dalam Pameran Produk Jawa Timur

Memotivasi masyarakat berkreasi dan berinovasi, 11-13 September kemarin Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Balikpapan menyelenggarakan Festival Panganan dan Desain Cinderamata Khas Balikpapan di atrium e-Walk Balikpapan Superblock. Terdapat sekitar 130 stand.

SKPD yang dipimpin Doortje Marpaung itu memberi ruang kepada masyarakat kelompok Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM) terus berkreasi dan berinovasi di tengah melambatnya perekonomian sehingga bisa survive, tetap eksis dan tidak tergilas produk (mungkin) sejenis dari luar daerah bahkan impor yang beredar di pasaran lokal. Sebaliknya, produk lokal yang mesti menembus pasar nasional bahkan internasional.

Festival ini juga untuk menyiapkan masyarakat menjelang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Boleh disebut festival ini sebagai ajang pelatihan dan evaluasi untuk mengetahui mana produk yang berkualitas internasional dan mana yang harus segera dibenahi. Bagi Doortje, event ini merupakan pelatihan bagi para pemula. Artinya, Disperindag akan terus melakukan pembinaan. So, teruslah berkreasi dan berinovasi mengembangkan potensi diri dan keterampilan yang dimiliki secara positif. Hasilnya pasti lebih menakjubkan.(*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved