Salam Tribun

Air, Api dan Asap

BENCANA di negeri ini seolah tiada henti. Jika hujan entah lebat atau sedang pasti terjadi banjir.

Penulis: Mathias Masan Ola | Editor: Amalia Husnul A
AP PHOTO
Ilustrasi. Petugas berupaya memadamkan kebakaran hutan di Ogan Ilir, Sumatera Selatan, 5 September 2015. Kebakaran hutan disebabkan oleh pembersihan lahan secara ilegal di Sumatera dan kalimantan. 

BENCANA di negeri ini seolah tiada henti. Jika hujan entah lebat atau sedang pasti terjadi banjir. Terutama di daerah-daerah yang menjadi langganan banjir, seperti Kota Samarinda, Tenggarong dan beberapa daerah lain. Setiap tahun tatkala turun hujan dan menimbulkan banjir ada saja korban jiwa berjatuhan.

Sebaliknya jika tidak turun hujan dalam jangka waktu yang lama, atau kemarau panjang pasti akan terjadi kekeringan yang membuat sumur-sumur warga atau sungai-sungai menjadi surut bahkan kering,.meski itu Sungai Mahakam sekalipun.

Akibatnya kekeringan melanda negeri ini. Warga menjadi sulit mendapatkan air bersih. Kalaupun ada air, warga harus merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli air. Kemarau kali ini terhitung cukup parah karena sungai dan danau yang selama ini menjadi sumber air bagi warga surut dan kering.

Karena panas dan kering, puluhan bahkan ratusan hektare sawah mengalami gagal panen dan menimbulkan kerugian besar bagi petani, juga konsumen karena produksi turun sehingga harga beras akan naik. Lebih lanjut kekeringan ini akan memicu munculnya titik-titik api (hotspot) di berbagai daerah, sehingga bencana kebakaran sangat potensial terjadi. Dan kebakaran itu memang sudah terjadi.

Dampaknya, terutama kebakaran hutan sangat banyak. Berbagai jenis satwa yang hidup di hutan-hutan itu menjadi korban, entah terbakar lalu mati atau terusir dari habitatnya. Ini amat disayangkan. Belum lagi tumbuhan langka, pepohonan yang menghasilkan kayu-kayu kelas satu, seperti ulin, bengkirai, meranti dan lainnya yang tumbuh di hutan-hutan Kalimantan ikut terbakar.

BACA JUGA: Garap Coastal Road, Investor Siapkan Rp 23,4 Triliun

Kebakaran hutan ini tidak saja disebabkan kondisi alam yang panas dan dipicu angin kencang yang memudahkan titik-titik api itu membesar, tapi juga karena ulah manusia, warga yang membuka lahan dengan cara membakar.
Dan asap putih bahkan pekat karena kebakaran hutan itu kini selalu menyambut warga setiap pagi hingga petang bahkan hingga sore. Bukan hanya menghiasi langit Kalimantan tapi juga menyeberang ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunai dan lainnya.

***
Air, jika melimpah bisa menjadi berkah, bisa juga menjadi bencana. Tinggal bagaimana manusia dalam hal ini pemerintah mengelolanya demi kesejahteraan warga. Kita tahu pada musim hujan air melimpah hingga terbuang-buang. Namun ketika kemarau datang, air sangat sulit didapat.

BACA JUGA: Ice House, Inilah Desain Rumah Masa Depan di Mars

Mengapa pada musim hujan kita tidak menampung air sebanyak-banyaknya sebagai bekal di musim kemarau?
Memang saat ini pemerintah telah membangun banyak bendungan untuk menampung air hujan. Namun nyatanya itu belum cukup mengatasi masalah kekeringan di musim kemarau. Jika demikian mengapa tak dibangun bendungan baru yang berkapasitas lebih besar, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Warga juga diimbau agar tidak boros memanfaatkan air. Berhematlah!

***
Asap, sudah pasti menimbulkan bencana. Merugikan banyak pihak dalam berbagai bidang. Aktivitas warga menjadi terbatas, penerbangan terganggu, banyak agenda terpaksa dibatalkan. Udara menjadi tidak sehat, berpotensi menimbulkan penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang bisa menyerang siapapun. Dan yang paling rawan adalah anak-anak.

LIHAT JUGA: VIDEO- Menggemaskan, Bayi Cerdas Ini Tahu Cara Aman Turun dari Tempat Tidur

***

Kita yakin bahwa pemerintah sedang berupaya mengatasi segala gangguan alam ini, dengan memanfaatkan secara maksimal segala daya, SDM, teknologi, dan terutama meningkatkan pemahaman warga akan dampak dari berbagai bencana ini sehingga mereka menyadari bahwa membakar hutan itu sangat merugikan dan membahayakan. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved