Salam Tribun

Menanti Sang Hujan

PANAS nian kemarau ini. Rumput-rumput pun merintih sedih. Resah tak berdaya di terik sang surya. Bagaikan dalam neraka.

Editor: Amalia Husnul A
TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HP
Warga Sambutan antre air bersih lantaran musim kemarau dan adanya intrusi air laut ke Sungai Mahakam. 

PANAS nian kemarau ini. Rumput-rumput pun merintih sedih. Resah tak berdaya di terik sang surya. Bagaikan dalam neraka. Curah hujan yang dinanti-nanti. Tiada juga datang menitik. Kering dan gersang menerpa bumi yang panas bagai dalam neraka. Mengapa... mengapa hutanku hilang. Dan tak pernah tumbuh lagi. Mengapa, mengapa hutanku hilang, dan tak pernah tumbuh lagi.

Kalimat di atas merupakan cuplikan lirik Kemarau yang dipopulerkan grup band jadul papan atas Indonesia, New Rollies (sebelumnya The Rollies). Lagu ini ngehits di tahun 1970-an dan mendapat penghargaan Kalpataru pada 1979.

Meski lagu jadul namun lirik tersebut terasa sangat 'kekinian'. Terlebih di saat ini ketika warga sebagian wilayah Indonesia terutama yang bermukim di Pulau Kalimantan dan Sumatera menderita sesak napas akibat kabut asap yang tiba-tiba datang tanpa permisi.

BACA JUGA: Sebelum Bisul Membesar dan Parah, Obati dengan Cara Alami Ini

Sejak beberapa bulan terakhir, kabut asap menyerang beberapa wilayah di Kalimantan dan Sumatera. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah kebakaran hutan. Kejadian ini selalu berulang setiap tahun dan yang dituduh jadi biang kerok adalah El Nino, yaitu meningkatnya suhu permukaan laut yang biasanya dingin.

Fenomena ini mengakibatkan perairan yang tadinya kaya akan ikan akibat adanya upwelling atau arus naik permukaan yang membawa banyak nutrien dari dasar menjadi sedikit jumlah ikan di perairan tersebut.

Dampak yang paling nyata dari fenomena El Nino adalah kekeringan di Indonesia yang menyebabkan langkanya air di sejumlah daerah dan kemudian berakibat pada penurunan produksi pertanian lantaran tertundanya masa tanam.

BACA JUGA: Raul Siapkan Kepala Buat Jebol Gawang Persib

Padahal meluasnya kebakaran hutan yang terjadi di beberapa wilayah di Kalimantan dan Sumatera juga diindikasikan sebagai salah satu dampak dari fenomena El Nino tersebut. Hal itu dilakukan oleh para manusia serakah yang membakar lahan demi kepentingan ekonomi.

Imbasnya, semua rakyat yang tak berdosa kena getah. Kebanyakan malah anak-anak balita yang jadi korban. Kasus balita menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) terus meningkat. Stok pangan terus menipis dan harganya melangit. Pedagang berkilah, "Petani gagal panen jadi hasil bumi susah didapat."

Lantas jalan singkat yang biasanya dilakukan adalah doa minta hujan yang dilakukan berjamaah di seantero Indonesia. Agar Tuhan segera menurunkan hujan untuk meringankan penderitaan manusia di bumi ini. Hutan yang terbakar (baca: dibakar) bisa padam apinya. Kemudian kabut asap yang menghalangi jarak pandang, menimbulkan penyakit, juga kekeringan akibat kemarau yang berkepanjangan bisa berhenti dan kembali menyuburkan tanah.

BACA JUGA: Ini Risikonya Membuat Tato di Tubuh

Doa yang diminta pun dikabulkan. Hujan sempat turun walau hanya sebentar. Tetapi kabut asap masih bergentayangan. Dan kita pun meminta lagi, "Semoga hujan turun lagi lebih deras." Kelak jika hal ini dikabulkan, juga akan timbul masalah baru.

Berdoa sangat dianjurkan, apalagi memang hanya kepada Tuhan kita meminta. Tapi sejatinya ada upaya yang lebih komprehensif, antisipatif agar kejadian ini tak berulang. Di mana akar masalahnya sehingga meluasnya titik api (hotspot), penyebaran kabut asap, kekurangan pangan, krisis air bersih bisa tertanggulangi.

Selama manusia hidup, masalah memang selalu ada. Tapi bukan berarti masalah yang kerap muncul adalah masalah lama yang terlupakan. Diabaikan. Timbul pertanyaan lagi, pihak yang berwenang sebenarnya tak mau atau tak mampu? (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved