Rizal Ramli Nilai Harga Avtur Pertamina Terlampau Kemahalan

Rizal meminta Pertamina berinisiatif menurunkan harga bahan bakar avtur.

Rizal Ramli Nilai Harga Avtur Pertamina Terlampau Kemahalan
Harian Warta Kota/Henry Lopulalan
Menko Kemaritiman Rizal Ramli 

TRIBUNKALTIM.CO - Kenaikan harga bahan bakar pesawat yaitu avtur menuai sorotan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli.

Rizal meminta Pertamina berinisiatif menurunkan harga bahan bakar avtur. Menurut Rizal, harga avtur Pertamina saat ini terlampau kemahalan.

"Pertamina ambil inisiatif lah jangan terlalu mahal, misalnya kalau nanti (maskapai) bukan beli dari Pertamina ya rugi Pertaminanya," ujar Rizal di Kantor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, Kamis (15/9/2015).

Dia membenarkan ucapan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan yang menyebut harga avtur dari Pertamina hampir 20 persen lebih mahal ketimbang harga avtur di Singapura. Memang, kata dia, dalam penentuan harga avtur itu ada Pajak Pertambahan Nilai (PPN), namun seharusnya harga avtur tak semahal saat ini.

"Memang harga avtur yang dijual Pertamina, lebih mahal dari internasional. Memang ada komponen PPN 10 persen. Mestinya harga avtur bisa dikurangi paling gak 12 persen," kata dia.

BACA JUGA: Belasan Jadwal Penerbangan di Bandara SAMS Sepinggan Terganggu Setiap Hari

Seorang penumpang menyaksikan aktivitas pesawat di runway dari ruang tunggu penumpang Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Kalimantan Timur, Minggu (4/10/2014). (Foto: TribunKaltim.co/Fachmi Rachman)

Sementara itu Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero) Ahmad Bambang sudah memberikan penjelasan mengenai harga avtur Pertamina yang lebih mahal jika dibandingkan dengan Singapura. Sebab, harga pokoknya memang lebih tinggi lima persen dari impor karena kilang yang sangat tua.

"Lalu, ada biaya konsesi AP (Angkasa Pura), ada sewa peralatan dan pajak-pajak. Tetapi, dibanding Filipina, Kamboja, Vietnam, dan lain-lain, kita masih lebih murah," kata Ahmad saat dihubungi Kompas.com, Minggu (13/9/2015).

Di samping itu, lanjut Ahmad, ada subsidi silang terkait dengan lokasi-lokasi lain yang tidak ekonomis, tetapi harus tetap dilayani. Mahalnya harga avtur Pertamina juga disebabkan adanya biaya padat karya akibat tidak diperkenankannya full automation system yang berdampak terhadap pengurangan tenaga kerja. (Yoga Sukmana)

***

UPDATE berita eksklusif, terbaru, unik dan menarik dari Kalimantan. Cukup likes fan page  fb TribunKaltim.co  atau follow twitter  @tribunkaltim


Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved