Salam Tribun

Kisah Muram Lolita

DI sebuah kota kecil yang sepi, New England, Amerika Serikat. Tepatnya di sebuah rumah di Jalan Lawn 342 kisah ini bermula.

TRIBUN KALTIM
Trinilo Umardini 

DI sebuah kota kecil yang sepi, New England, Amerika Serikat. Tepatnya di sebuah rumah di Jalan Lawn 342 kisah ini bermula. Seorang profesor paruh baya yang baru saja keluar dari sanatorium bertemu dengan seorang 'bidadari kecil'.

Humbert, begitu nama profesor itu menyebut Dolores Haze -- gadis kecil berusia 12 tahun-- dengan nama Lolita yang kelak menjadi putri tirinya. Humbert berpendapat kalau Lolita merupakan reinkarnasi gadis bernama Annabel Leigh yang ia temui ketika masih remaja yang telah meninggal dunia.

Setelah beremigrasi ke Amerika Serikat, Humbert mengalami mental breakdown. Singkat cerita, Humbert menikahi Charlotte, ibu Lolita yang kemudian tewas tertabrak mobil.

Humbert mengasuh Lolita dengan cara yang aneh. Ia mencintai putri tirinya. Selama dua tahun Humbert tinggal bersama Lolita dari satu tempat ke tempat lain. Hidup mereka dihantui oleh perasaan takut dan cemburu yang berlebihan, sampai akhirnya gadis itu melarikan diri dengan bantuan seorang yang tidak diketahui.

Kisah ini merupakan nukilan dari novel berjudul Lolita karya penulis Rusia Vladimir Nabokov. Meskipun novel ini menjadi salah satu karya sastra terbaik sepanjang sejarah, tapi novel ini pertama kali dilarang di Perancis, negara dimana novel tersebut diterbitkan lantaran tokoh protagonis merupakan seorang pedofil.


TRIBUN KALTIM/TRINILO UMARDINI -- Novel sastra Lolita karya penulis Rusia Vladimir Nabokov.

Baca: Anak-anak Korban Pelecehan Seksual Ini Curhat Lewat Tulisan di ...

Istilah Lolita kemudian seringkali digunakan untuk menggambarkan anak perempuan di bawah umur, umumnya berusia sekitar 12 tahun. Kemudian muncul istilah lolicon atau lolita complex, istilah untuk mereka yang menyukai gadis di bawah umur.

Novel berdasarkan kisah nyata ini ditulis pada 1950-an. Sangat jauh di rentang waktu yang lampau dengan jarak tempat peristiwa yang juga lebar. Namun terasa ada kekinian, kalau tidak mau dibilang everlasting. Plus dengan proximity yang begitu kental.

Di rentang waktu sebulan tahun 2015 ini, di berbagai wilayah di Indonesia, tak terkecuali di provinsi tercinta ini, kasus kekerasan terhadap anak begitu membuncah. Lebih spesifik lagi, pelecehan seksual terhadap anak.

Belum lupa kasus perkosaan gadis cilik yang dibunuh secara sadis dan dibuang ke dalam kardus di Jakarta oleh tetangganya sendiri, hanya jeda sebentar peristiwa memprihatinkan terjadi di Balikpapan.

Baca: Hebat, Polwan India Hukum Pelaku Pelecehan Seksual di Depan ...

Seorang caleg gagal yang juga tokoh masyarakat melakukan pencabulan kepada tiga anak. Padahal sang tokoh ini juga memiliki anak dan cucu yang notabene usianya sebaya dengan anak-anak yang dicabuli. Betapa mengerikan mengatahui ada predator seks di sekitar kita dengan orang-orang yang seharusnya kita percayai.


KOMPAS -- Ilustrasi

Di Kabupaten Nunukan, hingga Oktober ini, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Nunukan telah menangani 8 kasus kejahatan asusila yang melibatkan anak. Empat kasus di antaranya terkait dengan perdagangan orang. Kemudian satu kasus pelecehan seksual dan satu kasus hubungan sedarah (incest).

Sebagai sebuah rekaman peristiwa, tak diragukan lagi "Lolita" akan menjadi sebuah kasus klasik dalam ilmu kejiwaan.

Kisah muram "Lolita" seharusnya membuat kita semua para orangtua, pekerja sosial, pendidik, aparat pemerintah, meningkatkan wawasan dan kewaspadaan dalam menunaikan tugas membesarkan generasi yang lebih baik dalam sebuah dunia lebih yang aman. (*)

***

UPDATE berita eksklusif, terkini, unik dan menarik dari Kalimantan. Like fb TribunKaltim.co  Follow  @tribunkaltim Tonton Video Youtube TribunKaltim


Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved