Salam Tribun

Menunggu Kereta

Di Indonesia, perkembangan kereta sangat lamban. Kereta hanyalah cerita kemewahan anak-anak yang tinggal di Jawa.

Penulis: Amalia Husnul A | Editor: Amalia Husnul A
iStock-Getty Images
Ilustrasi 

tribunkaltim.co - Lagu anak-anak identik dengan liriknya yang mudah diingat. Temanya pun sederhana, yang berkaitan dengan kehidupan sekitar. Salah satu lagu anak yang populer hingga saat ini adalah Naik Kereta. Simak lirik lagunya, Naik kereta api tut! tut! tut! Siapa hendak turut ke Bandung Surabaya, bolehlah naik dengan percuma. Ayuh kawanku lekas naik, keretaku tak berhenti lama. Dengan nada yang riang gembira, lagu ini menggambarkan keceriaan anak naik kereta. Dalam sejarah dunia, kereta api ditemukan tahun 1784 oleh William Murdoch, seorang ilmuwan Inggris, yang lahir pada 21 Agustus 1754 di Lugar, Skotlandia.

Pada awalnya kereta api dikenal sebagai kereta kuda yang terdiri dari satu rangkaian kereta saja, sehingga dibuat kereta kuda yang dapat menarik beberapa rangkaian kereta. Kereta ini sangat dibutuhkan untuk mengangkut bahan tambang, sehingga kereta ini khusus dioperasikan di daerah pertambangan. Supaya dapat meringankan beban yang diangkut, maka kereta kuda ini berjalan dijalur yang dibuat khusus dari besi dan dinamai trem.

Seiring perkembangan jalan, kereta juga mengalami modernisasi. Tak ada lagi kereta kuda. Kini, kereta cepat juga salah satu moda transportasi andalan antar negara. Satu negara bahkan memiliki beberapa jenis kereta. Tengok saja, Singapura. Negara kecil ini bahkan memiliki dua jenis kereta, ada yang bergerak di bawah tanah dan adapula yang bergerak di atas.

Selain itu, Jepang, ada banyak kereta. Jadwal keretanya pun cukup memusingkan bagi yang belum terbiasa. Kereta jadi salah satu moda transportasi massal andalan yang nyaman karena tidak menggunakan jalan raya yang sesak.

Di Indonesia, perkembangan kereta sangat lamban. Kereta hanyalah cerita kemewahan anak-anak yang tinggal di Jawa. Tak heran jika mereka yang tumbuh di Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua belum pernah merasakan romantisme naik kereta. Bahkan mereka yang sempat mencicipi nikmat, nyaman, dan mewahnya kereta di luar negeri belum tentu pernah merasakan naik kereta di Indonesia.

Tahun ini, Pemerintah Pusat berencana memulai pembangunan kereta api Trans Kalimantan. Proyek ini tentu diharapkan dapat menjadi pembuka isolasi antar kabupaten-kota di Kalimantan. Rakyat tentu saja menunggu kehadiran kereta. Harapannya, agar perjalanan antar kabupaten-kota tidak lagi mahal. Mengingat hingga saat ini, belum ada transportasi massal antar kabupaten-kota. Hanya ada bus dan pesawat udara yang kapasitas angkutnya kecil.

BACA JUGA:  Pembangunan Rel Kereta Api Penumpang Perlu Rp 88 Triliun

Rencana Trans Kalimantan ini akan dipadukan dengan rencana kereta api yang akan dibangun Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak. Awalnya, kereta api Kaltim nantinya hanya untuk mengangkut hasil tambang dan perkebunan. Bukan tidak mendukung, tapi ini mirip sejarah awal kereta pertama yang ditemukan Murdoch tahun 1784. Kenapa hanya untuk tambang dan kebun, sementara antar kabupaten-kota saja belum terhubung? Kalau harus naik pesawat udara berapa biayanya?

Rencana kereta untuk pengangkutan hasil tambang dan kebun akhirnya berubah menjadi kereta api multipurpose yang artinya juga ada kereta penumpang. Trans Kalimantan ini akan melintasi seluruh Kalimantan termasuk dengan Kalimantan Barat (Kalbar) yang selama ini terasa 'jauh' lantaran minimnya akses ke Kalbar. Tentu, proyek ini tidak akan tuntas dalam waktu dekat. Tapi, setidaknya sudah dimulai.

BACA JUGA: Keluarga Ini Terancam Bangkrut karena tak Bayar Tiket Kereta Api

Groundbreaking proyek kereta di Kaltim direncanakan akan dihadiri Presiden RI, Joko Widodo. Bahkan Awang berani menyiapkan helikopter untuk menjemput Jokowi. Memang kehadiran Jokowi bukan hanya untuk proyek kereta. Tapi, sejumlah proyek 'fantastis' lainnya.

Untuk proyek kereta yang menjadi harapan masyarakat, diharapkan para kontraktor serius dalam menggarapnya. Mengingat kereta akan menjadi transportasi massal maka memerlukan tingkat keamanan yang tinggi. Kondisi geografis Kalimantan yang berbukit-bukit tentu perlu perlakuan khusus.

Tentu saja, masyarakat percaya para ahli yang terlibat adalah mereka yang kompeten. Tapi, jangan sampai ada kecurangan dalam proyek ini. Bahkan hanya untuk satu baut saja. Harapan yang tentunya juga berlaku untuk seluruh proyek yang menyangkut hajat hidup orang banyak. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved