Salam Tribun

Energi untuk Nanti

Sungguhkah kita memerlukan nuklir sebagai sumber energi listrik kita saat ini? Apakah Indonesia yang kaya ini sudah tak punya alternatif energi?

Penulis: Amalia Husnul A | Editor: Amalia Husnul A
tribunnews/danny permana
Ilustrasi. Aktivis Greenpeace melakukan aksi unjuk rasa di Gedung Kementrian Riset dan Teknologi Indonesia, Jakarta, Senin (5/3/2012) lalu, menolak penggunaan tenaga nuklir untuk pembangkit listrik di Indonesia. Aktivis yang mengenakan baju anti radiasi, masker, dan payung tersebut juga memperingati satu tahun tragedi Fukushima, sekaligus memperingatkan pemerintah Republik Indonesia tentang kemungkinan bencana Fukushima terjadi di Indonesia. 

tribunkaltim.co - Ranting pohon bergoyang bendera pun berkibar, tiupan bayu memutar baling-baling kincir angin. Air mengalir deras dari hulu sampai hilir, arus laut begitu buas di selat juga teluk. Begitulah awal lagu bertajuk Anti Nuklir milik Slank dari album I Slank U repackage yang dirilis tahun 2012 lalu. Secara tegas, Slank menyuarakan penolakan nuklir untuk pemenuhan energi di Indonesia.

Pemanfaatan energi dari inti atom uranium ataupun torium sebagai energi listrik ini, ibarat kue yang sangat menggiurkan bagi warga yang tinggal di Kalimantan atau bahkan luar Jawa pada umumnya. Mengingat wilayah Indonesia (minus Jawa) masih dapat dikatakan krisis listrik.

Tentu sangat menggiurkan karena dengan energi nuklir untuk listrik dapat menghasilkan daya yang cukup besar yang mampu membuat Kalimantan benderang. Bahkan promosinya, Kalimantan bisa suplai listrik untuk negara tetangga. Wah, siapa yang tidak tergoda? Berarti kita tidak perlu lagi ada pemadaman bergilir, tidak perlu khawatir lagi alat-alat elektronik rusak karena tegangan listrik yang turun naik, atau harus repot-repot beli genset.

Namun, sungguhkah kita memerlukan nuklir untuk menjadi sumber energi listrik kita saat ini? Apakah Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam ini sudah tak punya energi alternatif lainnya? Sastrawan Jepang penerima hadiah Nobel Kenzaburo Oe menerangkan, ia mengerti pentingnya tenaga listrik besar untuk pembangunan suatu negara. Tetapi banyak alternatif lain selain membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

BACA JUGA: Lima Rumah di Desa Budaya Hangus

Masyarakat harus sadar tentang bahaya kecelakaan PLTN seperti yang terjadi di Fukushima, Jepang. "Saya tahu betapa besar kebutuhan listrik di Indonesia. Tapi penggunaan nuklir bukan pilihan satu-satunya untuk membangun suatu negara. Masih banyak pilihan lain," kata Kenzaburo Oe.

Tragedi Fukushima terjadi tahun 2012 lalu setelah tsunami besar. Hingga saat ini sedikitnya 160.000 warga Fukushima memilih meninggalkan kota ini lantaran takut anak cucunya akan terpapar radiasi. Di sepanjang kota dipasang alat pemantau tingkat radiasi.

Bukan anti-nuklir karena nuklir juga dimanfaatkan untuk bidang lain seperti bidang kesehatan. Namun, memilih nuklir sebagai energi listrik, seluruh rakyat Indonesia juga harus paham dengan risikonya dan bagaimana hidup di sekitar reaktor. Bukan soal teknologinya.

BACA JUGA: Angkut Lima Penumpang, Helikopter Carteran Hilang Kontak

Indonesia punya Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) yang telah mempunyai beberapa reaktor ujicoba. Indonesia juga banyak orang ahli tentang nuklir. Tapi, jumlah penduduk Indonesia berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) adalah sekitar 237.641.326 jiwa. Kalimantan Timur tercatat jumlah penduduknya 3.553.143 jiwa.

Yang perlu diperhatikan adalah kesiapan sosial masyarakat. Mengutip pernyataan Sulfikar Amir, sosiolog Indonesia yang mengajar di Nanyang Technological University, Singapura, "Sebenarnya Indonesia adalah negara yang paling siap untuk mengembangkan nuklir di Asia Tenggara."

LIHAT JUGA: VIDEO - Wow, Inilah Speaker Seharga Rp 500 Juta

Tapi, seperti dikuti Deutsche Welle, ia menambahkan, para teknokrat selama ini hanya menghitung aspek teknologi dan ekonomi. Tapi tidak bicara risiko sosial. Karena mengoperasikan sebuah sistem yang canggih seperti nuklir membutuhkan sistem kelembagaan yang kuat dan disiplin sangat tinggi. Apakah masyarakat kita sudah terkenal disiplin?

Lihat saja deh di jalan raya, berapa banyak yang masih suka tidak pakai helm. Alasannya tidak ada polisi atau ah...dekat saja kok. Atau urusan buang sampah, Balikpapan yang katanya bersih, masih ada lho yang buang sampah tidak pada tempatnya. Masih ada juga sering membakar sampah. Lantas, kita masih berani 'bermain-main' dengan nuklir? Kita masih punya deretan sumber energi lainnya, panas bumi, solar, tenaga bayu, air dan masih banyak lagi. Nuklir? Sekarang belum, tapi nanti. Masa depan. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved