Breaking News

Berita Eksklusif

Pedagang Hewan Kurban Ini Tidur Bareng Sapi

Sapi-sapi itu asyik melahap rumput di atas tanah lapang seluas 2 hektare.

Penulis: Cornel Dimas Satrio Kusbiananto |
TRIBUN KALTIM/FACHMI RACHMAN
Sapi bangbros terberat yang dijual dengan harga Rp 65 juta seekor. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA -  Sekitar 100 ekor sapi terlihat di tepi Jalan Jakarta, Samarinda, Minggu (20/9/2015).

Sapi-sapi itu asyik melahap rumput di atas tanah lapang seluas 2 hektare. Tampak pula seorang pria bertelanjang dada sedang beristirahat di tengah kawanan sapi.

Beratap terpal dan beralaskan banner bekas, Baharuddin (35) seperti kelelahan dan kepanasan. Padahal matahari terhalang kabut asap pekat yang menyelimuti langit Kota Tepian.

Baharuddin adalah satu di antara para pedagang sapi kurban di kawasan itu. Sejak Agustus lalu ia sudah berada di Samarinda menjual hewan kurban.

"Saya sudah biasa begini, hari-hari tidur bareng sapi. Kami ke sini merantau, nggak punya keluarga di sini. Makanya kami tidur di sini juga sekalian jaga sapi," ucap pedagang asal Mamuju, Sulawesi Barat itu.

Meski menjadi perantau, Samarinda bukanlah kota yang asing baginya. Bahar -- sapaan akrabnya, sudah sekitar 20 tahunan menjual sapinya di kota tepian tiap jelang lebaran haji. Saking lamanya, ia sudah hapal sudut jalan Samarinda. Bahkan ia mengaku paham dan bisa berbahasa setempat.

Baca: Pedagang Sapi Kurban Raup Untung Rp 500 Juta

"Saya sudah lama jualan di sini. Jangankan hapal jalanan, bahasa sini aja saya tahu. Saya bisa bahasa Kutai dan Banjar, karena pelanggan saya banyak pakai bahasa itu. Itu salah satu kelebihan, jadi kita sudah mengerti kondisi strategis lah," ungkapnya.

Menjadi penjual sapi musiman sudah ditekuninya sejak SMP. Ia mengatakan saat itu sering ikut ayah dan saudaranya menjual sapi musiman di Samarinda. Seiring berjalannya waktu, tak ada lokasi tetapnya berjualan sapi. Mulai dari Sempaja, Bukit Pinang, hingga Samarinda Seberang sudah pernah ditempatinya.

Pasalnya setahun kemudian, lahan kosong yang pernah ditempati itu sudah menjadi bangunan beton. Akibtanya ia terpaksa harus berjualan nomaden.

Bahar mengaku nekat berjualan sapi merantau ke Samarinda lantaran kebutuhan sapi di ibukota Kaltim itu sangat tinggi dibandingkan kota-kota lain di sekitarnya. Apalagi menurutnya, masyarakat pedesaan Kaltim jarang membudidayakan ternak sapi, sehingga kebutuhan sapi didatangkan dari luar.

Kini ia berjualan di Jalan Jakarta, Samarinda. Kebetulan di tempat itu masih ada lahan kosong seluas 2 hektare.

"Iya saya di sini sejak awal Agustus lalu. Lahan ini saya sewa 10 juta selama sebulan setengah. Kebetulan tempat ini letaknya strategis dan ada lahan kosong, jadi bisa tempatkan sapi-sapi saya," ujarnya.

Tiap tahunnya ia menjual 100 ekor sapi yang dibawa dari Mamuju. Sapi diangkut menggunakan 2 unit truk ban 10 dan 4 unit truk ban 6. Truk kemudian menumpang kapal ferry dari Mamuju ke Balikpapan. Perjalanan memakan waktu satu hari satu malam. (*)

***

UPDATE berita eksklusif, terkini, unik dan menarik dari Kalimantan.

Like fb TribunKaltim.co 

Follow  @tribunkaltim 

Tonton Video Youtube TribunKaltim

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved