Salam Tribun
Kekuatan Doa
Meski hujan tidak sangat lebat, tetapi bumi sudah menerima cucuran air dari atap langit. Segar.
tribunkaltim.co - Kamis (28/10/2015) pagi, lapangan upacara Kodam VI/Mulawarman diubah menjadi tempat shalat. Ratusan aparat keamanan berseragam tentara bebaris membentuk shaft menghadap kiblat. Pemandangan serupa juga ada di markas Kodim 0905 Balikpapan, tak mau ketinggalan warga binaan Lapas Kelas 2 A Balikpapan. Doa serupa juga dilaksanakan di seluruh Kaltim.
Semua begitu kusyuk memanjatkan doa dalam shalat Istisqa: Meminta kepada Allah SWT agar memberi hujan. Allah SWT begitu nyata mendengar permintaan warga Balikpapan! Pukul 02.15 sekitar jam hampir merata hujan datang menyirami Balikpapan. Tentu saja siapapun yang turut serta ikut memanjatkan doa pada shalat Istisqa pada hari Kamis pagi itu layak berbangga bahwa doanya diterima.
Meski hujan tidak sangat lebat, tetapi bumi Balikpapan sudah mencrima cucuran air dari atap langit. Segaarrr! Warga yang mengetahuai ada hujan di tengah malam kemarin sungguh berbahagia. Ini pertanda air hujan yang sudah tiga bulan tidak mengucur nyatanya sudah mulai turun kembali. Rumput-rumput yang kering tampak mulai basah. Atap genting yang semula kering disapu oleh debu, berubah warna jadi segar.
Lebih dari itu warga airnya bergantung dari hujan, sungguh merasa lega. Maklum selama kemarau cukup panjang ini, pengeluaran warga Balikpapan non-pelanggan PDAM membengkak. Biasanya sebulan hanya sekali mengisi tandon, saat hujan yang harganya cuma Rp 40.000, sekarang ini seminggu dua kali membeli air tandon 1.200 liter dengan harga Rp 60.000-70.000, sedangkan air tangki harus dibayar dengan harga antara Rp 30.000-350.000.
BACA JUGA: Sungai Mahakam Surut, Warga Diimbau Sediakan Air dalam Tandon
Hujan memberikan kesejukan, pekerja di Dinas Pertamanan Kota Balikpapan pun agak lega, karena mereka wajib menyiangi tanaman yang menghiasai taman serta pepohonan peneduh di tengah jalan. Pohon-pohon itu terlihat meranggas, rumputnya layu, tanahnya mengering. Sungguh tidak enak dipandang mata. Tanaman hijauan yang bergelantungan di atap Bandara Sepinggan pun mengalami nasib serupa. Akar dan daun yang menyuntai ke bawah jadi hiasan berwarna hijau begitu enak dipandang, kini berubah menjadi coklat kekeringan.
Persoalan musim kemarau di Indonesia pada saat ini ibarat belati bermata dua secara bersamaan menusuk Indonesia. Kekeringan menyebabkan kondisi alam begitu panas. Lahan gambur dan hutan di Indonesia kekurangan pasokan air. Letikan api pun kemudian begitu gampang menyambar daun dan ilalang kering yang setiap saat berkobar menjadi sebuah kebakaran hutan nan luas.
BACA JUGA: Kekeringan, Dua Kelompok Tani Bersitegang Rebutan Air
CIFOR memaparkan risetnya di Riau saja tahun ini, bahwa kebakaran hutan di provinsi itu melepaskan sekitar 1,5 hingga 2 miliar ton karbondioksida. Riau menyumbang 10% emisi gas karbon nasional setiap tahunnya. Kerugian ekonomi akibat kabut asap mencapai sekitar Rp 20 triliun dalam dua bulan, sedangkan Singapura mengklaim kerugian sekitar Rp 16 triliun. Secara nasional diperkirakan jumlah lahan yang yerbakar bisa melebihi 58.000 hektare.
Selama September-Oktober, kerugian diprediksi akan mencapai dua kali lipat, karena merupakan puncak El Nino yang menyebabkan udara dan tanah semakin kering. Indonesia berada di garis kathulistiwa. Cuma punya dua musim, kemarau dan penghujan. Saat kemaraua selalu saja ada jeritan 'siksaan' seperti tersebut di atas. Beruntung di tengah-tengah kesulitan seperti ini aparat TNI begitu sigap membantu negeri ini untuk memadamkan api.
Pemerintah mengerahkan prajurit TNI untuk memadamkan api di hutan. Tentu ini menjadi pelajaran penting selama sekian tahun kita berhadapan dengan kemarau. Tetapi hujan juga tidak kalah 'ganasnya' kemarau. Apabila hujan kali ini turun dengan deras, maka bisa dipastikan effeknya akan jauh lebih berbahaya.
Mengapa puluhan ribu hutan kita gundul akibat terbakar? Kemampuan hutan menahan derasnya air semakin berkurang. Air akan bebas dan leluasan menerjang lahan pemukiman. Pasca kemarau kita panen api dan kebaran, saat hujan kita bakal menuai banjir dan tanah longsor.
BACA JUGA: Dampak El Nino Tahun Ini Diprediksi yang Terparah Sejak 30 Tahun Lalu
Tentu kita masih punya kekuatan: Doa. Semoga musibah tidak terjadi. Tetapi doa akan semakin manjur, manakalah kita mau menerapkan moto ora et labora, berdoa dan bekerja untuk menangkal semua keganasan musim. Berdoa memohon ampunan kepada yang Maha Kuasa, bekerja serius untuk kepentingan sesama umat manusia, serta menyatu dan memelihara lingkungan, agar alam tidak marah kepada kita. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/shalat-istisqa_20151103_235042.jpg)